Kamis, 23 Mei 2013

BERITA FOTO: MENGINTIP KAPAL PERANG KORVET KELAS PARCHIM TNI-AL




Jihad-Defence-Indonesia - Jakarta : Beberapa waktu lalu, ARC memergoki sekumpulan korvet kelas Parchim TNI-AL tengah sandar di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta. Penasaran, kami pun mendekati dan meminta izin komandan kapal untuk naik. Alhamdulillah, izin diberikan. Jadilah kami tur mendadak di Korvet asal Jerman Timur ini.
Secara umum, bisa dibilang korvet ini dalam kondisi baik serta rapi. Menurut Komandan Kapal, semua senjata juga berfungsi baik. Bahkan beberapa persenjataan sudah mengalami modifikasi serta penambahan. Diantaranya penambahan meriam anti serangan udara kaliber 20mm pada belakang super structure kapal. Di jajaran Armada Barat, Korvet kelas parchim tergabung dalam satuan eskorta. Tugas utamanya selain mengawal konvoi adalah memburu kapal selam. Penasaran seperti apa isi Korvet Parchim?, silahkan nikmati jepretan ARC'ers berikut ini.
Sumber : KLIK DISINI

SATUAN KAPAL ANGKUT TNI-AL TARIK PASUKAN LATIHAN GABUNGAN TNI 2013



Jihad-Defence-Indonesia - BIMA  : Berakhirnya kampanye militer dalam Latihan Gabungan (Latgab) TNI tahun 2013, di wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) beberapa waktu lalu, Komando Gabungan (Kogab) TNI berangsur – angsur menarik seluruh kekuatannya dan melakukan konsiladasi personel dan material.

Kemenangan pasukan Kogab telah mengembalikan wilayah Tarakan dan Sangatta, Kaltim dan Bima, NTB kembali kepangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Merah putih berkibar kembali di seluruh penjuru wilayah tersebut, setelah gerombolan pemberontak dapat dihancurkan oleh pasukan gabungan TNI.

Setelah alih Komando dan Kendali (Kodal) dari Panglima Kogab kepada Panglima Komando Wilayah Kodam VI Mulawarman dan Kodam XI Udayana, selanjutnya seluruh kekuatan Kogab TNI kembali ke pangkalan masing-masing. Ribuan pasukan diangkut oleh unsur Kapal Perang Republik Indonesia (KRI), jenis angkut personel dan material Landing Ship Tank (LST) dan Landing Platform Dock (LPD).

Salah satu kapal angkut pasukan tersebut adalah KRI Teluk Banten – 516 yang berada di jajaran Satuan Kapal Amfibi (Satfib) Koarmatim. KRI Teluk Banten mengangkut sekitar 500 pasukan pendarat Marinir dan puluhan Tank Amfibi BTR-57 serta puluhan perahu karet milik Marinir TNI-AL. Kapal perang amphibi tersebut saat ini  memasuki perairan Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS) menuju pangkalan di Dermaga Koarmatim, Ujung, Surabaya, Rabu (22/05).

KRI Teluk Banten merupakan salah satu unsur Latgab TNI yang tergabung dalam Komando Tugas Gabungan Amphibi (Kogasgabfib). Tugas pokok yang diemban adalah mengangkut  dan mendaratkan pasukan Marinir dalam operasi serbuan amfibi di daerah sasaran. Dalam Latgab TNI 2013, Koarmatim mengerahkan 27 kapal perang berbagai jenis di antaranya 1 kapal selam, 8 kapal kombatan, 8 kapal amfibi, 2 kapal LPD, 2 kapal ranjau, 3 kapal patroli cepat dan 3 kapal bantu.

Selain itu kapal perang jajaran TNI-AL lainnya yang turut mendukung Latgab TNI adalah 9 kapal perang dari Koarmabar dan 6 kapal perang dari Kolinlamil yang bertugas untuk mendukung Pendaratan Administrasi (Ratmin). Jumlah totol kapal perang yang terlibat latihan gabungan tersebut sekitar 42 unit. 

Sumber : KLIK DISINI

BELI SENJATA KE INDIA, AFGHANISTAN BUAT KESAL PAKISTAN



Foto : Presiden Afghanistan Hamid Karzai (Reuters)

Jihad-Defence-Indonesia - KABUL : Presiden Afghanistan Hamid Karzai menyerahkan daftar permintaan bantuan militer yang diinginkan negaranya ke India. Namun setiap pembelian senjata yang dilakukan Afghanistan tampaknya tidak akan disikapi dengan baik oleh Pakistan selaku negara tetangga dari dua negara tersebut.

"Kami sudah memberikan daftar permintaan yang kami ajukan ke Pemerintah India, dan saat ini, Pemerintah India akan menentukan keputusannya," ujar Karzai yang sedang berkunjung ke India, seperti dikutip The Independent, Rabu (22/5/2013).

Karzai pun mengakui, keterlibatan India dalam program militer Afghanistan akan menuai kekhawatiran Pakistan yang memiliki hubungan renggang dengan negaranya. Namun Karzai mencoba menjelaskan ke Pakistan bahwa hubungannya dengan India tidak akan ditujukan untuk memojokkan Pakistan.

"Afghanistan adalah negara berdaulat dan seperti halnya negara berdaulat yang lain, kami memiliki hak untuk memilih rekan kerja kami," tutur Karzai.

"Pakistan adalah tetangga kami yang sangat dekat, dan warga Pakistan telah memberikan kami sebuah tempat perlindungan selama 30 tahun. Dan India merupakan kawan, sekaligus sekutu lama Afghanistan," lanjutnya.

Menurut Karzai, di saat Afghanistan mengembangkan hubungan dengan India, Pakistan seharusnya tidak menaruh kecurigaan yang berlebih. Bantuan militer itu juga ditujukan untuk meningkatkan kapabilitas militer India untuk menghadapi Taliban.

Negeri Bollywood memang memiliki program kerja sama militer dengan Afghanistan senilai miliaran dolar Amerika Serikat (AS). Dan saat ini, mereka sedang mendukung proyek rekonstruksi jalan raya dan pembangunan rumah sakit di negara tersebut. India juga melatih polisi-polisi dan militer Afghanistan. 


Sumber : KLIK DISINI

INDIA SUKSES LUNCURKAN RUDAL JELAJAH BRAHMOS DARI KAPAL PERANG



Foto : Misil BrahMos milik India (RIA Novosti)

Foto : Misil BrahMos milik India (RIA Novosti)

Jihad-Defence-Indonesia - PANAJI : India berhasil menguji coba rudal jelajah supersonik BrahMos dari kapal perang. Rudal itu melesat hingga kejauhan 290 kilometer dari tempat peluncurannya.

