Selasa, 05 Juni 2012

Exocet MM40 Block 3 Indonesia

Exocet MM40 Block 3 Indonesia



mbda exocet mm40 block3 Exocet MM40 Block 3 Indonesia
(MDN), Hubungan Indonesia dengan Perancis, semakin mesra saja pasca pembelian Meriam 155 mm Caesar dan kendaraan taktis Sherpa. Rusia telah menjual rudal yakhont ke Indonesia. Amerika Serikat menawarkan AIM-120 AMRAAM utk melengkapi hibah 24 F-16 Block 32++. Tidak mau ketinggalan, Perancis juga menawarkan salah satu senjata andalan mereka, yakni rudal anti-kapal Exocet MM-40 Block III.

Indonesia boleh saja telah bekerjasama dengan China untuk membuat rudal C-705. Bisa jadi, rudal C-705 akan diproduksi masal oleh Indonesia. Akan tetapi Indonesia tetap membutuhkan peluru kendali yang mumpuni secara kualitas, sebagai deteren terhadap negara lain. Kemampuan deteren itu, dimiliki oleh rudal Exocet MM-40 Block 3.
Exocet MM40 Block 3 Exocet MM40 Block 3 Indonesia
Exocet MM40 Block 3
Versi terbaru dari rudal Exocet memiliki jangkauan tembak hingga 180 kilometer. Rudal ini digerakkan oleh mesin jet turbofan yang dilengkapi air intake modern. Rudal Exocet Blok 3 juga dilengkapi GPS guidance waypoint, sehingga bisa menyerang kapal atau sasaran permukaan, dengan sudut serang yang rumit, agar susah diantisipasi. 
 
Sejumlah kapal perang Indonesia telah dilengkapi rudal exocet versi terdahulu. Antara lain Rudal Exocet MM38. Sedikitnya ada 8 KRI yang mengusung Exocet MM 38, yakni Frigat: KRI Fatahilah, KRI Malahayati, KRI Ki Hajar Dewantara dan KRI Nala. 4 Kapal Cepat Rudal buatan Korea: KRI Rencong, KRI Mandau, KRI Badik dan KRI Keris. Setiap kapal pengusung, membawa empat buah rudal Exocet MM 38.
Sementara Korvet Sigma Class, menggunakan Exocet versi lebih baru yakni MM-40 Block 2. Rudal tersebut dipasang di KRI Diponegoro, KRI Hasanuddin, KRI Sultan Iskandar Muda dan KRI Frans Kaisiepo.
jenis jenis exocet Exocet MM40 Block 3 Indonesia
Add caption
Jika jangkauan rudal Exocet Block 2 hanya 70-80 Km, maka Block 3 mampu mengejar sasaran hingga 180 Km. Rudal Exocet Block 3 bisa dioperasikan secara fire and forget, mampu menghindari jamming dan termasuk rudal lintas cakrawala.

Rudal Exocet MM-40 Block 3 pertama kali ditembakkan oleh Frigat Perancis, Chevalier Paul pada 18 Maret 2010 dan sukses menghantam sasaran. Selain Perancis, negara yang telah menggunakan Exocet Block 3 adalah Angkatan Laut Yunani, UAE, Peru< Maroko, Oman dan Qatar.
 
Saat ini TNI AL memiliki 114 Kapal Perang. Sementara jumlah yang dibutuhkan sedikitnya 376 unit kapal perang. Jadi kekurangannya masih banyak. Dengan adanya rudal Exocet MM-40 Block III, diharapkan jumlah kapal perang yang sedikit masih bisa ditutupi sementara oleh kualitas senjata yang mematikan.
Sumber: Jakarta Greater

