Senin, 26 Maret 2012

AS: Roket Korut Bisa Berdampak ke Wilayah Indonesia


KIM JAE-HWAN / AFP
pejabat senior AS mengatakan, peluncuran roket Korea Utara bulan depan dikabarkan bakal berdampak di wilayah Indonesia

Jurnas.com
 | SEORANG pejabat senior AS memperingatkan, wilayah Australia, Indonesia, dan Filipina dapat terpengaruh roket Korea Utara yang akan diluncurkan bulan depan. Korea Utara sebelumnya mengatakan akan meluncurkan roket itu ke arah selatan, dan bukan ke timur seperti yang dikhawatirkan Jepang sebelumnya.

"Jika uji coba rudal Korea Utara terlaksana, kami menilai dampaknya kira-kira sampai ke wilayah di antara Australia, Indonesia dan Filipina," kata Asisten Menlu AS untuk Asia Timur dan Pasifik, Kurt Campbell, seperti dikutip HarianSydney Morning Herald, Sabtu (24/03).

Harian yang terbit di Australia ini menyebutkan, pesan bersifat pribadi itu disampaikan Campbell kepada Menteri Luar Negeri Australia Bob Carr. "Kami meminta negara-negara itu mempertimbangkan kemungkinan terkena dampak itu," ujarnya.

Campbell kemudian meminta Indonesia, Australia, dan Filipina untuk mengutuk rencana Korut meluncurkan roket tersebut.

Korea Utara sendiri mengatakan roket itu diluncurkan untuk menempatkan satelit di angkasa. Namun, Amerika Serikat dan sekutunya meyakini peluncuran itu sebagai dalih uji coba senjata.

Pekan lalu, Pyongyang mengatakan, peluncuran itu dilakukan untuk memperingati 100 tahun kelahiran pemimpin besar mereka Kim Il-sung. Korea

Utara mengatakan akan mengundang para pakar asing maupun wartawan dalam peluncuran roketnya bulan depan.

Pengumuman itu menimbulkan kritikan bahwa peluncuran akan melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB. Resolusi dijatuhkan setelah peluncuran yang serupa pada April 2009.

Sebelumnya, Jepang sangat khawatir karena peluncuran roket Korut yang terakhir melintasi wilayah udara negara itu. Karena itulah, Menteri Pertahanan Jepang Naoki Tanaka mengatakan, negaranya telah memesan sistem senjata pertahanan sebagai antisipasi rencana peluncuran nuklir Korea Utara pada bulan depan.

Laporan menyebutkan, sistem pertahanan itu akan diletakkan di Pulau Okinawa untuk menembak jatuh roket yang mengancam wilayah Jepang. Korea Selatan, China, dan AS juga menyampaikan kekhawatirannya atas rencana peluncuran tersebut.

"Ini akan menjadi provokasi seram yang mengancam perdamaian dan keamanan semenanjung Korea dan Asia Timur Laut," kata Menteri Luar Negeri Korea Selatan dalam pernyataannya.

Kantor berita pemerintah China Xinhua, mengatakan Wakil Menteri Luar Negeri Zhang Zhijun telah bertemu dengan duta besar Pyongyang untuk menyampaikan kekhawatiran Beijing. Sementara, Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton menyebut pengumuman Korut itu "sangat provokatif".

Rencananya, para pemimpin dunia termasuk Presiden AS Barack Obama akan bertemu di Seoul pada pekan depan, dan persoalan roket Korut ini akan menjadi salah satu topik pembicaraan penting. BBC

Indonesia Telah Sampaikan Duka Cita ke Korut

Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-il (Reuters


VIVAnews - Pemerintah Indonesia telah menyampaikan ungkapan belasungkawa atas meninggalnya pemimpin Korea Utara Kim Jong-il. Hal ini disampaikan oleh juru bicara kepresidenan urusan hubungan luar negeri Teuku Faizasyah.

"Iya, pemerintah sudah menerbitkan ucapan belasungkawa atas meninggalnya Kim Jong-il melalui Kementerian Luar Negeri," katanya saat dihubungi VIVAnews melalui sambungan telepon, Senin 19 Desember 2011.

Ditanya tentang pengaruh meninggalnya Kim Jong-il terhadap hubungan diplomatik Indonesia dan Korea Utara ke depannya, Faizasyah berkata ia tidak dalam kapasitas memberikan pernyataan. Menurutnya, terlalu prematur juga untuk memperkirakan dampak meninggalnya Kim Jong-il.