Rudal BrahMos diluncurkan dari kapal buatan Rusia pada pukul 11.00 waktu setempat. Rudal itu pun berhasil menghantam target serangannya.

"Peluncuran ini dilakukan oleh angkatan laut, sebagai bagian dari Uji Coba Penembakan kapal tempur," ujar Kepala BrahMos Aerospace A Sivathanu Pillai, seperti dikutip PTI, Rabu (22/5/2013).

Kapal yang digunakan India untuk meluncurkan BrahMos adalah INS Teg, INS Trikand dan INS Tarkash. Ketiga kapal tempur itu sudah dipersenjatai dengan misil BrahMos sebagai senjata utamanya. Rudal-rudal itu diklaim bisa menghancurkan kapal perang berukuran besar dan juga kapal selam.

Pihak BrahMos Aerospace mengatakan, rudal tersebut memiliki teknologi siluman. Sehingga ketika kapal-kapal musuh tidak akan bisa mendeteksi rudal tersebut, bila diluncurkan dari dasar laut. 

Pada Maret lalu, Negeri Bollywood pun berhasil meluncurkan rudal canggih itu lewat kapal selam. Lokasi peluncuran ada di Teluk Benggala. Dengan kesuksesan itu, India resmi menjadi negara pertama yang memiliki kemampuan pertahanan yang cukup hebat. 

Program pengembangan rudal  BrahMos dijalankan oleh perusahaan pertahanan India, dan perusahaan Rusia. Kedua negara itu membentuk Perusahaan Kedirgantaraan BrahMos. 

Nama BrahMos sendiri merupakan gabungan dari nama dua sungai di India dan Rusia. Sungai itu adalah Sungai Brahmaputra dan Moskva.

Pada Oktober lalu, Menteri Pertahanan India A.K. Antony mengatakan bahwa rudal berkekuatan supersonik itu tidak akan pernah mengancam negara tetangganya seperti China maupun Pakistan. Rudal itu murni digunakan untuk pertahanan India.


Sumber : KLIK DISINI

BERITA FOTO: PENJAGA PERBATASAN PULAU MIANGAS


Jihad-Defence-Indonesia - Miangas : Dua prajurit Korps Marinir melakukan 

patroli di Pulau Miangas, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, 

Senin (20/5). Pulau Miangas merupakan pulau terdepan bagian utara Indonesia 

yang dijaga sepuluh prajurit marinir dan merupakan salah satu dari 92 pulau 

terdepan Indonesia yang berbatasan dengan negara tetangga. 

(ANTARA/Monalisa Jingga).


Sejumlah penduduk memperhatikan KRI Slamet Riyadi yang singgah di Pulau 

Miangas, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, Senin (20/5). 

KRI Slamet Riyadi menyertai rombongan Ekspedisi Merajut Indonesia yang 

digagas Kementerian Pemuda dan Olahraga ke pulau-pulau terdepan Indonesia 

salah satunya Pulau Miangas yang terletak di bagian paling utara timur Indonesia. 

(ANTARA/Monalisa Jingga)


Sebuah rumah tidak lagi ditinggali di Pulau Miangas, Kabupaten Kepulauan 

Talaud, Sulawesi Utara, Senin (20/5). 

Pulau Miangas merupakan pulau terdepan bagian utara Indonesia yang kerap 

terisolasi jika terjadi gelombang laut yang ganas dari Samudera Pasifik. Air pasang 

yang tinggi bisa menjangkau 100 hingga 200 meter ke wilayah daratan. 

(ANTARA/Monalisa Jingga)


Prajurit TNI-AL awak KRI Slamet Riyadi melakukan "peran muka belakang" usai 

melakukan perjalanan Ekspedisi Merajut Indonesia ke Pulau Miangas, ketika 

akan bersandar di Pelabuhan Bitung, Sulawesi Utara, Selasa (21/5). 

Kapal perang bekas Angkatan Laut Belanda buatan tahun 1963 itu biasanya 

bertugas sebagai armada patroli ke wilayah perbatasan Indonesia.

Sumber : KLIK DISINI

RI BUTUH 2 KAWASAN INDUSTRI BENGKEL PESAWAT



Jihad-Defence-Indonesia - Jakarta :  Sampai saat ini Republik Indonesia RI) belum memiliki Aerospace Park atau kawasan industri terpadu untuk bengkel pesawat. 

Para pengusaha penerbangan Indonesia mengusulkan agar pemerintah membangun 2 Aerospace Park karena wilayah yang luas.

"Kita butuh 2 Aerospace Park di Timur dan Barat Indonesia karena negara kita ini terlalu luas. Oleh karena itu, kita minta dukungan perusahaan aviasi untuk mengusulkan ini ke tingkat pemerintah terutama daerah,

" tutur Direktur Utama PT GMF Aeroasia sekaligus Presideni IAMSA (Indonesia Aircraft Maintenance Shop Association) Richard Budihadiyanto saat memberi sambutan acara Aviation MRO Indonesia di Hotel Sultan Jakarta, Rabu (22/05/2013).

Beberapa tempat dinilai cocok untuk dibangun Aerospace Park di Indonesia antaralain di Makassar dan Manado. Sedangkan di Barat daerah Cengkareng, Kuala Namu, Bintan dan Batam dinilai cocok.

Ia mengharapkan ada dukungan pemerintah terutama pemerintah daerah untuk memberikan regulasi dan kemudahan perizinan pembebasan lahan pendirian Aerospace Park.

"Ini harus ada kerjasama dengan Pemda karena Pemda juga mendapatkan untung itu. Contoh di Kertajati, ada konsep Aerospace Park tetapi nanti kita lihat apakah ini feasible atau tidak. Kita juga harus mengkreasi soal infrastrukturnya," katanya.

Setidaknya Indonesia membutuhkan area lahan seluas 75 hingga 100 hektar untuk membangun satu Aerospace Park. Untuk biaya investasi sebesar US$ 75 hingga US$100 juta harus disiapkan melalui kerjasama antara pemerintah dan sektor swasta.

"Luas lahan yang kita butuhkan antara 75 sampai 100 hektar untuk Indonesia ideal. Investasi US$ 75 hingga 100 juta," katanya.

Indonesia harus membangun Aerospace Park secepatnya seperti Malaysia dan Singapura. Dibangunnya Aerospace Park salah satu dampak positifnya adalah tercipta lapangan pekerjaan.

"Kehadiran Aerospace Park di Indonesia juga menciptakan 3.500 lapangan kerja baru baik yang terkait langsung atau tidak langsung dengan industri perawatan pesawat. Di Singapura saja dengan dibangun Seletar Aerospace Park terserap 10.000 lapangan pekerjaan baru," kata Richard.

Aerospace Park tidak hanya sebagai industri perawatan pesawat alias bengkelnya pesawat terbang, namun di wilayah terpadu ini juga akan dijual sparepart (suku cadang pesawat) dan yang tidak kalah pentingnya adalah ruang khusus pelatihan pilot.

Salah satu manfaat lain dengan keberadaan Aerospace Park akan meminimalkan perawatan pesawat maskapai domestik ke luar negeri sehingga terjadi penghematan devisa dan belanja luar negeri.

"Hasil penghematan ini bisa digunakan untuk meningkatkan industri dalam negeri. Perputaran bisnis di area terpadu ini diperkirakan mencapai US$ 600 juta/tahun. Selain itu ketersediaan dan akses terhadap kebutuhan perawatan pesawat semakin mudah karena berada di dalam satu area," katanya.

Sumber : KLIK DISINI

POS TNI-AL, PENJAGA WILAYAH PERBATASAN PERAIRAN KEPULAUAN NIAS



Jihad-Defence-Indonesia - Nias : Tugas pengamanan perairan Kepulauan Nias, selain Polairud, juga menjadi tanggung jawab TNI, yakni Pos TNI Angkatan Laut (Pos Angkatan Laut). Menjaga garis batas wilayah perairan kepulauan Nias tentu tidaklah mudah. 
Berbagai tantangan dan hambatan harus siap dihadapi oleh para personel TNI-AL yang bertugas di Kepulauan Nias. 
Apa hambatan dan tantangan hadapi dalam menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di perairan kepulauan Nias?
Kepulauan Nias terletak di jajaran terdepan kepulauan Indonesia bagian barat. Provinsi Sumatera Utara mencatat ada sedikitnya 156 pulau berada di wilayah pantai barat. Kepulauan Nias pun dikepung oleh ratusan pulau kecil, baik berpenghuni maupun tidak berpenghuni.
Untuk kepulauan Nias tercatat memiliki sedikitnya 132 pulau. Dua di antaranya adalah pulau terdepan, yakni pulau Simuk dan pulau Wunga di Samudera Hindia yang berbatasan langsung dengan India.

Khusus untuk Pos Angkatan Laut (AL) Gunungsitoli menjaga perairan Kabupaten Nias Barat—ada Pos AL Sirombu, Nias Utara—Pos AL Lahewa, Kabupaten Nias, dan Kota Gunungsitoli. Dengan didukung hanya dengan 7 personel TNI-AL yang menjaga seluruh wilayah tersebut tentu bukanlah hal yang mudah.
Pos AL Gunungsitoli dan Pos AL Nias Selatan adalah bagian dari Pangkalan TNI AL (Lanal) Sibolga di bawah komando Letkol Laut (P) Ivan Gatot Prijianto, SE. Sebagai salah satu jajaran di bawah Komando Armada RI Wilayah Barat (Koarmabar). Keberadaan Posal memiliki arti penting dalam menjaga kedaulatan NKRI di wilayah perairan kepulauan Nias.
Komandan Pos TNI AL Gunungsitoli Letda Laut (P) TB Gunawan, kepada NBC mengatakan, “Fungsi dan tugas TNI AL di kepulauan Nias adalah sebagai aparat militer  angkatan laut tugasnya menjaga keamanan di perairan kepulauan Nias.  
Mengingat kepulauan Nias memiliki kekayaan laut yang luar biasa, serta letaknya yang langsung berhadapan dengan Samudra Hindia, membuat kepulauan Nias sangat rawan dengan keberadaan kapal-kapal asing yang melewati kepulauan Nias dengan tujuan yang beraneka ragam.”

Kerawanan  Patut Diwaspadai

Belum lama ini kita telah mengetahui dari pemberitaan NBC tentang 58 pengungsi dari Sri Lanka yang terdampar di Pulau Wunga, Kecamatan Afulu, Kabupaten Nias Utara. Kepada NBC, TB Gunawan mengatakan, “Kejadian pengungsi atau imigran gelap yang terdampar di kepulauan Nias itu sebenarnya sudah sering terjadi. 
Kejadian kemarin itulah yang baru terekspose oleh media. Biasanya mereka adalah pengungsi atau orang-orang tertindas di negara-negara konflik, seperti Irak, India, Sri Lanka, dan Banglades, yang mencari suaka ke sejumlah negara yang berdekatan wilayahnya dengan mereka.”
Menurut TB Gunawan, selain kedatangan kapal nelayan asing yang dipenuhi oleh pengungsi atau imigran gelap, kepulauan Nias sangat rawan dengan kedatangan nelayan asing yang mencuri ikan di wilayah perairan kepulauan Nias.
“Kapal nelayan asing ini biasanya menggunakan bom ikan, pukat harimau atau potas alias racun ikan. Di wilayah Nias Barat kami akui masih banyak terjadi pencurian ikan dengan menggunakan bom ikan dan pukat harimau. Ini kalo dibiarkan, bisa mengganggu biota laut dan ekosistem laut kepulauan Nias, “
“Kasihan kan nelayan kita, mereka yang terkena dampaknya. Rata-rata nelayan dari kepulauan Nias menangkap ikan dengan menggunakan perahu di bawah 5 gross ton (GT). Ada juga yang memakai perahu 5 GT, tetapi jumlahnya tidak banyak. Bila tangkapan mereka sedikit akibat ikan yang tidak mau mendekat karena ekosistem rusak dan dampak penggunaan potas,” ujarnya.
Selain itu, kata Gunawan, masih ada bentuk kerawanan lain yang sering terjadi di kepulauan Nias, yaitu penyelundupan barang, perdagangan manusia (human trafficking), dan terorisme.

Kendala Utama Pos AL Gunungsitoli

Menjaga perairan kepulauan Nias tentu bukan perkara mudah. Apalagi bila melihat kondisi cuaca kepulauan Nias yang cepat berubah. Selain itu Pos Angkatan Laut Gunungsitoli ternyata tidak didukung sarana yang cukup memadai.
“Kami melakukan patroli rutin di laut seminggu 2-3 kali dengan menyewa kapal nelayan. Meski anggaran terbatas, kegiatan itu tetap kami laksanakan demi menjaga batas perairan kepulauan Nias. Saat ini kami hanya memiliki sebuah perahu karet yang digunakan bila cuaca cerah dan jarak tempuh dekat,” ujarnya.
Mengingat terbatasnya jumlah personel dan begitu luasnya wilayah yang perairan kepulauan Nias, Komandan Posal Gunungsitoli TB Gunawan— yang baru menjabat sebagai Komandan Pos AL Gunungsitoli selama 2 bulan ini—mengatakan, “Selama ini kami berkoordinasi dengan Muspida, Kesatuan Penjaga Laut dan Pantai (KPLP), dan Polisi Air dan Udara (Polairud) juga masyarakat khususnya nelayan dalam melakukan kegiatan.”
Tertangkapnya 58 imigran gelap, beberapa waktu lalu, kata Gunawan, merupakan salah satu bentuk koordinasi yang sangat baik dengan berbagai pihak. “Awalnya kami mendapat telepon dari anggota KPLP yang berada di Kecamatan Afulu.
Lalu setelah berkoordinasi dengan pihak kepolisian juga Polairud dan Pemkab Nias Utara, semua imigran gelap dapat dievakuasi dari Pulau Wunga. Semoga saja hal ini dapat terus berlanjut, mengingat keterbatasan dalam menjaga peraiaran wilayah kepulauan Nias,” ujar TB Gunawan.
TB Gunawan mengimbau, masyarakat khususnya yang tinggal di wilayah pesisir agar turut menjaga keamanan di perairan kepulauan Nias. Bila mencurigai kapal asing dapat menghubungi petugas KPLP terdekat atau dapat melapor ke Pos AL terdekat. Menjaga keamanan perairan kepulauan Nias adalah tanggung jawab kita bersama.
Sumber : KLIK DISINI

BATALYON MARINIR PERTAHANAN PANGKALAN V LATIHAN SIMULASI SERANGAN UDARA DAN DARAT




Jihad-Defence-Indonesia - Surabaya : Pengamanan suatu wilayah pangkalan dari serangan musuh adalah kunci utama terbentuknya pertahanan militer yang kuat, pertahanan militer ini dilakukan di darat, laut maupun di udara. Pertahanan ini sangat diperlukan karena suatu ancaman serangan musuh dapat terjadi setiap saat. Kaitannya dalam mendukung Latihan Gabungan (Latgab) TNI 2013, Komando Armda Timur RI (Koarmatim) hari ini, Rabu (22/5) menyiagakan Latihan Pertahanan Pangkalan dengan melaksanakan Pertahanan Pangkalan Udara (Hanlanud) dan Pertahanan Darat Pangkalan (Hanratlan). Latihan ini dilaksanakan oleh Batalyon Marinir Pertahanan Pangkalan (Yonmarhanlan) Lantamal V dengan mengadakan simulasi terjadinya serangan udara musuh.

Persenjataan yang digunakan adalah Meriam 37 mm buatan Rusia buatan tahun 1961, meriam ini memiliki jarak tempuh efektif 1800 Nm dan mempunyai jarak tempuh maksimal 5000 Nm. Meriam ini juga bisa meluncurkan amunisi 120 butir per menit, diawaki tujuh personel dengan dipimpin oleh satu komandan pucuk yang bertugas sebagai komando utama dalam melaksanakan tembakan.

Pertahanan pangkalan udara tersebut mengerahkan Satu Baterai yang terdiri dari 12 Meriam 37 mm, tersebar dibeberapa titik di wilayah Koarmatim. Mereka bekerja sama dengan Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) TNI, untuk mendeteksi dan mengetahui pergerakan serangan musuh dan selanjutnya diinformasikan ke seluruh pertahanan pangkalan udara di setiap pangkalan, termasuk Pertahanan Pangkalan Udara di Koarmatim.

Pertahanan pangkalan pendukung yang lain di wilayah Koarmatim adalah Pertahanan Darat Pangkalan (Hanratlan). Mereka bersiaga didepan penjagaan Koarmatim mengantisipasi adanya serangan dari darat. Hanratlan menyiagakan 2 truk lengkap dengan dua pleton personel bersenjata lengkap yang bersiaga dan secara rutin melaksanakan patroli di wilayah Koarmatim untuk mengantisipasi datangnya bahaya melalui darat.

Sumber : KLIK DISINI

100 PRAJURIT MARINIR TNI-AL IKUTI LATIHAN BERSAMA CARAT 2013



Jihad-Defence-Indonesia - Sukabumi : Komandan Batalyon Infanteri-6 Marinir Letnan Kolonel Marinir Nawawi melepas 100 prajurit Marinir yang terlibat dalam latihan bersama Cooperation Afloat Readinnes and Training (CARAT) 2013 ke daerah Pusat Latihan Pertempuran Marinir (PUSLATPUR) Antralina Sukabumi Jawa Barat, Rabu (22/5).

Latihan CARAT 2013 merupakan latihan bersama antara TNI-Angkatan Laut dengan Angkatan Laut Amerika Serikat (United State Pasific Command/USPACOM), yang bertujuan untuk meningkatkan kerja sama dan membina persahabatan antara angkatan laut kedua Negara serta untuk meningkatkan ketrampilan, kemampuan dan profesionalisme prajurit.

Rencananya latihan akan digelar dari tanggal 22 sampai dengan tanggal 27 Mei 2013 dengan sasaran meningkatkan ketrampilan dan profesionalisme personil dalam melaksanakan taktik operasi di darat.

Sumber : KLIK DISINI

PENGAMAT INTELIJEN: ACEH MEMANG JADI INTAIAN AMERIKA SERIKAT


Jihad-Defence-Indonesia - JAKARTA : Polemik pendaratan tanpa izin pesawat militer Amerika Serikat (AS) ke Indonesia pada Senin (20/5) lalu memang telah berakhir. 

Kepergian pesawat jenis Dornier-328 itu pada Selasa (21/5) dari Indonesia pun diiringi penjelasan mengenai sebab pendaratan itu terjadi oleh Kedutaan Besar AS untuk Indonesia.

Di Jakarta, Duta Besar (Dubes) AS untuk Indonesia, Scott Marciel menjelaskan pesawat berangkat dari Maladewa menuju Singapura. Hanya saja pesawat terpaksa mendarat di Indonesia karena mengalami kekurangan bahan bakar.

Pernyataan dari Dubes AS ini justru mengundang tanya di benak pengamat intelejen sekaligus militer Negara, Wawan Purwanto. Menurut Wawan, ada sesuatu yang wajib digaris bawahi dari insiden tersebut. 

Titik beratnya yakni ktor yang terlibat dalam kejadian ini, AS, Negara adikuasa yang memiliki banyak agenda dan kepentingan di dunia, termasuk Indonesia.

“Pergerakan mereka perlu diwaspadai, apalagi pihak militer yang melakukan pendaratan dadakan itu,” kata dia ketika dihubungi dari Jakarta Rabu (22/5).

Wawan menambahkan, lokasi pendaratan pesawat tersebut di Bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh juga bisa menambah kuat indikasi adanya upaya mata-mata dari AS. 

Dia mengatakan, Aceh dalam beberapa tahun belakangan ini masuk dalam radar bidikan AS untuk dijadikan wilayah perbantuan perang mereka.

“Sabang (wilayah di Aceh) kan sempat diisukan mau jadi lokasi pembangunan pangkalan militer AS, jadi ya wajaar kalau mereka mau lihat-lihat wilayahnya dulu lebih dalam,” ujar Wawan.

Maka dari itu, dia pun meminta agar pemerintah mengetatkan pertahanan di wailayah paling barat Indonesia itu. Pasalnya menurut dia, akan menjadi sebuah penodaan martabat bila AS terus menerus melakukan pencurian informasi di wilayah kedaulatan Indonesia

Sumber : KLIK DISINI

DPR-KOMISI 1: WASPADAI INTELIJEN AMERIKA SERIKAT


Jihad-Defence-Indonesia - JAKARTA : Komisi 1 Dewan Perwakilan Rakyat-Republik Indonesia (DPR-RI) meminta Pemerintah Indonesia mewaspadai kemungkinan gerakan intelijen Amerika Serikat (AS) di Tanah Air. 

Permintaan DPR tak terlepas kasus pelanggaran izin terbang yang dilakukan militer AS di wilayah udara Indonesia.

Anggota Komisi I DPR bidang pertahanan, Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati, meminta pemerintah tidak memandang remeh aksi militer AS tersebut. Boleh jadi, pesawat militer AS itu sedang melakukan aktivitas intelijen di wilayah Indonesia.

Menurutnya, kemungkinan aktivitas intelijen AS di wilayah Indonesia sangat besar dan patut diwaspadai. Sebab, ini bukan pertama kali militer AS melanggar zona wilayah Indonesia. "Segala kemungkinan dalam giat intelijen kita harus diwaspadai. Probabilitasnya pun besar sekali," kata wanita yang akrab dipanggil Nuning ini ketika dihubungi Republika, Selasa (21/5).

Dia memandang, terbangnya pesawat militer AS di atas langit Kota Aceh bukan sebuah kebetulan. Pandangan itu tak terlepas kenyataan bahwa peralatan militer AS sudah sangat canggih, sehingga kesalahan mengudara nyaris menjadi sebuah kemustahilan. 

Menurutnya, sulit dipercaya jika pilot negara sebesar AS terbang tanpa tujuan jelas. Apalagi, jarak yang ditempuh terbilang jauh. Karena itu, dia meminta pemerintah tidak begitu saja percaya dengan alasan pihak AS. "Kita harus hati-hati dengan giat deception (pengelabuan) siapa pun," ujarnya.

Nuning pun mendesak pemerintah meningkatkan aktivitas intelijen dan infrastruktur TNI. Hal itu untuk mengantisipasi segala bentuk ancaman militer dari negara asing. "Intelijen negara dimajukan fungsinya. Kita harus waspada terhadap ancaman laut, darat, dan udara," katanya.

Nuning berharap, TNI Angkatan Udara segera mencari tahu motif di balik penerbangan pesawat tersebut. Pun halnya Kementerian Luar Negeri, dimintanya bersikap tegas dengan berpedoman pada azas politik bebas aktif. "Langsung tanyakan ke Kedutaan Besar AS. Saya yakin, pesawat itu tidak kebetulan kesasar ke Aceh," kata politikus Partai Hanura tersebut.

Senada dengan Nuning, Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq mengkritik keras pelanggaran zona terbang yang dilakukan pesawat militer AS. Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini mengingatkan pemerintah agar waspada. "Ini betuk pelanggaran," kata Mahfudz.

Mahfudz menyatakan, tidak ada alasan bagi otoritas militer AS memasuki wilayah Indonesia tanpa izin. Menurutnya, meski pilot pesawat mengaku memasuki wilayah Indonesia karena alasan darurat, hal itu tetap bentuk pelanggaran kedaulatan. "Ini bentuk pelanggaran yg dilakukan pihak AS meski pendaratannya bersifat darurat," ujar Mahfudz.

Mahfudz mengatakan, militer AS semestinya memiliki persiapan yang matang ketika hendak melakukan penerbangn jarak jauh. Hal ini agar tidak terjadi kendala teknis yang sepele. "Rencana penerbangan (mereka) ke Singapura mestinya sudah dipersiapkan tanpa mengalami kasus kehabisan bahan bakar," katanya.

Saat ini, pihak TNI Angkatan Udara, ungkap Mahfudz, sedang mencari berbagai kemungkinan di balik pelanggaran zona wilayah terbang oleh pesawat militer AS. Biasanya, imbuh Mahfudz, ada standar operasional prosedur dalam menangani kasus semacam ini. "Klarifikasi dan bahkan investigasi bisa dilakukan," ujarnya.

Sebelumnya, pesawat militer Amerika Serikat ditahan TNI Angkatan Udara di Bandara Sultan Iskandar Muda Blang Bintang, Aceh Besar, Senin (20/5). Pesawat jenis Dornier 328 tujuan Singapura mendarat sekitar pukul 15.00 WIB dengan membawa lima awak militer AS. 

Kelima awak pesawat, yakni Tutle Colton Timothy (pilot), Priest Chyntia Ellizabeth (kopilot), Faire Loren Mattjew, Moreno David Antonio, dan Sanchez Gaona Diego.

Pesawat bernomor registrasi US 305 ini tertangkap radar dan mendarat sekitar pukul 14.00 di Bandara Sultan Iskandar Muda Aceh untuk mengisi bahan bakar. Pihak militer AS mengaku kepada TNI Angkatan Udara bahwa mereka terpaksa mendarat di Aceh.

Komandan Pangkalan Udara (Danlanud) Sultan Iskandar Muda, Kolonel Supriabu, mengatakan, pesawat militer AS terpaksa mendarat karena kehabisan bahan bakar. TNI-AU telah mebebaskan peswat AS itu beserta kelima awaknya. 

Sumber : KLIK DISINI

JERMAN SIAP KIRIMKAN EMPAT PESAWAT LATIH GROB G-120TP


Pesawat latih Grob G 120TP. (Foto: Angkasa/Roni S)


Jihad-Defence-Indonesia - Bonn: Empat unit pesawat latih Grob G 120TP buatan pabrik Grob, Jerman telah siap dikirim ke Indonesia. Keempat pesawat yang telah diberi warna dan registrasi TNI AU tersebut, diluncurkan (Rolled Out) di pabrik pesawat Grob di Tussenhausen,Mattsies, Jerman, Rabu (22/5/2013), pukul 10.00 waktu setempat.

Upacara Roll Out pesawat Grob G 120TP dilaksanakan oleh CEO Grob, André Hiebeler dan disaksikan oleh rombongan delegasi Indonesia dipimpin Kabaranahan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia Laksda TNI Rachmad Ir. Rachmad Lubis. Duta Besar RI untuk Republik Federasi Jerman Dr. Eddy Pratomo dan Atase Pertahanan RI Kolonel Pnb Syamsul Rizal turut menghadiri seremonial ini. Sementara dari pihak TNI-AU sebagai pengguna pesawat ini diwakili oleh Asops KSAU Marsda TNI Bagus Puruhito, Aslog KSAU Marsda TNI Ida Bagus Anom Manuaba, Dankodikau Marsda TNI M. Nurullah, serta Komandan Lanud Adisutjipto Marsma TNI Agus Munandar.

Keempat pesawat Latih Dasar (LD) dengan registrasi LD-1201, LD-1202, LD-1203, dan LD-04 tersebut selanjutnya akan dikirim ke Indonesia menggunakan kapal laut dan akan tiba di Indoensia sekitar pertengahan atau akhir Juli 2013. Pesawat Grob G 120TP dibeli Pemerintah Indonesia untuk digunakan TNI AU-sebagai pengganti pesawat Latih Mula (LM) AS-202 Bravo dan pesawat Latih Dasar (LD) T-34C yang telah digunakan selama lebih 30 tahun. Indonesia membeli 18 unit pesawat ini sekaligus menjadikannya sebagai launch customer. Ke-18 pesawat dijadwalkan pengirimannya akan selesai tahun depan.

Sumber : KLIK DISINI

MENTERI PERTAHANAN RI: INDUSTRI PERTAHANAN INDONESIA INCAR PASAR ASEAN

Menteri Pertahanan RI(Menhan) Purnomo Yusgiantoro. TEMPO/Dasril Roszandi

Jihad-Defence-Indonesia - Jakarta :  Pemerintah Reoublik Indonesia (RI), melalui Kementerian Pertahanan RI ternyata mengincar pasar industri pertahanan di wilayah negara-negara ASEAN. Potensi pasar di kawasan ini, menurut Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro, bisa mencapai nilai US $ 25 miliar.

Peluang pasar ini disampaikan Purnomo dalam diskusi Executive Business Breakfast tentang Ke Mana Arah Kebijakan Industri Pertahanan Indonesia yang digelar Lembaga Kajian Pusat Studi Kebijakan dan Pendampingan Strategis (CPSSA) di Hotel Four Seasons, Kuningan, Jakarta, Kamis 23 Mei 2013. "Proyeksi masa depan adalah bagaimana membangun kemandirian industri pertahanan." kata Purnomo. "Kami ingin industri pertahanan Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan sendiri, tapi juga dapat ekspor ke luar negeri."

Menurut Purnomo, proyeksi pasar industri pertahanan di wilayah Asia Tenggara bisa mencapai capai US $ 25 Miliar. Potensi pasar ini, sebaiknya juga dimanfaatkan untuk mendorong kemandirian lokal dalam sektor industri pertahanan dalam negeri. Apalagi, ASEAN dalah pasar yang besar bagi industri pertahanan. Pasar industri ini melonjak signifikan dalam dua dekade terakhir. 

Meski besar, namun kebanyakan negara anggota ASEAN setuju, transaksi di pasar industri pertahanan dikhususnya untuk peralatan bukan untuk perang atau untuk operasi militer selain perang. Selain itu, juga mulai dirasa pentingnya kolaborasi industri pertahanan di kawasan ASEAN. Kolaborasi itu mutlak diperlukan guna terciptanya kemandirian alutsista dan perluasan pembangunan ekonomi dna kemajuan kawasan ASEAN. "Harus ada yang bersedia membeli alutsista dalam negeri beserta kekurangan dan kelebihannya demi memajukan industri pertahanan dalam negeri sebelum berkolaborasi di ASEAN." kata Purnomo.

Purnomo mengatakan, mengatakan bahwa industri pertahanan RI yang berdiri sejak 1958 dengan menasionalisasi industri pertahanan bekas peninggalan asing seperti Inggris dan Belanda, runtuh pada tahun 1997 - 1998. Pada tahun 2010 pemerintah telah memprioritaskan pembangunan industri pertahanan hingga 2024."Tidak ada negara di dunia ini yang kuat kalau hanya ekonominya saja yang kuat," kata Purnomo

Ia mengatakan bahwa negara yang kuat itu tak hanya ditopang oleh ekonominya yang kuat namun juga harus memiliki industri pertahanan yang kuat pula dan pertahanan itu tidak bisa sukses hanya bergantung pada industri pertahanannya saja tetapi komitmen untuk mewujudkannya

Dalam presentasinya, Purnomo membeberkan peta dasar pembangunan Industri Pertahanan dalam negeri, selama 15 tahun ke depan menyusul diberlakukannya UU Industri Pertahanan nomor 16 tahun 2012. Terutama bagaimana rancang bangun peta kekuatan industri pertahanan di kawasan dan peran Komite Kebijakan Industri Pertahanan di dalamnya. 

Sebelumnya dalam sambutan membuka acara itu, Ketua Centre for Policy Studies and Strategic Advocacy Luhut Panjaitan optimistis, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 6% pada tahun ini dan diperkirakan dapat mencapai 8%-9% dalam beberapa tahun ke depan, Indonesia seharusnya tidak sekedar menjadi pasar bagi negara lain tetapi harus sudah mencari pasar luar.

"Di industri pertahanan, Indonesia sebenarnya sudah punya industri dasar. Ini bisa dikembangkan. Tinggal dorongan kebijakan dari pemerintah," ujar Luhut.


Sumber : KLIK DISINI

Selasa, 21 Mei 2013

4 ALASAN PESAWAT MILITER AMERIKA SERIKAT INI LAYAK DITAHAN DI ACEH



4 Alasan pesawat AS ini layak ditahan di Aceh


Jihad-Defence-Indonesia - ACEH :
TNI Angkatan Udara (AU) Sultan Iskandar Muda Provinsi Aceh, menahan pesawat militer jenis Dornier seri 328 milik Amerika Serikat (AS) di Bandara Sultan Iskandar Muda, Senin (20/5). Pesawat yang membawa lima orang awak pesawat itu diketahui tidak memiliki izin terbang di wilayah Indonesia.

Pesawat yang tengah dalam perjalanan dari Maldives Srilangka menuju Singapura itu telah tertangkap radar TNI AU sejak di Lhokseumawe. 

"Pesawat militer AS yang mendarat sekitar pukul 14.00 WIB tersebut tidak bisa melanjutkan perjalanannya sebelum memiliki izin terbang di wilayah Indonesia," kata Komandan Pangkalan TNI AU Sultan Iskandar Muda Kolonel Pnb Supri Abu.