Kemhan RI Tandatangani Kontrak Pengadaan 1 Unit Kapal PKR 10514

 Kapal PKR10514 rancanagan Damen Schelde (photo : Defense Studies)
Jakarta - Kementerian Pertahanan Republik Indonesia (Kemhan RI) melalui Badan Sarana Pertahanan (Baranahan) secara resmi menandatangani kontrak pengadaan 1 unit  Kapal Perusak Kawal Rudal (PKR) 10514 dengan Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS), Belanda.
Kontrak ditandatangani oleh Kepala Baranahan Kemhan Mayjen TNI Ediwan Prabowo yang mewakili Kemhan RI dengan Director Naval Sale of DSNS Evert van den Broek yang dalam hal ini mewakili pihak DSNS, Selasa (5/6) di kantor Kemhan, Jakarta. Hadir dan menyaksikan acara penandatangan sejumlah pejabat di lingkungan Kemhan, Mabes TNI dan Mabes TNI AL. Hadir pula Dubes Belanda untuk Indonesia Tjeerd de Zwaan dan Direktur Utama PT.PAL Indonesia (Persero) Ir M Firmansyah Arfin.
Pengadaan Kapal PKR 10514 ini dalam rangka untuk memperkuat Alutsista di jajaran TNI AL guna mendukung tugas menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI.  Disamping digunakan untuk tugas – tugas  tempur, Kapal PKR 10514 ini juga diperlukan untuk memberikan deterrent effect (efek gentar)  terhadap pihak manapun yang akan mencoba mengganggu kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI.
Kabaranahan Kemhan RI  mengatakan,  dalam pembangunan Kapal PKR 10514 ini, Damen Schelde Naval Shipbuilding melakukan joint production (kerjasama produksi) dengan PT. PAL Indonesia (Persero) selaku industri pertahanan dalam negeri.  Damen Schelde Naval Shipbuilding telah memutuskan untuk memberikan Transfer of Technology (ToT) dalam konstruksi desain dan pembangunan Kapal PKR 10514 kepada PT. PAL Indonesia (Persero).
Rencananya, Kapal PKR 10514  ini akan dibangun di tiga tempat antara lain PT. PAL Indonesia (Persero), Vlisingen dan Galatz. Terakhir Kapal PKR 10514 akan dirakit di PT.PAL Indonesia (Persero). Diharapkan, Kapal PKR 10514  ini sudah selesai dan diserahterimakan pada awal  tahun 2017.
Lebih lanjut Kabaranahan mengatakan,  ini adalah awal yang baik dari industri pertahanan dalam negeri khususnya  PT. PAL Indonesia (Persero) dalam mengembangkan kemandirian di bidang Alutsista.  Hal Ini juga sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam hal ini Kemhan RI melalui Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) yang akan melaksanakan rencana induk revitalisasi industri pertahanan dalam rangka mendorong dan meningkatkan industri pertahanan dalam negeri.
Sementara itu, guna mendukung pengadaan Kapal PKR 10514 ini,  Kabaranahan Kemhan RI mengungkapkan pemerintah Indonesia mengalokasikan anggaran kredit eksport dengan alokasi multiyears dengan jumlah 220 juta dolar AS.(BDI/SR)
SPESIFIKASI TEKNIS KAPAL PKR 10514
Harga/Unit                          USD 220.000.000,00
Waktu Penyelesaian         49  bulan


DATA TEKNIS PLATFORM
LOA                                     105 meter
Lebar                                   14 meter
Draft                                      3,7 meter
Displacement                       2.335 ton
Speed Max/Cruise/Economic     28/18/14 knot
Range at 14/18 knot             5000 NM
Endurance                             20 hari
Sea Keeping                         Up to Sea State 5
Crews                                    120 orang
Helli Pad                                10 ton
TANK CAPACITY
Fuel Oil                                 300 ton
Fresh Water                         60 ton
PROPULSION SYSTEM
Main Engine                         2 x Diesel Engine
                       2 x E Drive (CODOE)
Diesel Generator                 4 x 715 kw
                       2 x 435 kw
Gear Box                               CODOE,
                                                Heavy Duty
COMBAT SYSTEM
Persenjataan     Anti serangan Udara
    Anti serangan Kapal Selam
    Anti serangan Kapal Atas Air
(DMC)

Indonesia Akan Orbitkan Satelit Bikinan Sendiri

Satelit Lapan A2, 100% buatan Indonesia (photo : Lapan)
Indonesia Akan Terbitkan Satelit Baru 
TEMPO.CO, Jakarta - Deputi Bidang Teknologi Dirgantara Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Soewarto Hardhienta mengatakan LAPAN akan mengorbitkan satu satelit bikinan Indonesia pada Agustus mendatang.
“Itu satelit seluruhnya bikinan Indonesia,” kata Soewanto di kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Senin siang, 4 Juni 2012.
Satelit yang akan diorbitkan itu diberi nama LAPAN-A2. Ia mengatakan LAPAN menyertakan tiga perangkat utama dalam satelit tersebut. Perangkat pertama adalah pemotret Bumi. Nantinya Indonesia bisa memotret Bumi dari angkasa dengan satelit tersebut.
Perangkat kedua adalah pembaca sinyal kapal. Dengan perangkat tersebut, pemerintah bisa mengetahui setiap kapal besar yang memasuki wilayah perairan Indonesia. “Kapal secara otomatis mengirim sinyal yang akan ditangkap satelit,” kata Soewarto.
Kapal-kapal yang mampu dilacak oleh satelit itu umumnya adalah kapal besar. Satelit belum bisa menangkap keberadaan kapal nelayan kecil yang umumnya terbuat dari kayu. “Selama ada pengirim sinyal, bisa dilacak,” katanya.
Perangkat ketiga adalah penunjang komunikasi radio amatir. Perangkat tersebut akan sangat berguna bagi proses penanggulangan bencana. Ini untuk menjamin alat komunikasi radio amatir tetap menyala dalam situasi genting. “Kalau saat bencana, umumnya alat komunikasi konvensional mati,” ujarnya.
Satelit tersebut akan diorbitkan menggunakan sebuah roket peluncur satelit dari India. Soewarto mengatakan Indonesia belum menguasai teknologi roket peluncur satelit, sehingga pengorbitan satelit dilakukan di India.

Senin, 04 Juni 2012

Presiden Pilih Pulau Nipa Jadi Garda Depan Pertahanan RI

PULAU Nipa, salah satu pulau dalam gugusan Kepulauan Riau, dipilih sebagai pos depan pertahanan RI. Hal ini disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat meninjau langsung perkembangan infrastruktur pertahanan di Pulau Nipa, pada Sabtu (2/6).