"Saya rasa masih terlalu dini memperkirakan dampak meninggalnya Kim Jong-il. Sebaiknya kita tunggu saja pernyataan resmi dari Menteri Luar Negeri saja mengenai hal ini," ujar Faizasyah.

Pemimpin Korea Utara Kim Jong-il menghembuskan nafas terakhir Sabtu pekan lalu akibat serangan jantung, saat sedang dalam perjalanan dinas dalam sebuah kereta. Putra bungsunya yang masih berusia 20an, Kim Jong-un, disebut-sebut akan naik tahta menggantikan sang ayah.


• VIVAnews 

Pengamat: Kim Jong-il Wafat, Hubungan RI-Korut Tak Terganggu

Jurnas.com | WAFATNYA Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-il dinilai tidak akan memberi pengaruh terhadap hubungan diplomatik yang telah terjalin dengan Indonesia. Demikian dikemukakan pengamat politik luar negeri Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dewi Fortuna Anwar kepada Jurnal Nasional,Senin (19/12). ”Hubungan Indonesia akan tetap baik. Sampai saat ini Kedutaan Besar (Kedubes) Indonesia juga masih aktif,” ujar Dewi.

Menurut Dewi, Hubungan Indonesia dan Korea Utara telah terjalin sejak lama. Setidaknya, tercipta sejak era Presiden Soekarno masih memerintah Indonesia. ”Untuk itu, saat Megawati Soekarnoputri menjabat Presiden RI, Megawati juga pernah berkunjung ke Korea Utara guna mengingat hubungan yang terjalin antara Indonesia dan Korea Utara,” katanya.

Kendati begitu Dewi memrediksi, Korea Utara saat ini belum akan menjadikan hubungan diplomatik dengan Indonesia atau negara lainya, sebagai urusan yang perlu diutamakan saat ini. Pasalnya kata Dewi, pemerintahan Korea Utara saat ini masih terpaku kepada figur Kim Jong-un, pengganti Kim Jong-il. Kim Jong-un yang notabene anak dari Kim Jong-il, saran Dewi, harus mampu membuktikan kepada rakyat Korea Utara bahwa ia mampu menggantikan kepemimpinan sang ayah.

”Mengingat umur Kim Jong-un masih terbilang muda dan belum begitu berpengalaman dalam bidang politik,” katanya.

Sumber : Jurnas

Ketua DPR Terima Dubes Korea Utara

Kunjungan kali ini merupakan kunjungan pertama kalinya Duta Besar Korea Utara, H.E. Mr. Jong Ryul ke DPR RI dan diterima langsung oleh Ketua DPR RI, Marzuki Alie yangditemani oleh Ketua BKSAP, Hidayat Nur Wahid di Ruang Pimpinan, Nusantara III,Rabu (23/11).
Jong Ryul menyampaikan ucapan selamat atas terpilihnya Indonesia sebagai KetuaAsean 2011 dan dia sekaligus menyampaikan rasa terima kasihnya atas waktu yangtelah diberikan oleh Marzuki Alie, ditengah-tengah kesibukannya.
“Kami mengucapkan selamat atas terpilihnya Indonesia sebagai Ketua Asean padatahun ini, dan kami berharap Indonesia dapat memerankan peranannya sebagai KetuaAsean dengan sebaik mungkin dan yang terpenting dapat memperkokoh negara-negara yang tergabung dalam Asean,”terangnya.
Dalam pertemuan tersebut Jong Ryul  mengatakan, hubungan yang terjalin antaraIndonesia dan Korea Utara telah berlangsung sejak lama, sehingga dia sangatberharap agar hubungan yang terjalin akan semakin erat antar kedua Negara.
“Hubungan antara Indonesia dan Korea telah terjalin sejak Presiden Soekarno hinggasaat ini, oleh karena itu kami berharap agar hubungan bilateral yang sudah terjalindapat terus ditingkatkan, salah satunya dengan cara pertukaran delegasi antaraIndonesia dengan Korea Utara dengan tujuan untuk menunjang hubunganpersahabatan antara kedua negara ini,”jelasnya.
Menanggapi hal tersebut, Marzuki Alie menyambut baik dan dia yakin dengankedatangan Jong Ryul saat ini pun akan berpengaruh bagi hubungan kedua negara.“Tentunya pertemuan saat ini pun akan mempererat hubungan antara keduanegara,”katanya

Sumber : dpr.go.id

Indonesia Dinilai Saatnya Merangkul Korut dengan Pimpinan Baru

Indonesia Dinilai Saatnya Merangkul Korut dengan Pimpinan Baru
Korea Utara



REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Kematian pemimpin Korea Utara Kim Jong-Il merupakan momentum bagi Indonesia untuk merangkul penggantinya Kim Jong-Un menuju masa depan yang lebih baik. Pandangan itu disampaikan pengamat internasional dari Universitas Padjajaran Bandung Teuku Rezasyah, Senin.