Sementara itu, Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono menyatakan, pilot pesawat tersebut salah memperhitungkan bahan bakar hingga terpaksa mendarat di Aceh.

"Jadi bukan penyergapan, ada kesalahan perencanaan penerbangan dari Kolombo ke Singapura. Ada salah perhitungan bahan bakar tidak sampai," ujar Agus di Istana Negara, Jakarta, Selasa (21/5).

Alhasil, pesawat militer negeri Paman Sam itu kemarin pagi diperbolehkan meninggalkan Bandara Sultan Iskandar Muda untuk melanjutkan perjalanannya. Meski demikian, sejumlah pihak mengkritisi keberadaan pesawat tempur AS itu di wilayah udara Indonesia. Mereka meminta agar persoalan ini tidak dipandang sebelah mata.

Berikut empat alasan mengapa pesawat militer AS harus ditahan.
4 Alasan pesawat AS ini layak ditahan di Aceh
pesawat bomber. REUTERS



1. Diduga sebagai mata-mata
Anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat-RI Tantowi Yahya tak percaya jika pesawat Amerika Serikat (AS) jenis Dornier yang sempat ditahan TNI-AU di Aceh dalam kondisi tersasar. Sebab, alat utama sistem senjata (Alutsista) Amerika Serikat dikenal canggih.

Politikus Partai Golkar ini menduga ada operasi tersembunyi yang tengah dilakukan pesawat negeri Paman Sam itu, yakni memata-matai wilayah Indonesia.

"Bisa saja hal itu (mata-matai), memang tidak menutup kemungkinan itu. Mengingat AS adalah negara besar dengan banyak kepentingan, dan jelas sudah melanggar seperti itu. Masa negara maju dan pilot canggih bisa nyasar, enggak masuk akal itu," kata Tantowi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (21/5).
4 Alasan pesawat AS ini layak ditahan di Aceh


2. Terbang tanpa izin

Menteri Kordinator Politik Hukum dan Keamanan RI Djoko Suyanto membenarkan adanya penyergapan yang dilakukan TNI Angkatan Udara terhadap pesawat milik militer Amerika Serikat (AS). Pesawat tersebut diminta mendarat di Bandara Iskandar Muda karena tidak memiliki izin lintas.

Menurut Djoko, setiap lalu lintas udara harus memiliki izin dari negara yang akan dilintasinya. Hal itu sudah menjadi aturan internasional.

"Itu merupakan prosedur standar, setiap lalu lintas udara harus punya izin. Peraturan internasional juga sama, kalau enggak punya izin wajib mendarat," kata Djoko di Istana Negara, Jakarta, Selasa (21/5).

Sementara itu, Anggota Komisi I DPR Tantowi Yahya menegaskan, siapa pun yang masuk wilayah negara lain tanpa izin, adalah pelanggaran serius. Maka dari itu, Indonesia memiliki hak melakukan protes.

"Lakukan protes keras, pelanggaran itu. Tidak bisa dibiarkan kelakuan seperti itu," kata Tantowi.
4 Alasan pesawat AS ini layak ditahan di Aceh

3. 'Slonong boy' di wilayah udara Indonesia

Anggota Komisi I DPR Ramadhan Pohan menilai tertangkapnya pesawat militer Amerika Serikat (AS) jenis Dornier seri 328 di kawasan udara Aceh merupakan persoalan serius. Menurutnya, penahanan yang dilakukan TNI-AU sebagai sinyal bagi negara lain agar tidak sembarangan masuk wilayah Indonesia.

"Ini menjadi sinyal bagi negara lain untuk tidak sembarang, slonong boy tidak anggap enteng," katanya di Kompleks Parlemen, Senayan Jakarta, Selasa (21/5).

Sementara itu, Menteri Pertahanan Republik Indonesia Purnomo Yusgiantoro menjelaskan, persoalan tersebut muncul karena terdapat kesalahan teknis dari pihak pesawat AS. Dia juga membantah ada upaya penyergapan yang dilakukan TNI-Angkatan Udara.

"Itu hanya kesalahan teknis saja," ucapnya.
4 Alasan pesawat AS ini layak ditahan di Aceh


4. Mapping kekuatan

Anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat-RI bidang pertahanan dan luar negeri, Ramadhan Pohan menanggapi serius tertangkapnya pesawat militer Amerika Serikat (AS) jenis Dornier seri 328 di Aceh. Dia bahkan menyatakan, bukan tidak mungkin pesawat tersebut tengah melakukan mapping kekuatan pertahanan Indonesia.

"Data intelijen, kantor daerah dan data-data lain," kata Ramadhan di Kompleks Parlemen, Senayan Jakarta, Selasa (21/5).

Untuk itu, Ramadhan berharap TNI harus melakukan investigasi secara ketat, apakah pesawat tersebut sengaja, coba-coba, atau kelalaian dari pihak militer AS.

"Saya kira penanganan itu perlu. Disinkronkan antara keterangan pilot dengan situasi lapangan. Apakah memang tidak sengaja, benar-benar kelalaian harus diinvestigasi. Kita nggak mau apalagi ini masalah kedaulatan," tuturnya.

Sumber : KLIK DISINI

5 AKSI TNI-AU USIR PESAWAT ASING DI RI



5 Aksi TNI AU usir pesawat asing di Indonesia

Jihad-Defence-Indonesia - Jakarta :  
Swa Bhuwana Paksa, atau sayap yang melindungi udara tanah air. Itulah semboyan Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Udara (TNI-AU). Kini mereka kembali menunjukkan taringnya pada pesawat asing yang melanggar kedaulatan udara Republik Indonesia (RI). 

Senin (20/5) siang, giliran pesawat militer Amerika Serikat yang kena gertak. Pesawat Dornier seri 328 dari Maldives Srilanka menuju Singapura telah terlacak di radar di Lhokseumawe.

TNI-AU memerintahkan pesawat itu mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda. Mereka dilarang terbang sebelum memiliki izin melintasi wilayah udara Indonesia. 

Soal alutsista, boleh saja Indonesia kekurangan pesawat tempur. Tapi soal ketegasan, hukum harus ditegakkan. Sudah beberapa kali TNI-AU berani mengusir pesawat asing yang melintas. Bukan hanya pesawat sipil, pesawat militer Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) saja disuruh angkat kaki.


Berikut 5 kisah heroik para tentara udara Indonesia (TNI-AU) mengusir pesawat asing.


5 Aksi TNI AU usir pesawat asing di Indonesia

1. TNI-AU tahan pesawat asing di Aceh

TNI Angkatan Udara Sultan Iskandar Muda Provinsi Aceh menahan sementara pesawat militer milik Amerika Serikat (AS) di Bandara Sultan Iskandar Muda, Senin, karena tidak memiliki izin terbang dalam wilayah Indonesia.