Presiden bersama Ibu Negara Ani Bambang Yudhoyono menuju Pulau Nipa menggunakan KRI Diponegoro (KRI DPN-365) dari Changi Naval Base, Singapura setelah melakukan kunjungan kerja ke Negeri Singa tersebut. Turut mengiringi KRI DPN-365 yaitu KRI Juang, KRI Clurit, KRI Matacora, dan beberapa kapal kecil berisi satuan marinir dan Komando Pasukan Khusus TNI AD.

Presiden RI juga menerima penghormatan sailing pass dan flying pass dari KRI AMY-351, KRI PTM-371, KRI PTS-384 dan Pesawat Cassa U-618 di anjungan lambung KRI DPN-365.

Dalam perjalanan lebih kurang 1,5 jam, Presiden mendengarkan paparan dari Menteri Pertahanan dan Keamanan, Purnomo Yusgiantoro. "Menhan melaporkan rencana pembangunan batalyon marinir di wilayah ini, dan saya putuskan dari tiga alternatif yang diusulkan Menhan dan Panglima TNI, kami pilih tempat yang kami rasa paling memiliki nilai strategis dan taktis, Insya Allah akan segera dibangun," kata Presiden.

Kepada Presiden, Purnomo melaporkan perkembangan pos di garda depan Indonesia. Diantaranya penguatan satuan marinir dan satuan angkatan darat dengan komposisi duapertiga anggota marinir, dan sepertiga anggota angkatan darat. Personel tersebut, kata Presiden, akan melaksanakan tugas-tugas di pos depan pertahanan negara Indonesia. Dengan demikian, ada satu batalyon marinir di kawasan yang berbatasan langsung dengan Singapura ini.

Selain menjadi pos depan pertahanan Indonesia, Presiden berharap nantinya keberadaan pos tersebut bisa memberi kontribusi dalam rangka menjaga keamanan di Selat Malaka dan Selat Singapura. "Ikut juga menghadapi kejahatan transnasional bersama-sama dengan kepolisian dan penegak hukum lain," ujar Kepala Negara.

Disamping berperan dalam bidang pertahanan dan keamanan, Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan akan mengembangkan sarana pendukung perekonomian kelautan. Terlebih kawasan Batam, Karimun, Bintan, Johor, dan Malaysia yang saling berdekatan ini, merupakan kawasan ekonomi dan usaha. "Kami ingin memanfaatkan letak strategis ini untuk kepentingan ekonomi kita," ujarnya.

Dalam kunjungannya ke Pulau Nipa, selain Menteri Pertahanan, Purnomo dan Menteri Kelautan dan Perikanan, Sharif Cicip Sutardjo, turut serta dalam rombongan Menkopolkam Djoko Suyanto, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, Kapolri Jenderal (Pol) Timur Pradopo, Menko Perekonomian Hatta Radjasa, Mensesneg Sudi Silalahi, Sekab Dipo Alam, Gubernur Provinsi Kepulauan Riau M. Sani, dan pejabat-pejabat tinggi TNI. Presiden meninjau pembangunan infrastruktur pertahanan antara lain pos pengawas untuk mengawasi medan depan terutama aktivitas didermaga saat kapal-kapal merapat, posko satgasmar, hingga tempat tinggal prajurit.

Nantinya dilokasi ini akan dibangun pula sarana olahraga indoor dan outdoor, jalan lingkar patroli sepanjang Pulau Nipah, pos pengaman pembantu di selatan Pulau Nipah, dermaga, dan landasan helipad, pos terpadu untuk kementerian dan lembaga dari KKP, dan Kemenhan, serta kantor imigrasi. Sementara untuk listrik sudah menggunakan pembangkit listrik tenaga mandiri yang bersumber dari kincir angin, hingga genset untuk mendukung kebutuhan emergency.

sumber: JURNAS

Jumat, 01 Juni 2012

PT. PAL Siapkan 150 Teknisi Ahli Untuk Belajar Di Korsel & Belanda

PT. PAL Siapkan 150 Teknisi Ahli Untuk Belajar Di Korsel & Belanda

(MDN), SURABAYA: PT PAL Indonesia (Persero) menyiapkan 150 teknisi ahli perkapalan untuk alih teknologi produksi kapal selam di Korea Selatan dan kapal perusak kawal rudal (PKR) di Belanda, menyusul dibuatnya kapal perang pesanan Kementerian Pertahanan di dua negara itu.
 
Proses alih teknologi itu merupakan persiapan untuk membuat sendiri kapal selam pada beberapa tahun mendatang, suatu upaya kemandirian industri pertahanan di dalam negeri.

Direktur Utama PT PAL Indonesia Muhamad Firmansyah Arifin mengatakan BUMN tersebut selama ini telah banyak memproduksi berbagai jenis kapal perang untuk memenuhi kebutuhan TNI AL seperti kapal patroli cepat, landing platform dock (LPD), kapal cepat rudal (KCR), landing craft utility (LCU), landing craft vehicle personal (LCVP).

Namun, lanjutnya,  sejauh ini PAL belum menguasai teknologi pembuatan kapal selam, karena membutuhkan ilmu tinggi serta kesiapan SDM yang memiliki kemampuan dalam menerima alih teknologi kapal perang tersebut.