"Ini adalah momentum bagi Indonesia, yang memang memiliki hubungan baik dengan Korea Utara, untuk merangkul pemimpin baru negara itu dan membantu Korut membangun negaranya berdasarkan model demokrasi yang mereka yakini," kata Rezasyah saat dihubungi dari Jakarta, Senin (19/12).

Dia mengatakan dalam merangkul Korut, Indonesia hendaknya bersikap sama seperti ketika membangun hubungan baik dengan Myanmar. "Kita harus bersikap santun dan tidak memerintah atau mendikte mengenai apa yang harus mereka lakukan. Walau bagaimanapun sebuah model demokrasi tidak bisa dipaksakan ke negara lain. Biarkan Korut menerapkan prinsip demokrasi menurut versi mereka sendiri," katanya.

Ditanya mengenai kekhawatiran dunia internasional mengenai kemungkinan pergolakan politik di internal Korea Utara ataupun Kim Jong-Un sebagai pemimpin baru akan bertindak radikal dengan memulai perang, Rezasyah menjawab kecil kemungkinan itu akan terjadi.

"Untuk sementara rakyat dan petinggi Korut mungkin akan larut dalam kesedihan karena kehilangan pemimpin besarnya. Saya yakin Korut akan bersikap rasional dan memulai perang apalagi menggunakan nuklir adalah pilihan terakhir yang akan mereka buat," katanya.

Pemimpin Korea Utara Kim Jong-Il meninggal dunia pada usia 69 tahun karena serangan jantung, kata media pemerintah mengumumkan Senin. Kantor Berita resmi Korea Utara (KCNA) mengatakan, pemimpin Kim "meninggal dunia akibat ketegangan jiwa dan fisik yang besar" pada pukul 08.30 waktu setempat, Sabtu pekan lalu, saat berada di dalam kereta.

Sumber : Antara

Megawati Kirim Wakil ke Kedubes Korut Sampaikan Duka

Megawati Kirim Wakil ke Kedubes Korut Sampaikan Duka

Megawati Kirim Wakil ke Kedubes Korut Sampaikan Duka
Yahoo! News
Kim Jong Il semasa hidup 
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menunjukkan simpati dan belasungkawa atas meninggalnya Pemimpin Besar Korea Utara, Kim Jong Il. Megawati berharap, pemimpin yang baru memegang komitmen menjaga perdamaian di semenanjung Korea,  memilih jalan damai dalam upaya penyatuan Korea.
Ungkapan duka disampaikan Megawati dengan mengirimkan dua utusannya ke Kedutaan Republik Rakyat Demokratik Korea atau Korea Utara, Rabu (21/12/2011). Antara lain, Wakil Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto bersama Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri Andreas H. Pareira menyambangi Kedubes Korut, bertemu dengan Dubes Korut Jong Chun Gun.
"Saya dan Pak Hasto diterima oleh Dubes Korut beserta jajarannya. Kami menyampaikan surat turut berbelasungkawa dari Ibu Ketua Umum PDI Perjuangan. Kemudian, mengisi buku tamu dan pesan di buku tamu kepada Yang Mulia Kim Jong Un dan Pimpinan RDK," kata Andreas kepada wartawan. .
Inti surat Megawati, ujarnya, tak lain menyampaikan turut berduka cita bersama seluruh rakyat Korea. Seraya  berharap, Korea Utara dibawah kepemimpinan yang baru akan menjadi negara yang semakin sejahtera.
"Ibu Megawati berharap semoga pemimpin yang baru memegang komitmen menjaga perdamaian di semenanjung Korea, dan memilih jalan damai dalam upaya reunifikasi Korea,"  Andreas menegaskan.
Dalam siaran persnya, Senin (19/12/2011) kemarin, Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri, secara  pribadi merasa kehilangan seorang saudara, yang sudah dikenalnya sejak remaja.
"Sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan, saya kehilangan seorang rekan pemimpin yang mampu memimpin bangsanya dengan dasar ideologi (Juche Spirit)," ujar Megawati.
"Sebagai seorang sahabat, saya sungguh merasa kehilangan. Persaudaraan diantara kami sudah berlangsung lama. Kami berdua juga sangat memahami persahabatan antara Republik Rakyat Demokratik Korea dengan Indonesia, khususnya ketika Bung Karno bersama dengan Presiden Kim Il Sung bersama-sama membangun jembatan persaudaraan antar kedua bangsa," jelasnya.
Megawati berharap setelah kepergian Kim Jong Il, bangsa Korea akan menemukan pemimpin baru yang mampu meneruskan perjuangan pendahulunya Presiden Kim Il Sung dan Ketua Komite Pertahanan Rakyat Demokratik Korea Kim Jong Il.
Sebelumnya, Megawati bersama beberapa petinggi partainya, sempat berkunjung ke Korut pada pertengahan September lalu untuk memenuhi undangan Partai Pekerja Korea.