Komandan Pangkalan TNI-AU Sultan Iskandar Muda Kolonel Pnb Supri Abu di Aceh Besar mengatakan bahwa keberadaan pesawat militer AS jenis Dornier seri 328 dari Maldives Srilanka menuju Singapura telah terlacak di radar di Lhokseumawe.

"Pesawat militer AS yang mendarat sekitar pukul 14.00 WIB tersebut tidak bisa melanjutkan perjalanannya sebelum memiliki izin terbang di wilayah Indonesia," katanya.

Dijelaskannya, setiap pesawat militer yang akan terbang harus memiliki dua izin, yakni dari kementerian luar negeri dan Markas Besar TNI. Namun pesawat militer AS tersebut tidak memiliki kedua izin tersebut. Tapi tidak butuh pesawat tempur TNI-AU untuk memaksa pesawat itu turun karena mereka menyatakan akan mendarat.

"Artinya, pesawat yang ditumpangi lima awak yang terdiri atas tiga militer dan dua sipil tidak bisa melanjutkan penerbangannya sebelum kedua izin tersebut ditebitkan," katanya.

Supri juga mengatakan bahwa lima awak pesawat tersebut juga tidak bisa meninggalkan pesawat sebelum kedua izin administrasi tersebut dikeluarkan oleh kedutaan besar negara bersangkutan.
 
5 Aksi TNI AU usir pesawat asing di Indonesia

2. Sukhoi TNI-AU cegat Cessna milik Amerika

Minggu (30/9/2012), pesawat buru sergap TNI-AU yang terdiri dari sebuah Sukhoi 27 dan Sukhoi 30 milik Skadron Udara 11 Pangkalan Udara (Lanud) Hasanudin, berhasil memaksa mendarat Pesawat Cessna 208 milik Amerika Serikat yang melanggar wilayah udara nasional Indonesia.

Sebelum dipaksa mendarat, pesawat Cessna sudah dideteksi jaringan radar udara Komadno Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas). Karena pesawat asing tidak tercatat dalam rencana penerbangan Flight Clearance Information System (FCIS), maka dikategorikan sebagai penerbangan gelap (Black Flight).

TNI-AU sudah berupaya meminta pesawat mendarat di Makassar, namun pilot pesawat Cessna tidak mematuhi perintah. Setelah diperingatkan beberapa kali masih tetap membandel tidak mau mendarat di Makassar. Maka Flight pesawat buru sergap Sukhoi yang selalu siaga di Lanud Hasanudin Makassar, langsung dikomando untuk melakukan Intercept atau pencegatan. Pesawat asing tersebut dipaksa turun (forced down) di Lanud Balikpapan, Kaltim pada pukul 13.30 WIT.

"Pesawat Cessna 208 yang diawaki seorang penerbang berkebangsaan Amerika, seharusnya hanya boleh melintasi wilayah udara Flight Information Region (FIR) Filipina dan Malaysia. Namun dalam kenyataannya, melakukan pelanggaran dengan memotong jalan melintasi wilayah udara FIR Indonesia," ujar Sekretaris Dinas Penerangan Angkatan Udara (Sesdispenau) Kolonel Sus Muhammad Akbar Linggaprana dalam rilisnya kepada merdeka.com.
5 Aksi TNI AU usir pesawat asing di Indonesia

3. Sukhoi paksa turun pesawat Pakistan

Maret 2011, TNI-AU mendeteksi keberadaan pesawat komersial jenis Boeing 737-300 milik Pakistan International Airlines terbang di wilayah udara Indonesia tanpa izin.

Pesawat tersebut membawa 13 kru pesawat dan 49 personel militer Pakistan, dengan rute tujuan Dili-Kuala Lumpur Malaysia.

Setelah mendapat titik kordinat lokasi pesawat, TNI-AU segera memberikan peringatan kepada pesawat tersebut. Namun peringatan tidak diindahkan, hingga akhirnya TNI-AU memerintahkan dua pesawat tempur Sukhoi untuk menjemput dan mendaratkan paksa Pesawat carteran tersebut di Bandara Sultan Hasanuddin, Sulawesi Selatan.

Pesawat itu ditahan di Lanud Hasanuddin sampai akhirnya pihak kementerian luar negeri Pakistan berkoordinasi mengurus izin terbang pesawat itu.

 
5 Aksi TNI AU usir pesawat asing di Indonesia

4. TNI-AU usir C17 Globemaster

TNI-AU memergoki sebuah pesawat angkut C17 Globemaster berbendera Amerika melanggar batas wilayah udara Indonesia. Pesawat angkut berbadan tambun tersebut tertangkap radar masuk lewat Pekanbaru Riau, dan dinyatakan ilegal karena tidak tercatat dalam rencana penerbangan FCIS.

Setelah menempuh jalur diplomasi dengan pihak Amerika, akhirnya TNI-AU sepakat untuk menuntun Globemaster keluar dari wilayah udara sampai Morotai Maluku Utara. Pemerintah Indonesia pun telah mengirimkan nota protes terkait insiden teritori tersebut.

"Ya memang kadang-kadang ada yang melewati batas, kita kalau menghadapi seperti itu melakukan protes diplomatik dengan maksud bahwa kita menjaga, mengelola wilayah tersebut. Saya minta ambil tindakan secara tegas, proporsional," kata Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono Juli 2011 lalu.
5 Aksi TNI AU usir pesawat asing di Indonesia

5. Sukhoi cegat jet wakil perdana menteri Papua Nugini

November tahun 2011 lalu radar Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) mencium ada pesawat asing melintas di sekitar Balikpapan. Dua pesawat Sukhoi TNI-AU segera terbang memburu mangsa mereka.

Ternyata sebuah pesawat P2-ANW Dassault Falcon 900EX bercat putih dengan logo merah terbang tanpa izin. Sukhoi segera memepet pesawat tersebut. Ternyata pesawat ditumpangi Wakil Perdana Menteri Papua Nugini Belden Namah.

Pesawat tempur itu menguntit tumpangan VIP tersebut selama 37 menit. Namun akhirnya atas perintah Kohanudnas, pesawat dibiarkan dan tak ditembak jatuh.

Buntutnya, hubungan Indonesia dan Papua Nugini sempat tegang. Perdana Menteri Papua Nugini Peter O"Neil, mengancam mengusir Duta Besar RI Andreas Sitepu dari Port Moresby. Tapi setelah melakukan pembicaraan antar menlu, insiden ini tak terjadi.

Sumber : KLIK DISINI