“Kami akan menyiapkan 300 teknisi untuk diseleksi menjadi 150 orang guna dikirim ke Korea Selatan dalam keperluan alih teknologi pembuatan kapal selam.  Dijadwalkan penyeleksian itu rampung pada 2013,” ujarnya saat mendampingi Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Selasa, 29 Mei 2012.

Kunjungan tersebut dimaksudkan melihat pelaksanaan produksi  sejumlah kapal perang pesanan TNI AL di PAL Indonesia seperti 3 unit KCR, 2 unit kapal tunda 2400 HP dan 4 unit LCU. Turut hadir dalam kunjungan tersebut Wakil Kepala Staf TNI AL Laksdya TNI Marsetio dan Irjen Kementerian Pertahanan Laksdya TNI Sumartono.

Sjafrie mengatakan PAL harus menyiapkan diri menjadi bagian dari industri pertahanan yang mampu memproduksi alat utama sistem persenjataan (alutsista) berteknologi tinggi, melalui proses alih teknologi dari negara lain.

Menurut dia, Kementerian Pertahanan tengah melakukan pengadaan 2 unit kapal perusak kawal rudal (PKR) yang dibuat di Belanda. Selain itu, 3 unit kapal selam, diantaranya 2 unit dibuat di Korea Selatan.

Dalam kontrak pembuatan kapal perang di dua negara itu disepakati kerja sama alih teknologi kepada kalangan teknisi ahli kapal perang asal Indonesia.

“Pembuatan PKR di Belanda ditargetkan dapat dirampungkan pada 2016 mendatang,” ujarnya.

Dalam waktu sama, diharapkan pembuatan kapal selam di Korea pun dapat rampung, kemudian akan dibuat di dalam negeri. Dana yang disiapkan untuk pengadaan kapal perang berteknologi tinggi itu disebutkan Rp150 triliun.

Muhamad Firmansyah menyatakan kesiapannya menjadi lead integrator [bersama BUMN lain] untuk pembangunan alutsista, dengan menyiapkan fasilitas bengkel terintegrasi.

“Kami memiliki 2 graving dock, 2 floating dock dan shiplift sekaligus memiliki divisi desain yang merancang kapal-kapal perang,” paparnya.(bas)

Sumber: BisnisJatim

Pelajari Pengelolaan Industri Pertahanan BRICS (Brazil, Rusia, India, China, Afrika Selatan)

Pelajari Pengelolaan Industri Pertahanan BRICS (Brazil, Rusia, India, China, Afrika Selatan)

 
Casspir MK3 : “Kuda Perang” Kopassus buatan industri pertahanan Afrika Selatan 

(MDN), Senayan - Pekan depan Komisi I DPR RI akan kembali melanjutkan pembahasan RUU Industri Pertahanan. Agenda pembahasan  masih seputar mengenai sistem pembiayaan atau pendanaan perusahaan industri pertahanan, struktur organisasi, dan mekanisme pemasaran.

Selasa (15/5) lalu, dalam pembahasan RUU Industri Pertahanan, Wakil KomisiI  DPR RI Tubagus Hasanuddin minta “perwakilan Kemenhan pada rapat berikutnya agar membawa data perbandingan atau referensi dari negara yang tergabung dalam kelompok BRICS”.

Perwakilan Kemenhan pada rapat berikutnya agar membawa data perbandingan atau referensi dari negara yang tergabung dalam kelompok BRICS (Brazil, Rusia, India, China, Afrika Selatan).
"Kita bandingkan dalam hal pengelolaan industri pertahanannya, organisasinya, pembiayaannya, dan pemasarannya," ujar TB Hasanuddin kepada Jurnalparlemen.com, Minggu (20/5).

Selain itu, untuk menyempurnakan penyusunan RUU Industri Pertahanan, pihaknya juga membandingkan dengan negara lain seperti AS, Rusia, dan Eropa.

"Sebelumnya juga sudah kita pelajari sistem pengelolaan industri pertahanan yang dianut AS dan Rusia. Kedua negara ini memiliki sistem yang berbeda. masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan," ujarnya.

Sumber: Jurnal Parlemen

China: Industri Pertahanan Indonesia Masih Perlu Ditingkatkan

A200 long-range Multiple Launch Rocket System
(MDN), Salah satu pelaku industri pertahanan nasional China, Aerospace Long-March International Trade Co, Ltd (ALIT), mengatakan industri pertahanan Indonesia masih harus ditingkatkan performanya untuk mendukung tidak saja pembangunan pertahanan tetapi juga ekonomi nasional. "Bangsa yang kuat, dan mampu mensejahterakan rakyatnya tidak saja karena militernya yang kuat tetapi juga karena didukung industri pertahahan dan militer yang kuat," kata Wakil Presiden ALIT Yang Zhong, kepada Antara di Beijing, Senin.
 
Ditemui saat menerima para perwira siswa Pendidikan Reguler XXXIX Sesko TNI, ia menuturkan industri pertahanan yang kuat tidak saja mendukung militer yang kuat tetapi juga berimbas pada industri komersial lainnya. "Jika industri komersial berkembang maka pertumbuhan ekonomi akan jalan sehingga negara akan kuat baik secara militer, politik, maupun ekonomi," tuturnya.

Zhong menilai kebijakan Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono untuk merevitalisasi dan memberdayakan industri pertahanan nasional, sebagai kebijakan yang positif bagi tumbuh kembangnya industri pertahanan Indonesia di masa datang.

"Namun, kebijakan itu harus didukung dengan komitmen dan konsistensi yang kuat sehingga benar-benar berjalan dan efektif bagi industri pertahanan nasional bersangkutan. Dan yang terpenting adalah koordinasi dari masing-masing industri pertahanan harus berjalan, sehingga produk yang dihasilkan dapat sejalan dan sesuai kebutuhan," ujarnya.

ALIT merupakan salah satu industri pertahanan nasional China yang berdiri pada 2010 dengan memfokuskan diri pada ekspor impor peralatan pertahanan, anti terorisme dan anti huru-hara. Namun didukung teknologi kelas dunia dan riset serta pengembangan, manufaktur yang memadai, ALIT akan mengembangkan diri pada industri luar angkasa bersama mitra dari mancanegara.

Dihadapan 39 dosen dan siswa Sesko TNI, ALIT menampilkan berbagai produk peralatan pertahanan seperti bom FT-1 hingga FT-6, sistem senjata rudal baik rudal permukaan ke permukaan (surface-to-surface missiles), permukaan ke udara (surface-to-air missiles), maupun dari udara ke permukaan (air-to-surface missiles), A100 dan A200 long-range Multiple Launch Rocket System (MLRS), dan pesawat tanpa awak CH-3.

Dalam setiap pembelian, ALIT menyertakan pendidikan dan latihan untuk produk dimaksud, alih teknologi, termasuk riset serta pengembangan bersama. 

Atase Pertahanan Kedutaan Besar RI untuk China merangkap Mongolia, Kolonel Lek Surya Margono mengatakan ALIT telah melakukan penjajakan kerjasama dengan Indonesia. 

"Mereka telah melakukan beberapa kali penjajakan ke Indonesia tentang produk-produk dan teknologi pertahanan yang dimiliki. Yaa.. kita apresiasi," katanya.

Sumber : Analisa

Fregat Orizzonte Pengganti PKR Sigma 105

Fregat Orizzonte Pengganti PKR Sigma 105

MOSAIC 2.4
(MDN), Bulan Juni 2012 merupakan batas waktu (dead line), apakah proyek Korvet/ Light Fregat Nasional, Sigma 10514 diteruskan atau tidak, dengan PT Damen Schelde Naval Shipbuilding, Vissengen, Belanda.
 
Perjanjian dengan Damen Schelde, telah ditandatangani di PT PAL Surabaya, tahun 2010. Namun ketika membahas pembagian kerja, tidak ditemukan kesepahaman.
 
PT Damen Schelde hanya bersedia memberi sebagian pembangunan badan kapal, serta sedikit sistem intergrasi-nya. 
 
PT PAL menolak tawan tersebut. “Jika kita hanya mendapatkan pembangunan hull (badan kapal), dimana alih teknologinya ?. Kita sudah bisa membuat hull lebih besar dari Sigma 10514 yang akan menjadi dasar proyek Fregat Nasional”, Ujar pejabat PT PAL.

Orizzonte Light Fregat
 
 
Proyek Sigma 10514 tampaknya akan kandas di tengah jalan. Untuk itu, Indonesia kembali mendekati Orizzonte Sistemi Navali (Fincantieri), kontestan kedua tender korvet Indonesia.
 
Pada tahun 2007, telah ada kesepakatan antara Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono dengan Menteri Pertahanan Italia, Arturo Parisi, untuk membangun dua Korvet Nasional. 
 
Kriteria Korvet Nasional itu, mampu melakukan peperangan Anti Pesawat udara (AAW/Anti-Air Warfare), Peperangan kapal permukaan (ASuW/Anti-Surface Warfare), Peperangan Anti Kapal Selam (ASW/Anti- Submarine Warfare), dan Peperangan Elektronika (EW/Electronic Warfare).
 
Korvet Mosaic 2,2 ditawarkan ke RI tahun 2007

Pemerintah Italia sepakat dan menawarkan korvet kelas Orizzonte, tipe Mosaic 2,2. Italia menyiapkan kredit 85 persen. Sisanya ditanggung oleh Bank dari Indonesia.

“Kita akan melakukan produksi bersama, bukan sekedar membeli”, ujar Juwono Sudarsono, saat mengunjungi galangan kapal Orizzonte Sistemi Navali (Fincantieri) di La Spezia, Italia 2007. 
 

Korvet tersebut akan dibangun tahun 2008- 2011. Namun rencana itu tidak terwujud.
 
Korvet Orizzonte Mosaic 2,2
Hanya keajaiban yang bisa membuat PT PAL dan PT Damen Schelde dapat bekerjasama untuk membuat Korvet Nasional. Perbedaan pandangan antara PT PAL dengan PT Damen, sudah terlalu jauh.
 
Saat ini PT Damen Schelde sedang sibuk menyelesaikan tiga Sigma pesanan Maroko. Baru satu light fregat yang diserahkan pada September 2011. Damen Schelde juga sedang menggarap 4 korvet Sigma pesanan Vietnam.
 
Di tengah lesunya ekonomi Eropa, Fincantieri, kembali menawarkan berbagai Korvet dan Light Fregat kelas Orizzonte Mosaic.
 
Jika Indonesia ingin membangun light fregat sekelas Sigma 10514, pilihannya adalah Orizzonte Mosaic 2,4.
 
Light fregat ini memiliki panjang 100 meter, berat 2400 ton dan kecepatan maksimal 30 knot. Light frigate Mosaic 2,4 disiapkan Italia untuk peperangan di garis depan (blue navy). 
 
Mosaic 2,4 mampu mengubah arah secara mendadak dan mampu memunculkan suara mesin tiruan, untuk mengecoh kapal selam musuh.
 
Fregat Mosaic 2,4 didukung radar surveillance 3D multi fungsi, yang mampu menjejak sasaran dengan sangat cepat. Karena itu pula Angkatan Laut Israel, tertarik dengan fregat ini.
 
Senjata yang diusung: 
 
Canon 76/62 mm otomatis, dikontrol FCS (CIWS); 2 senjata mesin 25 mm; Senjata anti Pesawat (Vertical Launch System); Anti Kapal (SSM); Peluncur Roket dan Torpedo.

Perangkat Elektronik:
 
Electronic Support Measures (ESM pasif); Electronic Counter Measures (ECM aktif); Perangkat ASW, Hull Mounted Sonar (HMS), additional Variable Depth Sonar (VDS); sistem navigasi- telekomunikasi yang terintegrasi.Light fregat ini mampu mengakut helikopter OTHT seberat 11 ton.

Fregat La Fayette

Pilihan lain adalah Fregat kelas La Fayette Perancis. Singapura memiliki 6 fregat Formidable, turunan kelas La Fayette. Setengah diantaranya, dirakit di Singapura.

Indonesia tentunya bisa belajar ke Singapura. Apalagi hubungan Indonesia dengan Perancis terjalin baik, untuk proyek Panser Anoa, Rantis/ APC Sherpa. Kerjasama pembuatan PKR dengan Singapura mengacu fregat Formidable/ La Fayette sedang dijajaki Kementrian Pertahanan

Sumber : JakartaGreater

Pemerintah Anggarkan Rp. 3.9 Triliun Bangun Sepanjang Perbatasan

Pemerintah Anggarkan Rp. 3.9 Triliun Bangun Sepanjang Perbatasan

(MDN), Balikpapan, Kalimantan Timur: Pemerintah menyediakan anggaran Rp3,9 triliun membangun wilayah perbatasan darat Kalimantan-Malaysia Timur. Panjang garis perbatasan di sana hingga 2.000 kilometer dari barat ke timur. Provinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur berhadapan dengan Malaysia di Kalimantan berhadapan dengan dua negara bagian Malaysia, Sabah dan Sarawak.
 
Sekretaris Badan Nasional Pengelolaan Perbatasan (BNPP), Sutrisno, di Balikpapan, Selasa, menyatakan, "Anggaran untuk mengembangkan 39 kecamatan sepanjang perbatasan." Artinya, tiap kecamatan akan mendapat banyak sekali dana untuk memajukan wilayahnya. "Bagian dari tahapan pembangunan hingga 2025. Akan dibangun 187 kecamatan di 38 kabupaten di 12 provinsi. Rencana induk 2011-2014 sudah melibatkan 111 kecamatan," katanya. 

Sutrisno menghadiri Rapat Koordinasi Pembangunan Kawasan Perbatasan Kalimantan Timur. Rapat itu dibuka Wakil Menteri Pekerjaan Umum Hermanto Dardak. Anggaran dan perencanaan tersebut berkenaan perubahan cara pandang mengenai daerah perbatasan. Wilayah perbatasan, khususnya perbatasan darat dengan Malaysia di Kalimantan, kini dianggap sebagai beranda atau teras depan dari Republik Indonesia.
 

Perubahan cara pandang itu juga untuk mengimbangi pesatnya kemajuan pembangunan kota-kota negara tetangga tersebut yang letaknya tidak jauh dari kota-kota Indonesia, yang umumnya tertinggal. Pembangunan infrastruktur juga akan dibarengi pembangunan pada sektor energi, pendidikan dan kesehatan untuk membuka isolasi.
 

Bukan cuma pada aspek keseharian, karena TNI-AD berambisi menempatkan batalion-batalion kavaleri berat di garis perbatasan. Tank Leopard seberat 62 ton perunit akan dioperasikan di hutan belantara tropis bertanah gambut Kalimantan, dan berpangkalan di Bulungan, Kalimantan Timur. Masih didukung skuadron helikopter serbu AH-64 Super Cobra dengan berbagai peluru kendali dan roketnya.
 