Korea Utara akan Menjauhi Indonesia Pascawafat Kim Jong IL

Korea Utara akan Menjauhi Indonesia Pascawafat Kim Jong IL



Korea Utara akan Menjauhi Indonesia Pascawafat Kim Jong IL
mirror.co.uk
Presiden Rusia, Andre Medvedev bersama Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Il

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Meninggalnya Kim Jong IL Pemimpin rakyat Korea Utara pada hari Sabtu, 17 Desember yang lalu, dan baru diumumkan secara resmi pada hari ini, seakan bukan berita besar, terutama bagi kalangan birokrasi di negeri ini.
Pengamat ekonomi politik Ichsanuddin Noorsy, mengungkap sejarah hubungan Indonesia dengan negara komunis, Korea Utara seakan mengikuti dingin panasnya, atau intim-renggangnya hubungan Indonesia dengan RRC. Korut sendiri sejak berakhirnya bulan madu RRC dengan Amerika Serikat, pada Juni 2005, mengambil posisi sebagai musuh Barat.
"Posisinya ini konsisten dengan latar belakang perang Korea. Walaupun Korsel berkiblat ke Barat, khususnya ke AS, tapi catatan pentingnya adalah, mereka baik Korut maupun Korsel memiliki dan menjaga rasa kebangsaan yang tinggi," ujarnya, Senin (19/12/2011).
Sejak Indonesia berkiblat ke Amerika, Noorsy menjelaskan, tentu saja Korut seakan meninggalkan Indonesia. Seperti kebanyakan pandangan negara anggota gerakan Non Blok, Korut berpandangan bahwa secara esensial Indonesia sudah meninggalkan komitmen Dasa Warsa Bandung.
Saat bulan madu RRC-AS berakhir, Korut justru menunjukkan bahwa AS tidak mungkin dipercaya sebagai satu-satunya negara penjaga perdamaian dunia. Seperti perang RRC lawan AS dalam perspektif state capitalism lawan corporate capitalism.
"Korut pun memerangi dominasi sistem kapitalisme berbasis individual. Karena itu hubungan Indonesia Korut menjadi berjarak. Pascakematian Kim Jong il, tentu akan sangat tergantung pada hal-hal tersebut di atas: kondisi internal Korut, hubungan Korut dengan RRC dan hubungan segitiga Korut-RRC-USA, dan hubungan RRC-AS-Indonesia. Jika Indonesia konsisten menerapkan politik bebas aktifnya, dan teraplikasi dalam ekonomi politik bebas aktifnya, Indonesia bisa kembali membangun keseimbangan hubungan itu," papar Noorsy.
Sayangnya, katanya lagi, karena kentalnya hubungan Indonesia dengan Amerika Serikat, maka Korut akan tetap mengambil jarak dengan Indonesia di tengah sebagian besar negara anggota Non Blok sebenarnya sedang memicingkan mata memandang Indonesia.
"Bagi birokrat, teknokrat dan sebagian besar politisi Indonesia termasuk sebagian besar masyarakat Indonesia, komunisme adalah sejarah hitam. Karena itu mengambil jarak dengan Korut bisa dipandang sebagai konsekuensi dari sejarah hitam itu. Padahal sejarah hitam itu terbentuk justru krn peranan besar AS," demikian Ichsanuddin Noorsy

Kimilsungia”, perpaduan nama Kim Il Sung dan Indonesia.

