Jumat, 13 Juli 2012

AKANKAH TERWUJUD MATRA KELIMA INDONESIA ?

Jagat cyber kini bahkan telah didudukkan sebagai matra perang kelima--setelah darat, laut, udara, dan angkasa luar. Inovasi di bidang teknologi telah mengubah taktik dalam konflik di zaman modern dan membuat dunia maya menjadi medan perang terbaru.
Banyak perangkat mutakhir telah dibuat untuk keperluan ini. Dibantu oleh kemajuan teknologi elektromagnetik serta teknologi komunikasi dan informasi, sebuah bentuk pertempuran elektronik telah tercipta dan membuat pemerintahan berbagai negara melihat perang dunia maya sebagai ancaman terbesar di masa depan.
Alon Ben David, analis militer dari Channel 10 Israel menyebutkan: “Jika Anda punya beberapa orang pintar dan sebuah komputer yang bagus, Anda bisa melakukan banyak hal. Anda tidak perlu pesawat udara, tank, pasukan tentara. Anda bisa memasuki negara lain, menciptakan kerusakan besar tanpa perlu meninggalkan kursi empuk Anda,” ucapnya.
Dalam sebuah laporan eksklusif di harian Le Monde Perancis, jurnalis Nicky Hager berhasil menguak keberadaan instalasi Urim milik Unit 8200, yang merupakan salah satu instalasi pengintaian terbesar di dunia, setara dengan instalasi milik Amerika Serikat di Menwith Hill, Yorkshire, Inggris.
Instalasi yang dibangun sejak satu dekade yang lalu itu awalnya hanya bertugas memonitor percakapan internasional di jaringan satelit Intelsat dan stasiun relay telepon antar negara besar. Tapi kini ia juga bertugas mengawasi percakapan via satelit Inmarsat, juga menyadap kabel-kabel bawah laut.
Menurut sumber orang dalam, komputer-komputer di instalasi Negev diprogram untuk dapat memilah-milah kata serta berbagai pesan di percakapan telepon, email, dan data yang diintersepnya. Pesan-pesan yang berhasil disadap itu langsung dikirim ke markas besar Unit 8200 di Camp Glilot di kota Herzliya, sebelah utara Tel Aviv. 
Di tempat itulah pesan-pesan dari berbagai bahasa itu diterjemahkan dan diteruskan ke agen-agen Mossad di negara lain maupun berbagai badan lain yang berkepentingan. 
Yang harus dicatat dari Unit 8200 adalah kekuatan pasukan elite cybernya. Upaya dan obsesi Israel untuk memiliki kekuatan cyber yang handal, telah dimulai sejak 1990-an. Saat itu para peretas (hacker) Israel cuma disodori dua pilihan: masuk bui atau bergabung dengan The Unit. 
Kini, hasilnya tak main-main. Sebuah konsultan di AS memperhitungkan The Unit sebagai salah satu ancaman cyber terbesar dunia, di samping China, Rusia, Iran, dan Perancis. Stuxnet adalah salah satu bukti konkretnya.
Angkatan perang cyber
Kekuatan sebuah angkatan perang cyber ditentukan oleh kemampuan serangan, pertahanan, serta ketergantungan suatu negara terhadap Internet. Dalam buku “Cyber War”, pakar keamanan komputer asal AS dan profesor di Universitas Harvard Richard A. Clarke dan Robert A. Knake memetakan kekuatan negara-negara dalam menghadapi perang cyber.
Amerika Serikat, meski punya kemampuan serangan yang baik, tidak punya kemampuan untuk memutuskan jaringan Internet saat diserang, mengingat sebagian terbesar jaringan Internet di negara ini dimiliki dan dioperasikan oleh swasta. Sebaliknya, China memiliki kemampuan memutus seluruh jaringan Internet di negaranya bila suatu saat diserang. China juga mampu membatasi utilisasi trafik, dengan memutus koneksi dari para pengguna yang tak terlalu berkepentingan.
Namun negara yang dinilai paling mampu bertahan jika terjadi perang dunia maya, menurut Clarke, adalah Korea Utara. Negara ini mampu memutus koneksi Internetnya dengan lebih mudah ketimbang China. Bisa dibilang Korea Utara tak akan mengalami kerugian akibat serangan cyber musuh, karena tak ada infrastruktur kritikal seperti pembangkit listrik, jalur kereta, atau jalur pipa yang tersambung ke Internet.
Lalu, bagaimana dengan Indonesia?
Muhammad Salahuddien, Wakil Ketua Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure known (Id-SIRTII) menyebutkan, perang cyber di negeri ini juga bukanlah hal baru. Sebagaimana perang-perang cyber lain yang mewarnai tensi politik dan hubungan antara Indonesia dengan negara-negara lainnya, Indonesia sudah mulai terlibat perang cyber sejak satu dekade yang lalu--mulai dari perang cyber dengan Portugal pada 1999, dengan Australia, hingga cyberwar dengan Malaysia beberapa tahun terakhir.

Serangan para hacker Indonesia - terhadap 500-an website Malaysia pada hari kemerdekaan mereka kemarin masih saja menjadi buah bibir. Aksi heroik para hacker ini sungguh-sungguh monumental dan menaikkan moral sebagian masyarakat Indonesia yang mengetahui berita aksi tersebut.

Kalau kita mengambil contoh mengalkulasi dampak serangan hacker Indonesia atas situs-situs penting Malaysia. dan didalam ratusan situs yang dilumpuhkan itu adalah situs pemerintah, situs lembaga pendidikan, situs perusahaan, sekuritas, trading, dan masih banyak lagi jenis situs-situs komersial yang menggunakan intsrumen internet sebagai media transaksi.

Mari ambil perkiraan konservatif bahwa masing-masing lembaga yang dimediumi situs tersebut memiliki nilai transaksi antara minimal Rp 100 juta hingga Rp 1 miliar per hari. kita ambil nilai tengahnya Rp 500 juta nilai transaksi per hari, maka dalam sehari saja kerugian yang diderita oleh 500 situs/institusi itu mencapai Rp 250 miliar! Jika sebulan penuh gangguan itu tidak berhasil diatasi, kerugiannya akan mencapai Rp 7,5 triliun.

Hanya sebuah perang kecil yang dijalankan oleh anak-anak SMA atau kuliahan, dikerjakan di warnet-warnet atau dengan komputer-komputer dan laptop pinjaman, dampaknya sudah begitu menusuk ekonomi Malaysia. Anda bisa bayangkan, itu aksi-aksi spontanitas belaka, bukan aksi yang terencana. Asal tahu saja, hacker Indonesia juga pernah menyusupi website Mossad, agen rahasia Israel. Pamor hacker Indonesia kondang sekali di dunia maya.


Dari semua itu perlu adanya peran serta pemerintah dan pihak terkait untuk mengelola talenta-talenta para hacker anak negeri seperti layaknya negara China.


Sumber : http://rixco.multiply.com/journal/item/627/AKANKAH-TERWUJUD-MATRA-KELIMA-INDONESIA- 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar