Rabu, 03 April 2013

DIKAITKAN DENGAN HAK ASASI MANUSIA, RI ABSTAIN ATAS TRAKTAT SENJATA PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA

Foto : Menlu RI Marty Natalegawa (Doc Okezone)


Jihad-Defence-Indonesia - JAKARTA :  Traktat perdagangan senjata yang disepakati di sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), menunjukan adanya dukungan dari 155 negara. Tetapi Indonesia memutuskan untuk abstain, apa yg membuat indonesia mengambil pilihan itu?

Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Marty Natalegawa menyatakan, pada dasarnya indonesia mendukung traktat itu. Tetapi indonesia memiliki pertimbangan lain.

"Betul memilih abstain terhadap treaty ini. Dari segi azas manfaat indonesia sepenuhnya mendukung, namun teks atau draft yang diajukan untuk dipungut suarakan menurut indonesia dan beberapa negara lain ada beberapa hal yang dipertimbangkan secara seksama," ujar menlu marty, di kementerian luar negeri RI, Jakarta, Rabu (3/4/2013).

"Naskah atau draft diajukan di sidang Majelis Umum PBB antara lain menyatakan atau memberikan kesan, bahwa penjualan alusista akan ditentukan atau dipengaruhi oleh kondisionalitas dimana, dikaitkan dengan  pelanggaran hak asasi manusia. Penilaian akan diberikan oleh eksportir (pedagang senjata)," jelasnya.

"Bagi kita penetapan kondisionalitas itu berpotensi bertentangan dengan pasal  43 ayat 5 UU NO 16 Tahun 2012 tentang industri pertahanan, yang intinya menyatakan bahwa indonesia dilarangan melakukan import senjata apabila ada kondisionalitas politik," tutur marty.

Menlu menambahkan, hal ini yang harus diperhatikan dan diserasikan antara UU di indonesia dan adanya klausul traktat yang diajukan yang mengesankan adanya kondisi politik dari suatu negara dalam melakukan perdagangan senjata.

Ada kemungkinan sikap abstain indonesia ini akan berubah pada pertemuan lanjutan mengenai pembahasan traktat tersebut. Menurut Menlu, yg dihasilkan dari sidang Majelis Umum PBB belum mengikat. Juni mendatang proses tersebut akan berlanjut.


Berikut Alasan Indonesia Abstain di Traktat Perdagangan Senjata Perserikatan Bangsa-Bangsa

Menlu Australia Bob Carr, Menlu RI Marty Natalegawa, Menhan Australia Stephen Smith MP dan Menhan RI Purnomo Yusgiantoro saat jumpa pers bersama di Kementerian Luar Negeri Indonesia, Rabu, 3/4 (Jaringnews/Johannes Sutanto de Britto)

Indonesia menyatakan abstain saat voting Traktat Perdagangan Senjata Global di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN). Traktat itu adalah perjanjian internasional pertama yang mengatur tentang perdagangan senjata di dunia. Perjanjian ini bertujuan untuk memaksa negara-negara anggota PBB mengatur ekspor senjata.

Tidak semua negara menyambut baik pembentukan traktat tersebut. Iran, Suriah, dan Korea Utara menolak menyetujui traktat itu dalam proses voting. Sedangkan Indonesia, China, Rusia, dan 20 negara lainnya memilih untuk abstain. Total 155 negara menyetujui traktat tersebut. Berikut ini alasan Indonesia menyatakan abstain atas traktat tersebut.

"Indonesia abstain atas treaty ini. Dari segi azas manfaat Indonesia sepenuhnya mendukung, namun teks atau draft yang diajukan harus dipertimbangkan secara seksama," aku Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Marty Natalegawa saat menggelar jumpa pers bersama dengan Menhan Australia Stephen Smith MP, Menhan Indonesia Purnomo Yusgiantoro dan Menlu Australia Bob Carr di Gedung Nusantara, Jakarta, Eabu, 3/4.

Marty menambahkan naskah atau draft itu memberikan kesan bahwa penjualan alusista akan ditentukan atau dipengaruhi oleh kondisionalitas pelanggaran hak asasi manusia. Lebih memprihatinkan, penilaian tersebut akan diberikan oleh pihak eksportir.

"Bagi kita penetapan kondisionalitas itu berpotensi bertentangan dengan pasal  43 ayat 5 UU NO 16 Tahun 2012 tentang industri pertahanan yang intinya menyatakan bahwa Indonesia dilarangan melakukan import senjata apabila ada kondisionalitas politik," pungkas Marty.

Sumber : KLIK DISINI , KLIK DISINI

CYBER DEFENCE MASUK DALAM AGENDA PERTEMUAN TAHUNAN KEMENTERIAN PERTAHANAN RI DAN AUSTRALIA

Cyber Defence Masuk Dalam Agenda Pertemuan Tahunan Kemhan RI - Australia

Jihad-Defence-Indonesia - Jakarta : Menteri Pertahanan Australia Stephen Smith MP, Rabu (3/4) bertemu dengan Menteri Pertahanana Republik Indonesia (RI) Purnomo Yusgiantoro di Kantor Kementerian Pertahanan (Kemhan), usai mengikuti Upacara Peletakan Karangan Bunga dilanjutkan dengan Tabur Bunga di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.Courtesy Call antara Menteri Pertahanan kedua negara ini dilanjutkan dengan pertemuan bilateral antara Menhan  dengan Delegasi Australia yang dipimpin oleh Menhan Australia. Usai Bilateral Meeting, Menhan Purnomo Yusgiantoro dan Australia Minister of Defence Stephen Smith menuju ke Kementerian Luar Negeri untuk melaksanakan pertemuan two plus two yaitu pertemuan antara Menteri Pertahanan  dan Menteri Luar Negeri RI dengan Menteri Pertahanan dan Menteri Luar Negeri Australia.
Dalam pembukaan bilateral meeting oleh Menhan Purnomo Yusgiantoro, dijelaskan  Menhan RI tentang keinginannya memasukkan tiga agenda penting untuk dibahas dalam pertemuan tahunan di bidang pertahanan (Annual Meeting) antara Indonesia dan Australia yang dijadwalkan akan berlangsung di Perth Australia pada Bulan Juni mendatang.

Tiga bahasan tersebut adalah mengenai; cyber defence, RUU Komponen Cadangan dimana Australia sudah memilikinya sementara Kemhan RI sedang dalam tahap penyusunan draft RUU nya, dan paparan white paper pertahanan Indonesia. Hal itu dimaksudkan sebagai tindak lanjut dari paparan white paperpertahanan Australia yang dilakukan oleh Pemerintah Australia beberapa waktu lalu kepada Kemhan RI. Menhan Purnomo Yusgiantoro juga berharap di masa mendatang paparan White Paper Australia dapat dilakukan dengan melibatkan organisasi penelitian strategis (think tank) dari Indonesia seperti yang juga dilaksanakan Pemerintah Australia di Thailand dan Malaysia.

Selain itu, dalam bilateral meeting ini dibahas pula mengenai proses up-grade pesawat C-130 milik Indonesia yang dilakukan di perusahaan Quantas Australia. Menhan mengharapkan proses up-gradetersebut dapat dipercepat sehingga pada tahun 2015 sudah empat atau lima pesawat yang dapat siap digunakan. Hal itu juga berhubungan dengan anggaran pertahanan dan sistem pelaporannya.
Menhan Purnomo Yusgiantoro dalam bilateral meeting juga membahas mengenai kemungkinan peningkatan kerjasama di bidang pendidikan dan pelatihan untuk personel TNI dan Kemhan sebagai upaya peningkatan SDM, juga mengenai peran penting IKAHAN (Ikatan Alumni Pertahanan) dalam membangun hubungan baik antar personel pertahanan kedua negara. Menhan RI berharap Menhan Australia juga mendukung keberadaan IKAHAN ini.
Sementara itu Menhan Australia Stephen Smith, MP menyambut baik dimasukkannya cyber defence dalam bahasan di pertemuan tahunan di bidang pertahanan antara kedua negara. Dirinya juga menyambut baik keberadaan IKAHAN dan mendorong penuh hubungan yang terjalin antara personel TNI dan angkatan bersenjata Australia. Selanjutnya, Menhan Australia mengusulkan dllakukannya pembicaraan trilateral antara Indonesia, Australia dan Timor Leste, serta Indonesia, Australia dan India.
Pada rangkaian kunjungannya ke Indonesia, Menhan Stephen Smith MP juga melakukan kunjungan kehormatan kebeberapa Menteri lainnya, seperti Menkopolhukkam Rl Djoko Suyanto dan Menteri Luar Negeri RI, Marty Natalegawa. Turut serta dalam delegasi Australia mendampingi Menhan The Hon. Stephen Smith MP General, Chief of the Defence Force David John Hurley, Australian Secretary of Defence Mr. Dennis Richardson, dan Head of the Australian Defence Staff, BG. John Gould.

Sumber : KLIK DISINI

PANGKALAN UDARA SUPADIO TNI-AU DITINGKATKAN MENJADI TYPE A




Jihad-Defence-Indonesia - PONTIANAK : Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Ida Bagus Putu Dunia menyatakan status Pangkalan Udara (Lanud) Supadio Pontianak, Kalimantan Barat, ditingkatkan menjadi pangkalan tipe A sehingga komandannya nanti seorang perwira tinggi TNI-AU berpangkat Marsekal Pertama.

"Maka prosesnya pun kami berupaya juga meningkatkan alat utama sistem persenjataan di samping pesawat Hawk ada juga nantinya pesawat tanpa awak," ujar dia di sela-sela kunjungan kerja di Bandara Supadio Pontianak, Selasa 2 April 2013.

Putu Dunia mengatakan penambahan pesawat tanpa awak memasuki 2014 nanti masih masuk dalam tahap pertama. Saat ini pesawat tanpa awak yang ada pun baru empat unit. 

Pemerintah sendiri sudah mengalokasikan penambahan pesawat tempur untuk TNI-AU. Untuk tahun 2014 nanti saja TNI AU akan kedatangan pesawat tempur F 16, pesawat T 50, pesawat Hercules, helikopter dan lainnya. "Penambahan ini akan terus dilakukan sampai tahun 2024 karena ini juga merupakan komitmen dari Menteri Pertahanan untuk memajukan pencapaian programnya," katanya.

Putu Dunia menegaskan, untuk penerbangan udara dari TNI-AU sejauh ini tidak ada yang menyalahi aturan karena pihaknya beroperasi sesuai aturan yang ada. "Soalnya dalam memonitoring penerbangan, kami sudah 90 persen mampu mengcovernya melalui titik-titik radar yang kami pasang," ucapnya.

Putu Dunia menyampaikan bahwa penambahan kekuatan yang ada saat ini bukanlah terkait dengan masalah perbatasan antar negara, melainkan ini merupakan kewajiban suatu negara dalam mengamankan wilayah. "Tentulah semua negara harus siaga mengamankan wilayahnya, bukan terpaku dengan masalah perbatasan," katanya.

Sumber : KLIK DISINI

UKRAINA PERNAH TAWARKAN KERJASAMA PERTAHANAN KE RI

MBT T-84 Oplot Ukraina


Jihad-Defence-Indonesia - Jakarta :Kunjungan Komisi Pertahanan dan Luar Negeri (Komisi I) Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) ke Ukraina disebutkan merupakan bagian dari rentetan pertemuan sebelumnya di antara delegasi kedua parlemen, demi membangun kerja sama lebih erat di bidang pertahanan. 

Disampaikan oleh Ketua Komisi I DPR, Mahfudz Siddiq, rencana kunjungan kerja (kunker) mereka ke Ukraina beberapa waktu mendatang itu adalah sebagai upaya kerja sama untuk mengembangkan industri pertahanan. Disebutkannya, beberapa waktu lalu pihak pemerintah dan Parlemen Ukraina memang mengajukan tawaran kerja sama kepada Indonesia untuk pengembangan industri pertahanan. 
"Karena memang dulu, saat rezim (Uni) Soviet, Ukraina menjadi salah satu pusat industri militer," kata Mahfudz di Jakarta, Rabu (3/4).

Tawaran kerja sama industri pertahanan dari Ukraina itu pun dianggap sebagai hal penting dan menarik. Oleh karenanya, Komisi I berencana berkunjung ke sana, demi menjajaki kemungkinan itu sekaligus melihat kapasitas industri pertahanan Ukraina.

"Kami akan mengajak beberapa industri dalam negeri, untuk menjajaki peluang kerja sama industri pertahanan Indonesia dengan Ukraina," kata Mahfudz lagi.

"Ukraina menarik untuk kerja sama. Saya memang mengusulkan kunjungan hanya Komisi I, tapi berencana mengajak kalangan industri (terkait) seperti PT Pindad, Kemhan dan lainnya," tambahnya.

Sumber : KLIK DISINI

RI DAN AUSTRALIA PERKUAT KERJASAMA PERTAHANAN

Menteri Pertahanan Republik Indonesia Purnomo Yusgiantoro


Jihad-Defence-Indonesia - Jakarta : Pertemuan pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Australia, Rabu, menyepakati penguatan kerja sama di bidang pertahanan, termasuk peningkatan penjagaan wilayah maritim, industri pertahanan, dan pelatihan antarpersonel.

"Kerja sama antarpemerintah ini juga meningkatkan relasi dalam konteks `people to people`, untuk meningkatkan kerja sama bidang pertahanan antarkedua negara," kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro kepada pers di Jakarta, Rabu.

Pertemuan antara Indonesia dan Australia yang diberi nama "2+2" ini, ujar Purnomo, juga merupakan implementasi hasil kesepakatan dari pertemuan tahunan antarkedua negara pada 2012. Pada beberapa pertemuan, Indonesia dan Australia gencar mendiskusikan masalah keamanan maritim, wewenang penjagaan wilayah laut, industri pertahanan dan pelatihan antarpersonel.

"Kita membutuhkan koordinasi yang solid dalam penjagaan wilayah maritim di kedua negara," kata Menhan Purnomo.

Koordinasi yang solid untuk penjagaan wilayah maritim, misalnya dapat diimplementasikan dengan upaya patroli bersama untuk menutup celah berbagai tindak kejahatan yang dapat mengganggu pertahanan kedua negara.

Dalam pembicaraan itu, kata Purnomo, terdapat juga pembahasan mengenai industri pertahanan seperti model empat pesawat Hercules C130 yang diberikan Australia kepada Indonesia pada 2012.

"Terima kasih atas hal itu, dan itu akan menjadi hal tambahan dalam pembicaraan dan kesepakatan berikutnya," ujar Purnomo.

Pembicaraaan juga berlanjut mengenai kesepakatan untuk menggelar latihan bersama satuan personel pertahanan Indonesia dan Australia yang akan digelar di Sydney tahun ini.

"Kami juga membicarakan mengenai pendidikan, pelatihan personel, dengan melibatkan beberapa satuan seperti Kopassus, dan juga strategi misi kemanusiaan bencana alam," ujar Purnomo.

Menteri Luar Negeri Indonesia (Menlu) RI Marty Natalegawa, yang juga perwakilan Indonesia dalam pertemuan itu, mengatakan konsolidasi antarkedua negara semakin kokoh dengan banyaknya inisiatif dari kedua belah pihak untuk meningkatkan pertahanan.

"Hubungan kedua negara dari pertemuan ini sangat komprehensif dan juga semakin rutin berkomunikasi. Selain pertemuan tingkat menteri ini, nanti juga ada pertemuan tingkat Kepala Negara antara Presiden dengan Perdana Menteri Australia, pada pertengahan tahun," ujar Menlu Marty.

Menteri Pertahanan Australia Stephen Smith menyatakan Indonesia merupakan negara yang sangat penting dna berpengaruh dalam rangka peningkatan keamanan wilayah negaranya.

"Kerja sama operasional di bidang pertahanan semakin kuat dibanding yang lalu, Indonesia adalah negara penting di regional," ujarnya.

Pertemuan selanjutnya antara Indonesia dan Australia untuk membahas kerja sama bidang pertahanan akan dilakukan di Perth, Australia pada tahun ini.


Sumber : KLIK DISINI

KEMENTERIAN PERTAHANAN RI DAN ISUZU ASTRA MOTOR INDONESIA JALIN KERJASAMA PENGADAAN TRUK MILITER



Jihad-Defence-Indoensia -Jakarta  : Kementerian Pertahanan Republik Indonesia (Kemnhan RI) menargetkan akan mempercepat realisasi program modernisasi alat utama sistem persenjataan (Alutsista) sampai tahun 2014 untuk mencapai kekuatan pertahanan negara sampai pada kekuatan pokok minimum. 

Salah satunya adalah dengan melakukan pengadaan alat berat berupa truk militer seberat 2,5 ton dan 5 ton sejumlah 1000 unit. Diharapkan alat berat tersebut dapat difungsikan sebagai alat angkut barang dan prajurit TNI yang pada akhirnya dapat memperkuat pertahanan negara. Hal tersebut terungkap saat Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menerima Presiden Direktur PT. Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI) MR. Isikawa beserta rombongan di kantor Kemhan, Rabu (3/4). 

Untuk itu, Kemhan memandang penting untuk melakukan kerjasama dengan IAMI dalam memproduksi truk militer 2,5 ton dan 5 ton yang baru pertama kali diadakan. Wamenhan berharap kerjasama ini dapat terealisasi sebelum semester kedua pada bulan Oktober 2014.

Lebih lanjut dikatakan Wamenhan, dalam pengadaan truk militer 2,5 ton dan 5 ton ini dapat memfasilitasi personel TNI untuk mobilisasi. Untuk itu dalam pembuatannya diharapkan dapat memenuhi spesifikasi teknis atau military specification yang dibutuhkan TNI dan dalam pengirimannya (delivery) dapat dilakukan secara bertahap.

Menanggapi hal tersebut, Presdir IAMI menyatakan terdapat aspek teknis dalam pengadaan truk militer 2,5 ton dan 5 ton tersebut yaitu aspek availability atau aspek ketersediaan barang dengan tujuan untuk mempercepat jangkauan pelayanan. 

 Dalam aspek teknis dibutuhkan dukungan baik dari pemerintah Jepang maupun dari distributor lokal yang tersebar di wilayah Indonesia seperti di Jakarta, Makassar, Surabaya, Medan, Banjarmasin dan Balikpapan.

Selain itu akan diadakan pelatihan secara periodik dengan satuan-satuan TNI yang berada di daerah-daerah atau kodam-kodam. Disamping itu juga, IAMI mengadakan program after sales service atau technical advisor dengan melakukan konsultasi secara berkala dan field advisor pada saat menghadapi permasalahan teknis ataupun pada kondisi baik.

Selain itu terdapat juga aspek affordability atau aspek keterjangkauan yang bertujuan untuk memberi dukungan spare part dengan harga yang kompetitif. Untuk program maintenance, akan diadakan pelatihan secara periodik di satuan-satuan TNI di daerah, baik dalam pengoperasian maupun repair and maintain.

Untuk mendukung hal tersebut, akan diperkuat dengan Memorandum of Understanding (MoU) sebagai payung hukum atau pegangan yang kuat untuk meningkatkan kerjasama dan solidaritas. Selain di Indonesia, produk ini juga diperkenalkan diberbagai negara seperti di Thailand.

Sumber : KLIK DISINI

KOMANDO ARMADA TIMUR TNI-AL AKAN UJI SENJATA STRATEGIS DI LAUT JAWA


Rudal C 802 Ditembakkan dari KRI Layang
Jihad-Defence-Indonesia - Surabaya : Sukses melaksanakan latihan Parsial III Operasi Amfibi, Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) kembali akan mengadakan uji coba senjata strategis yang bersandikan “ Gladi Parsial IV” yang akan dilaksanakan di Laut Jawa. Rabu (3/4/2013) Koarmatim telah menggelar Latihan Pos Komando (Latposko) bertempat di Gedung Pusat Latihan Kapal Perang (Puslatkaprang) Kolatarmatim, Ujung, Surabaya.
Latihan uji coba senjata strategis yang akan dilaksanakan di Laut Jawa ini merupakan uji coba Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT) yang dipersiapkan untuk Latihan Gabungan TNI Tahun 2013. Dimana dalam latihan ini, TNI akan menggelar latihan yang melibatkan tiga unsur kekuatan matra TNI, yaitu matra darat, matra laut dan matra udara.

Untuk latihan uji coba senjata strategis kali ini Koarmatim akan mengerahkan kapal-kapal perangnya sebanyak 13 kapal perang dari berbagai tipe, dengan berbagai senjata andalan strategis yang dimiliki oleh masing-masing kapal perang tersebut. Kapal perang atau KRI yang terlibat itu antara lain KRI Sultan Hansanudin-366, KRI Frans Kaisiepo-368, KRI Sultan Iskandar Muda-367, KRI Yos Sudarso-353, KRI Abdul Halim Perdana Kusuma-355,KRI Hiu-804 KRI Kerapu-812,KRI Kakap-811,KRI Cut Nyak Dien-375, KRI Sutanto-877, KRI Makasar-590, KRI Cakra-401 serta 1 helkopter dan pesawat Cassa sebagai Patroli Maritim.

Senjata strategis yang akan diujicobakan itu antara lain, Rudal C-802, Rudal exocet MM-40, RBU-6000 dan torpedo sut. Torpedo Sut akan ditembakkan oleh Kapal selam KRI Cakra-401, Rudal Exocet MM-40 akan ditembakan oleh kapal Sigma Class buatan Belanda, Rudal C-802 akan ditembakan oleh kapal jenis Vanspeijkh juga buatan Belanda dan RBU 6000 akan ditembakan oleh kapal jenis Parcim. Kapal perang yang melakukan penembakan senjata strategis ini merupakan Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) dari Satuan Kapal Eskorta (Satkor) dan Satuan Kapal Selam (Satsel) Koarmatim.

Mesin-mesin perang Koarmatim ini akan segera bergerak menuju Laut Jawa, seusai melaksanakan Tactical Floor Game (TFG) dan Tactical Game (TG) di Pusat Latihan Elektronika dan Pengendalian Senjata (Puslatlekdalsen) Komando Pengembangan dan Pendidikan TNI Angkatan Laut (Kobangdikal) tanggal 4-9 April mendatang.

Materi latihan yang akan dilaksanakan meliputi cek komunikasi, keluar pelabuhan, melewati medan ranjau/ Mine Field Transit, pertahanan udara/Adex, Screen Exercise, Aswex dan penembakan RBU-6000, Helly Cross Deck/Touch and Go Exercise, Gunnex sasaran tomatto Killer, Sul sasaran Tomatto Killer, prosedur penembakan exocet MM-40, prosedur penembakan rudal C-802, prosedur penembakan torpedo Sut, Anti Air Rapid Open Fire Exercise (AAROFEX) dan masuk pelabuhan.

Latihan ini bertujuan untuk memantapkan profesionalisme prajurit matra laut dan kesiapsiagaan KRI atau pesawat udara guna melaksanakan manuver taktis penembakan senjata strategis dalam rangka mendukung latihan gabungan TNI Tahun 2013.

Sumber : KLIK DISINI

TNI-AL SETUJUI 50 DESAIN AWAL KAPAL SELAM DSME



Jihad-Defence-Indoneisa - Seoul : Sebuah upacara untuk memperingati selesainya desain dasar kapal selam Indonesia yang diadakan pada tanggal 18 Maret. Hal Ini merupakan untuk pertama kalinya Korea mengekspor kapal selam.  sehingga galangan DSME banyakmenerima perhatian media saat menandatangani kontrak.

Saat ini DSME telah memiliki 50 gambar desain awal yang telah disetujui oleh Angkatan Laut Indonesia dan selanjutnya mulaimendesain struktur dan desain produksi. Kapal selam Indonesia akan dibangun sepenuhnya oleh DSME bukan tergantung pada teknologi Jerman. DSME juga akan melaksanakan desain dan pasokan bahan baku secara mandiri.

Dalam upacara tersebut, perwakilan Indonesia mengatakan, "DSME dan Angkatan Laut Indonesia memiliki hubungan yang baikmelalui pemeliharaan depot kapal selam. Kami sangat percaya teknologi DSME. "

Sumber : KLIK DISINI

ANALISIS: WASPADAI ANCAMAN ASING DI PERBATASAN INDONESIA

http://www.theglobal-review.com/images/news/Perbatasan%20RI.jpg

Jihad-Defence-Indonesia - Jakarta : Isyarat Karen Brooks, bahwa Arab Spring (Musim Semi Arab) yang melanda Tunisia, Mesir dan lain-lain sesungguhnya belajar dari aksi massa di Indonesia dekade Mei 1998-an (gerakan reformasi) yang mengakibatkan tumbang rezim Orde Baru dari tampuk kekuasaannya. Kajian Brooks di atas, selain sangat informatif juga mutlak dicermati terkait perkembangan situasi kini dan kedepan. Dengan kata lain, apakah “dalang” dan “pemilik hajatan” dari maraknya gerakan massa sekarang ini di beberapa negara juga ada link up dan satu komando? Inilah asumsi yang perlu bangunan.

Contoh lain, mengapa operasi Central Intellegence Agency (CIA), Amerika Serikat (AS) tatkala menggusur Salvador Allende di Chilie (1973) bersandi "Operasi Jakarta"? Apakah sekedar tiruan pola, atau modusnya identik ketika CIA menggusur Bung Karno dekade 1965-an tempo hari? Niscaya ada link up atas kedua peristiwa tersebut kendati secara fisik terpisahkan oleh ruang dan waktu. Buku “Tangan-Tangan Amerika, Operasi Siluman AS di Pelbagai Belahan Dunia” karya Hendrajit dkk sekurang-kurangnya mengurai teka-teki itu. Silahkan disimak sendiri. Retorika nakal pun timbul: jangan-jangan dinamika politik yang kian memanas di Bumi Pertiwi sekarang hendak disamakan pula dengan tata pola Arab Spring di Jalur Sutera?

 

Teringat statement  Alan Weinstein (1991), salah satu pendiri National Endowment for Democracy (NED): “banyak dari apa yang kita (NED) kerjakan, secara diam-diam dilakukan 25 tahun lalu oleh CIA” . Retorika lagi: bukankah Musim Semi Arab, yakni aksi-aksi massa non kekerasan di Jalur Sutera merupakan hasil kerja NED melalui salah satu anak organisasi yang bertitel Central Applied Non Violence Action and Stategic (CANVAS); apakah gerakan NED identik dengan operasi CIA?

 

Pertanyaan dan beberapa retorika di atas hanya prolog artikel sederhana ini, jadi tidak harus dijawab secara jelas namun sekedar menggiring kerangka asumsi bahwa tidak ada peristiwa (politik) apapun serta dimanapun, terjadi secara kebetulan. Semua pasti ada proses bahkan by design secara konseptual.

 

Menyikapi geliat politik glamour namun tak bermakna apa-apa bagi kepentingan nasional RI menjelang 2014, diyakini banyak kekuatan luar (asing) turut meremot baik secara langsung maupun tak langsung terhadap dinamika politik di negeri kaya sumberdaya alam (SDA) seperti Indonesia. Konflik lokal adalah bagian dari konflik global. Asumsi jitu, kiranya tak bisa dipungkiri. Politik praktis bukanlah yang tersurat melainkan apa yang tersirat. Ini juga sering terbukti, dan seterusnya.

 

Pendudukan tentara Kesultanan Sulu di Sabah sebagai misal, bukanlah faktor tunggal berbasis romantisme masa lalu sebagaimana rumor selama ini, bahwa Sultan Sulu ingin Sabah kembali menjadi bagian wilayahnya --- itu hanya dalih yang membonceng dalam isue sengketa perbatasan yang kini bersemi di sekeliling Laut Cina. Akan tetapi penyerbuan Sulu (diduga) atas “undangan” Anwar Ibrahim, sosok oposisi Malaysia yang melayani hegemoni Barat serta terkait Pemilu 2013 di Negeri Jiran. Kenapa demikian, selain Anwar diinstal (dirancang) Wall Street menjadi Head of Malaysia, juga diprakirakan ---merujuk pola dan model kolonialisasi--- bahwa muara atau ujung daripada serbuan pasukan Sulu ke Sabah diduga keras adalah kontrak ulang serta re-negoisasi atas konsesi minyak dan gas di Sabah yang dimonopoli oleh Petronas, “Pertamina”-nya Negeri Jiran. Ingat teori Deep Stoat: “If you would understand world geopolitic today, follow the oil”. Ya, jika ingin memahami geopolitik dunia hari ini, ikuti aliran minyak.  

 

Geopolitik Sabah memang menggiurkan. Free Malaysia Today memberitakan, tahun 2011 ia memiliki cadangan minyak 1,5 miliar barrel, sedangkan cadangan gas alam tercatat 11 triliun kubik. Telah diketemukan beberapa sumber minyak dan gas (migas) baru di Sabah diramalkan kian menambah tinggi cadangan migas Malaysia. Kekayaan SDA-nya dikelola Petronas, perusahaan minyak yang berdiri tahun 1974 dan dimiliki oleh pemerintah federal. Dalam sebuah perjanjian yang ditanda tangani tahun 1975, ia menerima royalti sebesar 5% dari nilai kotor produksi minyak. Di tahun 2011 saja, Petronas meraup keuntungan atas penjualan minyak Sabah senilai RM 15 miliar atau sekitar Rp 47 triliun. Luar biasa!

 

Lain Deep Stoat, beda pula Global Future Institute (GFI), lembaga kajian masalah-masalah internasional, Jakarta pimpinan Hendrajit awal 2013 membangun asumsi (teori yang dianggap benar) setelah menyimak, mencermati, mengkaji dan menimbang berbagai konflik di banyak belahan dunia, yakni:

“bahwa mapping konflik dari kolonialisasi yang dikembangkan Barat, hampir dipastikan segaris/satu route bahkan pararel dengan jalur-jalur SDA terutama bagi wilayah (negara) yang memiliki potensi besar atas minyak, emas dan gas alam”.

 

Asumsi GFI jelas tersirat makna, apakah konflik-konflik yang terjadi di “jalur basah” sengaja dibuat oleh para adidaya terkait kepentingan geopolitik selaras kajian Deep Stoat, memang tergantung seberapa tajam pisau dan sejauhmana analisa insight(menyelam) dalam rangka mencermati konflik di permukaan. Lihatlah ethnic cleansing di Rohingya, atau konflik antar suku di Lampung Selatan, cermati konflik aliran dalam agama di Sampang, Madura, dll kenapa dipicu oleh modus-modus sama yaitu pelecehan seksual serta berujung relokasi penduduk (‘terusir’) yang hidup di atasnya. Sejauh ini, adakah kajian menyelam hingga bawah permukaan? Lagi - lagi pertanyaan ini harus dikubur dalam-dalam.

 

Dalam diskusi terbatas (22/3/2013) di Forum KENARI (Kepentingan Nasional RI) yang dimentori Dirgo D Purbo, pakar geopolitik dan dosen di berbagai perguruan tinggi Indonesia, terkuak pointers bahwa Sabah – Philipina -- Kalimantan Utara (Kaltara) disebut Hot Triangel dan diplot sebagai daerah yang memiliki potensi minyak dan gas alam 'seabrek-abrek' (banyak sekali). Dan tampaknya Ambalat masuk pada plot tersebut. Layak diwaspadai dikemudian hari adalah, selain ancaman Malaysia terhadap Ambalat semata-mata karena what lies beneath the surface (apa yang terkandung di bawah permukaan) pulau dimaksud, juga adanya hipotesa bahwa pemekaran Kaltara ialah langkah permulaan dari modus kolonialisasi memindah konflik Moro, atau konflik Sabah ke Kaltara. Siapa dulu mengawali konflik di Moro? Malaysia pun mengakhiri.

 

Ingat pola kolonialisme baik asimetris (non militer) maupun simetris (militer) yang sering dimainkan oleh Barat. Urut-urutannya, pasca ditebar isue aktual bakal timbul tema, baru setelah itu skema kolonial muncul belakangan. Dan lazimnya skema kolonialisasi dimanapun ujungnya adalah: "penguasaan pilar ekonomi dan pencaplokan SDA". Perang Irak (2003) misalnya, setelah ditebar isue senjata pemusnah massal, dilanjut dengan tema “invasi militer” oleh Paman Sam dan sekutu, sedang skema yang terlihat adalah kapling-kapling SDA oleh negara yang terlibat invasi militer ke Negeri 1001 Malam. Ini pola simetris. Sedangkan model asimetris biasanya lebih soft lagi halus. Misal disebar dahulu isue flu burung di sebuah wilayah (negara), maka tema yang akan dimunculkan daging mahal atau daging langka, kemudian skema yang ditancapkan ialah jerat impor bagi negara target.

 

Contoh paling populer barangkali Arab Spring di Jalur Sutera. Tatkala Wikileaks dulu sukses menyebar isue terkait kemiskinan, korupsi, pemimpin tirani, dan lainnya maka tema yang diangkat adalah gerakan massa non kekerasan menentang rezim berkuasa, sedang skemanya adalah tata ulang elit dimana aksi massa mampu membuat lengser Ben Ali di Tunisia, Abdullah di Yaman dan Mobarak di Mesir. Pola inilah yang menurut Brooks, meniru gerakan reformasi di Indonesia dekade Mei 1998.   

 

Konteks dinaikkan sebentar untuk mengantar topik. Ya, bahwa adanya “arus kecil” atau semacam isue bertitel sengketa perbatasan yang kini berserak di Laut Cina Selatan, bukanlah faktor tunggal yang tiba-tiba, namun semata-mata karena dorongan “arus besar” yang berupa geopolitical shift atau pergeseran geopolitik global dari Jalur Sutera (Timur Tengah, Asia Tengah dan Afrika Utara) berpindah ke Laut Cina Selatan pada umumnya dan Asia Tenggara khususnya. GFI mengendus bahwa “arus besar” itu berupa:

 

1. Selain AS tengah berproses membangun sistem pertahanan rudal di Asia guna melawan manuver Korea Utara dan Cina tentunya, ia juga menyatakan memperluas militernya di Asia Tenggara dan Samudera Hindia, termasuk peningkatan kerja sama dengan Australia dan penempatan kapal-kapal perang di Singapura, Philipina dll. Dan sungguh mengejutkan ialah pergeseran 60% armada tempurnya ke Asia Pasifik;

 

2. Paman Sam mendukung pembentukan ASEAN Security Community pada 2015, dan terkait dengan isue Laut China Selatan, dan melalui Menhan Leon Panetta, menganjurkan agar ASEAN melakukan “tindakan seragam” sekaligus menyusun kerangka aksi yang memiliki kekuatan hukum;

 

3. Kompleksitas pertikaian wilayah di Laut China Selatan, disinyalir bukan sebatas klaim kepemilikan pulau-pulau, melainkan ada “persoalan lain”, artinya selain diantaranya hak berdaulat atas Landas Kontinen dan Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE), penggunaan teknologi baru terkait exploitasi dan explorasi minyak dan gas bumi oleh negara tertentu, yang utama sejatinya faktor geostrategy possition dan potensi SDA pulau-pulau yang disengketakan;

 

4. Ketegangan antara negara-negara di kawasan tersebut secara politis cenderung meningkat karena miskinnya win-win solution. Urgensi geografis Laut China Selatan yang cukup vital dalam pergeseran geopolitik global, memungkinkan terus terkendalanya upaya penyelesaian sengketa, bahkan diduga keras bahwa isu konflik teritorial itu akan menjadi trigger dalam benturan militer secara terbuka, dan lain-lain.

 

Sekilas telah diulas di atas, bahwa pola kolonialisme dimanapun, senantiasa menempatkan isue-isue sebagai langkah awal memasuki daerah sasaran, baru kemudian disusul tema gerakan dan skema sebagai tujuan pokok. Ketika isue yang ditebar ialah sengketa perbatasan, maka boleh ditebak bahwa tema-tema yang bakal diangkat niscaya KONFLIK PERBATASAN, baik intrastate (konflik internal negeri) maupun bersifat interstate (antar negara) dan lainnya. Dalam konteks ini, penyerbuan Sulu ke Sabah merupakan pagelaran perdana di tahun 2013 dalam kerangka “tema” kolonialisme. Artinya silahkan tunggu kelanjutan SKEMA yang hendak dimainkan di Sabah: “Kontrak ulang konsesi minyak di Sabah, atau konflik interstate antara Malaysia versus Philipina?”.

 

Melihat perkembangan konstalasi politik baik tingkat nasional, regional dan global yang semakin memanas, maka terkait isue yang berkembang di kawasan hendaknya para elit politik, pengambil kebijakan dan segenap tumpah darah Indonesia mewaspadai isue-isue di perbatasan terutama wilayah “konflik” dan/atau “rawan konflik”, atau daerah-daerah yang belum selesai proses kebangsaannya pasca gejolak politik di masa lalu.

 

Skenario Papua pun sebenarnya bisa ditebak, artinya ketika isue yang ditebar ialah kemiskinan, atau pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) oleh aparat, dll maka menjadi keniscayaan bahwa tema yang diangkat ialah: "Hadirnya pasukan asing ke Papua, atau referendum?". Tinggal pilih. Demikian pula Aceh pasca perjanjian Helsinki, kini mulai ditabur “isue bendera” yang tidak sesuai nafas kebangsaan. Tengok nanti temanya apa. Demikian juga Kaltara, Ambalat, dll yang masuk lingkup Hot Triangel karena potensi minyak yang luar biasa, mutlak harus diwaspadai.

 

Pada akhirnya, bangsa ini membutuhkan bukan sekedar political will tetapi political action dalam rangka melakukan kontra isue maupun kontra tema secara konseptual baik simetris maupun asimetris sejak kolonialisasi muncul di tataran hilir. Para elit dan pengambil kebijakan jangan malah larut dalam lingkaran isue dan tema yang dimainkan oleh pihak luar, sementara SKEMA kolonialisme yang berupa penguasaan ekonomi dan pencaplokan berbagai SDA oleh asing justru kian mengakar namun tidak ada gugatan sama sekali oleh anak segenap bangsa, karena elitnya sibuk di koridor (hilir) isue-isue dan tema.

Sumber : KLIK DISINI

AMERIKA SERIKAT TAMBAH ARMADA PERANG, KOREA UTARA SIAP HIDUPKAN REAKTOR NUKLIR


Rudal Balistik Korea Utara

Jihad-Defence-Indonesia - Pyongyang : Belum ada tanda-tanda ketegangan di Semenanjung Korea akan reda, malah awal pekan ini suasana kian memanas. Korea Utara versus Amerika Serikat, yang berkongsi dengan Korea Selatan, terus melontarkan pernyataan maupun manuver baru yang mengkhawatirkan, seolah-olah mereka sedang menyiapkan perang terbuka. 

Awal pekan ini militer Amerika Serikat telah mengirim kapal perangnya ke Semenanjung Korea untuk mengantisipasi serangan rudal balistik Korut. Ini ditambah dengan komentar panas Presiden baru Korsel, Park Geun-hye, bahwa negaranya tidak akan berpikir dua kali untuk melancarkan serangan balasan bila digempur. Apalagi AS dan Korsel sedang menggelar latihan militer bersama.

Korut hingga kini tidak menunjukkan tanda-tanda gentar. Negara otoriter dengan pemimpin yang masih belia itu - umurnya sekitar 30 tahun- mengumumkan sudah siap menyalakan kembali reaktor nuklir yang sudah ditutup sejak 2007.
Padahal, nuklir Korut merupakan pangkal krisis di Semenanjung Korea, karena dicurigai negara-negara Barat akan dikembangkan menjadi senjata pemusnah massal. Apalagi dua kubu yang berseteru itu, Korut versus Korsel dan AS masih belum berdamai sejak Perang Korea 1950-1953.

Korsel dan AS menanggapi serius pernyataan-pernyataan bernada mengancam yang belakangan ini sering muncul dari Korut. Setelah sebelumnya mengirim pesawat jet siluman, kini AS menyiagakan kapal perang dan radarnya di Semenanjung Korea.

Menurut stasiun berita CNN, kapal destroyer USS John S McCain dan kapal radar air SBX-1 sampai ke perairan Korea pada Senin, 1 April 2013. Ini disebut-sebut baru peluncuran pertama yang akan membuka pengiriman kapal perang selanjutnya.

USS McCain adalah kapal tipe-Aegis yang dilengkapi dengan rudal penghancur. Kapal ini diturunkan untuk menangkis serangan rudal balistik musuh. Kapal radar SBX-1 yang bentuknya mirip kilang minyak memiliki sistem deteksi dini serangan.

Pejabat Kementerian Pertahanan AS mengatakan, kapal perang USS McCain ditempatkan di sebelah barat daya pesisir Korsel. "Ini adalah langkah bijaksana dengan menempatkan pertahanan rudal jika diperlukan," kata pejabat yang enggan disebutkan namanya itu.

Sebelumnya, AS telah mengerahkan pesawat pengebom  B-2 dan jet tempur siluman F-22 ke pangkalannya di Korsel. Pesawat ini memiliki kemampuan untuk menjatuhkan bom nuklir. Parade teknologi tempur AS di Korsel sebagai jawaban atas ancaman perang dari Korut.

"Jika ada provokasi terhadap Korsel dan rakyatnya, akan ada balasan yang keras tanpa ada pertimbangan politis," kata Presiden Korsel, Park Geun-hye, dikutip Reuters.

Pemerintah AS dan Korsel juga menanggapi ancaman Korut dengan serius, walaupun sebelumnya terbukti hanya retorika belaka. "Saya tekankan, walaupun ancaman mereka terdengar hebat, namun kami belum melihat adanya pergerakan militer, mobilisasi besar-besaran serta penempatan pasukan oleh Korut," kata juru bicara Gedung Putih, Jay Carney.

"Balasan" Pyongyang
Gentarkah Korut? Walau belum ada pernyataan resmi menanggapi manuver militer AS dan Korsel, rezim di Pyongyang menyiapkan langkah yang tidak kalah menegangkan.

Korut mengumumkan dinyalakannya kembali dua reaktor nuklir di Yongbyon yang sebelumnya sempat non-aktif. Menurut kantor berita Reuters, keputusan ini diambil pemimpin Korut Kim Jong-un pada rapat Partai Pekerja Minggu kemarin, dan diumumkan oleh kantor berita KCNA pada Selasa, 2 April 2013. Reaktor nuklir yang dinyalakan adalah pada pengaya uranium cadangan dan reaktor 5 MW. Keduanya terletak di Yongbyon.