Sumber: 
ANTARA News

Prototipe Jet Tempur KFX/IFX Siap 2013

Prototipe Jet Tempur KFX/IFX Siap 2013

IFX/KFX/F-33 STEALTH
Jet tempur Gen 4,5 Stealth (siluman) KFX/IFX/F33

Jurnas.com | PEMBUATAN pesawat jet tempur Korea Fighter Xperiment/Indonesia Fighter Xperiment (KFX/IFX) yang dilakukan bersama Korea Selatan terus mengalami perkembangan. Hingga saat ini, tim dari kedua negara tengah mengerjakan Technical Development Test (TDT).

Diharapkan prototipe pesawat tersebut telah jadi 2013. “Hingga saat ini TDT berjalan baik, dan tak mundur dari waktu yang ditentukan. Kalaupun mundur akan kami kejar,” kata Sekjen Kemhan Marsdya Eris Herryanto di Kantor Kementerian Pertahanan Jakarta, Kamis (24/5). 

Selanjutnya, para teknisi yang mengerjakan pembangunan pesawat akan memasuki Engineering Manufacturing Development (EMD). Sesuai rencana, fase EMD ini akan dikerjakan pada 2013. “Di tahun itu, telah ada enam unit prototipe pesawat KFX/IFX,” katanya.

Untuk mengerjakan pembangunan pesawat dengan skema joint production ini, Indonesia telah mengirimkan 40 orang teknisinya ke Korea pertengahan tahun lalu. Dana yang dibutuhkan untuk pembangunan pesawat ini mencapai US$8 miliar (sekitar Rp72 triliun). Indonesia mendapat porsi anggaran sebanyak US$1,6 miliar.

Pengembangan teknologi ini akan berlangsung selama 8 tahun hingga 2020. Persiapan produksi pesawat jet tempur baru dilakukan setelah 2020.
 
sumber : JURNAS

12 Penerbang Dikirim ke Brasil

12 Penerbang Dikirim ke Brasil

TNI AU Segera Miliki Empat Pesawat Tempur Super Tucano EMB-314
Super Tucano EMB-314
PDFPrint
Thursday, 31 May 2012
MALANG – Sebanyak 23 personel TNI Angkatan Udara terdiri atas 12 penerbang tempur dan 11 teknisi diberangkatkan ke Brasil sebagai persiapan kedatangan pesawat tempur ringan Super-Tucano. 

Infrastruktur di Skuadron 21 Lanud Abdurachman Saleh, Malang juga terus disempurnakan. Kepala Dinas Penerangan Angkatan Udara (Kadispenau) Marsekal Pertama TNI Azman Yunus mengungkapkan, ada petugas yang dikirim ke Brasil untuk masing-masing sistem dari pesawat itu, termasuk penerbang.“ Tentu yang dikirim adalah yang qualified. Mereka untuk membawa pesawat nanti ke Indonesia,” katanya saat kunjungan di Lanud Abdurachman Saleh Malang kemarin. 

Azman menuturkan, mereka yang diberangkatkan akan menularkan ilmunya kepada personel lain di Tanah Air. S.lain itu,Brasil juga akan mengirimkan teknisi ke Indonesia sehingga memudahkan proses penguasaan pesawat. Menurut Azman, pesawat Super-Tucano tidak serumit dengan pesawat-pesawat yang sekarang di miliki TNI Angkatan Udara di Lanud Abdurachman Saleh seperti Hercules. 

“Itu (Super-Tucano) mirip dengan pesawat KT1B di Yogyakarta,”imbuhnya. Kasihar Skuadron 21 Lanud Abdurachman Saleh Mayor Tek Anton Firmansyah mengatakan, sebanyak 12 penerbang yang dulunya menerbangkan pesawat OV-10F Bronco akan diberangkatkan ke Brasil.OV-10F Bronco merupakan pesawat yang sudah grounded dan akan digantikan Super-Tucano. 

Para penerbang tempur itu setelah OV-10F Bronco grounded tidak lagi berada di Skuadron 21 secara keseluruhan. “Mereka yang sudah tersebar itu dikumpulkan lagi untuk menerbangkan Super-Tucano,” ujar Anton. Selain mempersiapkan penerbang, di Skuadron 21 juga sudah dibangun shelter baru untuk sekitar enam Super-Tucano. Ada juga bangunan yang nanti digunakan sebagai tempat simulator.Adapun hanggar juga disempurnakan
 
sumber : SINDO

Mandiri dengan R-Han 122

Mandiri dengan R-Han 122



31 Mei 2012: Memiliki wilayah luas dengan belasan ribu pulau yang terpencar, Indonesia mengembangkan sistem pertahanan yang strategis untuk mengamankannya. Salah satu sarananya adalah roket. Kemandirian di bidang peroketan mulai dibangun dengan merintis pembuatan roket pertahanan R-Han 122.

Rancang bangun dan rekayasa roket pertahanan merupakan upaya Indonesia membangun kemandirian dalam pengadaan alat utama sistem pertahanan. Rintisan dimulai lewat prototipe roket pertahanan sistem balistik berdiameter 122 milimeter disebut R-Han 122.

Roket R-HAn 122 terus dilakukan uji coba sebelum diproduksi massal (all photos : DMC)

Roket pertahanan ini merupakan derivasi roket eksperimen rancangan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), D230 tipe RX1210.