Diaktifkannya kembali dua reaktor ini akan membantu Korut dalam meningkatkan kekuatan nuklir untuk senjata dan tenaga listrik. Menurut KCNA, yang merupakan kantor berita resmi Korut, dengan bantuan dua reaktor tambahan mereka bisa menghasilkan material nuklir untuk delapan bom atom.

Langkah ini sejalan dengan pernyataan pemimpin Korut, Kim Jong-un. Dalam pidato yang disampaikan Minggu kemarin, dan baru dipublikasikan KCNA awal pekan ini, Kim menyatakan bahwa senjata nuklir merupakan jaminan bagi negaranya untuk tidak diserang musuh.

"Kekuatan nuklir kami merupakan pencegah perang yang bisa diandalkan, sekaligus menjamin perlindungan kedaulatan kami," kata Kim. "Berdasarkan kekuatan nuklir yang kuat itulah perdamaian dan kemakmuran bisa berlangsung, begitu pula dengan kebahagaan hidup rakyat," lanjut Kim.

Institute for Science and International Security, sebuah lembaga think-tank di AS, akhir 2012 lalu melaporkan bahwa Korut bisa menghasilkan bom atom sebanyak 21-32 buah pada 2016 jika salah satu reaktor nuklir di Yongbyon dinyalakan kembali.

Belum diketahui butuh berapa lama Korut menyalakan reaktor tersebut setelah salah satu menara pendingin dihancurkan pada 2008, sebagai syarat perjanjian internasional penghentian pengayaan uranium. Tidak jelas apakah Korut membangunnya kembali atau tidak.

Pengumuman dinyalakannya kembali reaktor nuklir ini disampaikan menyusul semakin kuatnya dukungan AS atas Korea Selatan untuk menjawab ancaman-ancaman Korut. Dalam beberapa hari terakhir, AS mengirimkan perangkat tempur canggihnya ke Semenanjung Korea, di antaranya adalah pesawat siluman B-5, jet tempur F-22, kapal perang USS John S. McCain dan kapal radar SBX-1.

Korut kembali menerapkan situasi perang dengan Korsel setelah pemerintah Seoul dianggap melakukan provokasi dengan menggelar latihan perang di kawasan. Pemerintahan Korsel berjanji akan segera menyerang balik jika Korut melakukan agresi terhadap mereka.

Bagi kalangan pengamat dan media massa, nuklir Korut merupakan pangkal ketegangan di Semenanjung Korea. Mengabaikan larangan internasional, Korut Februari lalu menggelar uji coba nuklir untuk kali ketiga. Ini yang mengundang masyarakat internasional, yang digalang kekuatan negara-negara Barat seperti AS, menjatuhkan kembali sanksi ekonomi dan perdagangan kepada Korut.

Namun, seperti tak pernah jera dengan hukuman dari negara-negara Barat, Korut malah membandel. Pyongyang justru melontarkan kekesalan atas latihan militer bersama AS-Korsel dalam beberapa pekan terakhir. Tidak hanya itu, Korut pun mengancam serangan rudal dan nuklir atas AS dan kembali mengajak perang Korsel.

Sumber : KLIK DISINI

AMERIKA SERIKAT DESAK CHINA DAN RUSIA UNTUK LEBIH KENDALIKAN KOREA UTARA

Tentara Korea Utara berlatih senjata dalam latihan militer di lokasi yang tidak disebutkan dalam gambar yang dirilis kantor berita resmi Korut KCNA di Pyonyang, Selasa (12/3). (REUTERS/KCNA)


Jihad-Defence-Indonesia - Washington : Amerika Serikat (AS) pada Selasa, menyerukan China dan Rusia untuk berbuat lebih banyak guna mengendalikan Korea Utara, setelah Pyongyang mengumumkan akan mengaktifkan kembali reaktor nuklir untuk melaksanakan program senjata atomnya.

Juru bicara Gedung Putih Jay Carney mengatakan, keputusan Korea Utara untuk membuka kembali reaktor Yongbyon - sumber plutonium dengan peringkat senjata - adalah "indikasi lain" dari "pelanggaran Pyongyang terhadap kewajiban internasionalnya."

"Ini bukan misteri bagi siapa pun bahwa China memiliki pengaruh terhadap Korea Utara," kata Carney kepada wartawan.

"Kami di masa lalu dan sekarang telah mendesak China untuk menggunakan pengaruhnya guna mencoba mempengaruhi perilaku Korea Utara. Itu juga berlaku untuk (percakapan) kami dengan Rusia."

AFP melaporkan Beijing telah menyatakan penyesalan atas pengumuman Korea Utara, mengimbau agar semenanjung Korea tetap tenang.

Krisis ini telah mendominasi pembicaraan pada Selasa di Washington antara Menteri Luar Negeri AS John Kerry dan timpalannya Menteri Luar Negeri Korea Selatan Yun Byung-se.

Semenanjung Korea telah terjebak dalam siklus ketegangan yang meningkat sejak uji coba nuklir Februari, yang diikuti dengan peluncuran roket jarak jauh pada Desember oleh Korea Utara, yang juga dikenal sebagai DPRK.

Pertemuan itu dilakukan menjelang kunjungan Kerry ke kawasan itu pekan depan - sebagai kunjungan pertamanya ke Asia sejak mengambil alih kursi menteri luar negeri AS pada Februari - ketika ia akan melakukan perjalanan ke Korea Selatan, China dan Jepang.

Juru bicara Departemen Luar Negeri Victoria Nuland Selasa menegaskan sikap Washington bahwa "Amerika Serikat tidak akan menerima Korea Utara sebagai negara nuklir. "


Sumber : KLIK DISINI

TIGA TAHUN TERAKHIR RI DISERANG HACKER 3,9 JUTA KALI, RI BANGUN NATIONAL CYBER CRIME




Jihad-Defence-Indonesia - Jakarta : Dalam tiga tahun terakhir, Republik Indonesia (RI) diserang sebanyak 3,9 juta kali di dunia maya.
Menteri Komunikasi dan Informatika RI Tifatul Sembiring, yang ditemui hari Selasa (2/4/2013), menjelaskan, serangan itu dilakukan terhadap beragam situs dan sistem yang dikendalikan Pemerintah Indonesia.

"Kita membentuk National Cyber Security bersama Kementerian Pertahanan RI dan instansi terkait. Gangguan yang dialami berasal dari dalam dan luar negeri. Sebagian besar gangguan berasal dari luar negeri,” kata Tifatul.

Dia menambahkan, sebagian besar gangguan di dunia maya dilakukan dengan motif ekonomi. Meski demikian, ada juga gangguan yang ditujukan untuk mencuri data yang dimiliki Pemerintah Indonesia.


Tifatul menambahkan, pihaknya mengupayakan perlindungan dunia bisnis, instalasi vital seperti listrik, penerbangan, bursa efek, hingga data penduduk elektronik dari gangguan peretas.

Hasil pemilihan umum pun bisa dimanipulasi dalam sistem elektronik dan dunia maya sehingga dapat menimbulkan gangguan di dalam negeri.

Sudah mengganggu

Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro mengatakan, jenis gangguan yang dihadapi Indonesia beragam, seperti serangan peretas dan tracker. Namun, tingkat gangguan itu belum sampai mengganggu kedaulatan Indonesia.

"Walau demikian, tetap harus dihadapi dan diantisipasi karena sudah ada gangguan dalam skala mikro dan lokal, seperti membuat listrik padam, mencuri data, mengubah rambu lalu lintas elektronik, dan lain-lain," ujar Purnomo.

Pertahanan dunia maya dikoordinasi Kementerian Pertahanan dan dijalankan tiga matra TNI, yakni Angkatan Udara, Angkatan Laut, dan Angkatan Darat, untuk ancaman terhadap keutuhan wilayah dan serangan nonmiliter.

Untuk itu, lanjut Purnomo, dibuat regulasi, tata kelola, dan infrastruktur demi terbentuknya sistem informasi pertahanan negara pada tahun 2014.

Kementerian Pertahanan serta Kementerian Komunikasi dan Informatika menghimpun tenaga ahli untuk membangun sistem keamanan dunia maya sebagai bagian dari sistem keamanan negara. Saat ini tengah dihimpun masukan secara bottom up dari instansi terkait untuk membangun sistem keamanan dan pertahanan di dunia maya. Regulasi tersebut akan diselesaikan dalam satu tahun ke depan.

Sejumlah lembaga, seperti Kementerian Luar Negeri, Kementerian Dalam Negeri, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Badan Narkotika Nasional, serta Badan Intelijen Negara, dilibatkan dalam koordinasi keamanan dunia maya.

Tifatul melanjutkan, pihaknya mengupayakan dibuatnya protokol kedaulatan negara di dunia maya seperti dilakukan di Amerika Serikat dan Uni Eropa. Persoalan keamanan informasi menjadi masalah sangat vital yang dapat memengaruhi kehidupan sebuah negara dan pemerintahan di era teknologi informasi.

Kementerian Komunikasi dan Informatika saat ini sudah memiliki tim untuk mengatasi serangan di dunia maya.



RI Bangun Jaringan Cyber Defence

Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro dan Menteri Komunikasi dan Informasi Tifatul Sembiring, Selasa (2/4) melakukan pertemuan untuk membahas rencana pembangunan jaringan cyber defence yang merupakan bagian dari national cyber security, di kantor Kominfo Jakarta.

Dalam kesempatan tersebut, Menhan menjelaskan bahwa cyber defence terkait dengan keutuhan wilayah, menjaga kedaulatan dan keselamatan bangsa yang memerlukan koordinasi.

“Diharapkan pembangunan cyber defence dapat berjalan seiring dengan pembangunan national cyber security yang merupakan lingkup Kemenkominfo,” kata Menhan Purnomo Yusgiantoro.

Lebih lanjut, Menhan menyatakan bahwa cyber defence merupakan bagian dari Sistem Informasi Pertahanan Negara (Sisinfohanneg) yang terdiri pejabat eselon I di lingkungan Kemhan.

Sedangkan Menkominfo menjelaskan pembangunan national cyber security dilatarbelakangi kecenderungan serangan terhadap dunia maya dan fasilitas dunia maya yang semakin meningkat.

Dalam tiga tahun terakhir, kata Tifatul, terdapat 36,3 juta kali serangan terhadap kementerian dan lembaga. Untuk itu kerjasama antar kementerian dan stake holders perlu ditingkatkan dalam mengantisipasi serangan terhadap dunia maya tersebut.

“Ancaman serangan dapat merambah bidang ekonomi, bisnis, instansi-instansi vital seperti PLN, bandar udara, penerbangan dan bursa efek, e-ktp dan hasil-hasil pilkada,” kata Tifatul.

Dia juga mengatakan Kominfo berupaya untuk memberikan alert kepada seluruh stake holders terhadap serangan-serangan yang datang. “Diharapkan seluruh bidang untuk meningkatkan awareness akan datangnya bahaya berupa ancaman cyber,” katanya.


Sumber : KLIK DISINI, KLIK DISINI

DPR RI-KOMISI 1 STUDI BANDING KE UKRAINA DAN TURKI DAN KERJASAMA PERTAHANAN

Wakil Ketua Komisi I, Tubagus Hasanuddin
Wakil Ketua Komisi 1 DPR TB Hasanudin
Jihad-Defence-Indonesia - Jakarta : Komisi Pertahanan dan Luar Negeri (Komisi I) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) berencana melakukan kunjungan kerja (kunker) ke Ukraina, untuk menjajaki pembelian senjata bagi Tentara Nasional Indonesia (TNI).

"Ke Ukraina itu, kita mencoba menganalisa. Karena senjata yang kita beli dari Rusia ternyata harus melakukan pemeliharaan. Dan kalau pemeliharaannya di pabrik Rusia, lebih mahal. Kemudian, kenapa tidak kita arahkan ke sana (Ukraina)?" kata Wakil Ketua Komisi I DPR, Tubagus Hasanudin, di Jakarta, Rabu (3/4).

Setelah menganalisa persenjataan yang dibuat Ukraina, menurut Hasanudin, mereka juga tetap akan melakukan pengamatan terhadap sistem persenjataan Rusia. Dia pun menekankan bahwa sistem persenjataan untuk Angkatan Darat (AD) banyak dibuat di Ukraina.

"Setelah itu, kita akan melihat apakah ada kemungkinan-kemungkinan bisa bekerja sama dengan PT Pindad. Jadi, bekerja dengan Pindad mengacu pada UU Pertahanan," kata politikus PDI Perjuangan (PDIP) itu.

Hasanudin menjelaskan bahwa fraksinya akan memberangkatkan satu orang anggota dalam kunker tersebut, yakni Hery Ahmadi.

"Ke ukraina itu sebagai kunjungan balasan, karena ada Komisi Pertahanan Ukraina ke Indonesia beberapa waktu lalu menjelaskan tentang sistem persenjataan dan lain-lain," tandasnya.

Berikut jadwal kunker ke Ukraina dan Turki, berdasarkan rilis yang dikeluarkan pimpinan Komisi I DPR:

-13 April 2013: Pukul 17.50 WIB take off dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Istanbul, Turki.
-14 April 2014: Pukul 07.55 waktu Istanbul, take off dari Istanbul menuju Kiev, Ukraina, dan tiba di Kiev pukul 09.55 waktu Ukraina.
-15 April 2013: Pukul 09.30 waktu Ukraina, Rapat Dengar Pendapat (RDP)  Komisi I DPR RI dengan Duta Besar RI untuk Republik Ukraina, dilanjutkan dengan pertemuan dengan Parlemen Ukraina.
-16 April 2013: Kunjungan Komisi I DPR RI ke Industri Pertahanan Ukraina, dengan agenda mendengarkan penjelasan pimpinan perusahaan Industri Pertahanan Ukraina yang dilanjutkan dengan tanya jawab.
-17 April 2013: Kembali ke Istanbul dan RDP dengan Konsulat Jenderal RI.
-18 April 2013: Kunjungan Komisi I DPR RI ke objek-objek yang berkaitan dengan ruang lingkup Komisi I DPR RI.
-19 April 2013: Terbang kembali ke Tanah Air pukul 00.40 waktu Istanbul.

Sumber : KLIK DISINI