Roket eksperimen (RX) dikembangkan untuk misi nonmiliter, seperti pemantauan cuaca, pemantauan pelayaran, pertanian, bencana, dan observasi untuk perencanaan tata ruang. Roket dimuati radio, kamera, dan sensor. Adapun roket untuk pertahanan (R-Han) dipasang bahan peledak, demikian paparan Hari Purwanto, Staf Ahli Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bidang Hankam.

Sebagai sarana yang dapat digunakan untuk tujuan militer, penguasaan teknologi peroketan tak mudah. Penyebarannya dipagari dengan beberapa aturan, antara lain, missile technology control regime dan center for information on security trade control.

Saat ini teknologi hankam tersebut hanya dimiliki negara tertentu. Di Asia negara yang tergolong maju dalam teknologi ini antara lain China, India, Korea Selatan, dan Korea Utara.

Kemampuan rekayasa dan rancang bangun peroketan sampai batas tertentu dimiliki oleh BPPT, Balitbang Kemhan, dan PT LEN Industri. Dengan kemampuan masing-masing lembaga, kata Gunawan Wibisono, Asisten Deputi Menristek Bidang Produktivitas Riset Iptek Strategis, terbentuk Konsorsium Roket Nasional tahun 2007.

Konsorsium terdiri dari Kementerian Ristek, Kementerian Pertahanan, TNI AL, lembaga riset (BPPT dan Lapan), perguruan tinggi (ITB, ITS, UI, UGM, dan Undip), serta industri strategis PTDI, Krakatau Steel, LEN Industri, Pindad, dan Perum Dahana. Konsorsium inti terdiri atas beberapa plasma yang menangani riset material, mekatronika, dan sistem kontrol atau kendali.

Kementerian Ristek menyediakan dana insentif untuk pembuatan prototipe roket. PTDI melaksanakan pengembangan struktur dan desain roket. PT Krakatau Steel menyediakan material untuk tabung dan struktur roket. Bahan bakar roket, yakni propelan, disediakan PT Dahana.

Bagian PTDI adalah membangun sarana peluncur roket dan sistem penembaknya dengan laras sebanyak 16. Kendaraan yang digunakan sebagai anjungan untuk peluncuran adalah jip GAZ buatan Rusia, Nissan Jepang, dan Perkasa buatan Tata, India.

Muatan Teknologi

Meski bentuk roket sederhana, tabung bermoncong lancip, pembuatannya tidak sederhana. Di dalamnya termuat berbagai komponen berteknologi mutakhir, seperti material maju, mekatronika, dan propulsi.

Dibandingkan roket generasi lama, R-Han 122 mengalami beberapa pengembangan desain dan material. Pada roket eksperimen menggunakan baja. Pada R-Han digunakan aluminium dan karbon yang dua kali lebih ringan. Bahan itu lebih tahan panas. Untuk menjaga kestabilan dan daya jangkau yang tinggi, material yang digunakan harus tahan terhadap suhu 3.000 derajat celsius, kata Ketua Program Penggabungan Roket Nasional Sutrisno.

Pengembangan lain pada konstruksi roket, pada versi terdahulu, roket menggunakan sirip tetap. Untuk meluncurkan, roket harus ditumpangkan pada peluncur dilengkapi rel. Pada roket generasi baru dipasang sirip lipat yang dilengkapi pegas yang akan menegakkan sirip secara otomatis setelah keluar dari tabung peluncur.

Pada roket terdahulu, tabung propelan diisi langsung dan terikat permanen di tabung roket. Kini tabung propelan dibuat terpisah dan diberi lapisan isolasi termal. Saat ini bahan propelan masih diimpor. Untuk membangun kemandirian, pabrik propelan akan dibangun PT Dahana.

Untuk wahana peluncur, dilakukan modifikasi kendaraan jip berbobot 2,5 ton dan truk berkapasitas 5 ton. Dirancang pula bangun unit peluncur yang memuat 16 roket dan mampu meluncurkan secara otomatis sejumlah roket tersebut dengan hanya menekan satu tombol.

Uji Peluncuran

Adi Indra Hermanu, Kepala Subbidang Analis Teknologi Hankam Kementerian Ristek, menyatakan, uji coba peluncuran roket R-Han 122 dilaksanakan akhir Maret di Baturaja, Sumatera Selatan. Sebanyak 50 roket diluncurkan di hutan lindung itu. ”Roket R-Han 122 yang diluncurkan rata-rata mampu melesat dengan kecepatan 1,8 mach atau 2.205 km per jam,” ujarnya.

Pada tahap peluncuran, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika berperan mengoperasikan sistem radar untuk memantau posisi jatuh roket. ITB memasang sistem kamera nirkabel untuk merekam gambar saat roket meluncur sampai di lokasi sasaran.

Dalam penggunaannya, R-Han 122 pada tahap awal akan menjadi senjata dengan sasaran target di darat yang berjarak tembak 15 km. Roket ini akan digunakan TNI AL untuk pengamanan pantai.

Menurut Sonny S Ibrahim, Asisten Direktur Utama PTDI, tahun ini tahap pengembangan teknis selesai. Persiapan industrialisasi saat ini sudah 80 persen.

Sumber: KOMPAS