Pada 13 April 1965, Presiden Korea Utara Kim Il Sung melakukan kunjungan diplomatik ke Indonesia.
Pada kesempatan kunjungan itu, Presiden Indonesia Soekarno mengajak Kim Il Sung berjalan-jalan ke Kebun Raya Bogor, sebuah taman besar tempat tumbuhnya berbagai jenis tanaman.
Ketika mereka berjalan-jalan di taman itu sambil menikmati indahnya suasana, Kim Il Sung berhenti sejenak untuk menikmati deretan anggrek jenis “dendrobium” asal Makassar, yang sedang mekar.
Melihat sejawatnya tertarik dengan bunga itu, Bung Karno langsung memberikan bunga anggrek tersebut kepada Kim Il Sung. Hadiah itu sekaligus sebagai hadiah ulang tahun untuk sang tamu.
Pada saat itu juga, Bung Karno berinisiatif untuk memberikan nama kepada bunga tersebut. Muncullah nama “Kimilsungia”, perpaduan nama Kim Il Sung dan Indonesia.
Sejak itulah, Kimilsungia diabadikan sebagai bunga nasional Korea Utara, sekaligus sebagai simbol persahabatan Indonesia dan Korea Utara.
“Diplomasi bunga” ala Soekarno itu akhirnya menjadikan Indonesia sebagai negara istimewa di hati rakyat Korea Utara.
Tidak ingin mengecewakan negara pemberi, Kimilsungia pun dirawat dan dikembangkan di Korea Utara.
Pengembangan bunga itu terus berjalan di Korea Utara. Proses budi daya di negeri itu bukan hanya menjadikan bunga itu terus tumbuh, melainkan dikembangkan menjadi lebih subur.
Jika di Indonesia Kimilsunga memiliki tiga kuntum setiap tangkainya, di Korea Utara dibudidayakan menjadi enam hingga tujuh kuntum setiap tangkai.
Untuk mengenang hubungan baik kedua negara, pemerintah Korea Utara pada 1999, untuk pertama kalinya, menggelar “Festival Bunga Kimilsungia”.
Festival itu juga sebagai penghormatan bangsa Korea Utara kepada mendiang Kim Il Sung, presiden yang sangat dicintai rakyatnya.
“Setiap penyelenggaraan agenda tahunan itu pula Pemerintah Indonesia menjadi satu-satunya negara yang mendapat kehormatan untuk memberikan sambutan pada acara pembukaan festival,” kata Dirjen Pariwisata Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Wardiyatmo.
Indonesia dan Korea Utara berupaya menjaga sekaligus memperkukuh hubungan baik tersebut dengan melakukan saling kunjungan antarkepala pemerintahan.
Kunjungan Presiden Megawati Soekarno Putri ke Pyongyang pada Maret 2002 misalnya, memiliki makna khusus, karena Megawati merupakan putri Bung Karno.
Dilanjutkan kunjungan kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Juni 2006 atas undangan Presiden Korea Utara Kim Jong Il, putra Kim Il Sung.
Misi seni budaya
Hubungan kedua negara di bidang kebudayaan muncul sebagai salah satu aspek dari hubungan bidang ekonomi dan politik. Berjalannya proses kerjasama timbal-balik di bidang kebudayaan masyarakat kedua negara terus berkembang sampai pada tingkat lembaga dan pemerintahan daerah.
Pentingnya pengembangan kerjasama bidang kebudayaan ditegaskan Dirjen Budpar Wardiyatmo.
Menurut Wardiyatmo, Festival Bunga Kimilsungia dan “April Spring Frienship Art Festival” (ASFAF) yang diselenggarakan setiap bulan April dapat dijadikan sebagai agenda rutin mempererat hubungan kedua negara.
Pada ASFAF 2009, Depbudpar mengirim tim kesenian Krakatau Group yang dimotori seniman Dwiki Darmawan. Grup itu tampil di Grand Theater, Pyongyang, 8-18 April.
Krakatau Group selain menampilkan musik tradisional juga penari kontemporer Didiek Ninik Towok dan sinden Peni Chandra.
Pada festival itu, Krakatau berhasil meraih “Gold Prize” untuk Komposisi Terbaik dan Peni mendapat “Silver Prize” sebagai penampil vokal terbaik dengan menyisihkan 22 negara peserta.
Dwiki menuturkan, penghargaan yang diperoleh kelompok seni Krakatau menunjukkan betapa pentingnya bagi kedua negara saling memperkenalkan dan menggali seni dan budaya kedua negara.
Suami artis penyanyi Ita Purnamasari itu bahkan dapat menarik pelajaran dari penampilan kelompok Krakatau di Korea Utara itu. Menurut dia, meskipun negara tersebut memiliki faham komunis murni, mereka tetap memelihara nilai-nilai budaya dan berupaya menghargai budaya negara lain.
Menurut Wardiyanto, Indonesia dan Korea Utara memiliki payung kerjasama program pertukaran kebudayaan pada 2007-2009, antara lain pertukaran seni, budaya, dan film.
Di Indonesia, seniman lukis Korea Utara secara rutin melakukan pameran, untuk memperkenalkan budaya negara itu kepada masyarakat Indonesia.
Depbudpar sebagai institusi yang bertugas mengembangkan seni dan budaya sedang menyelesaikan penerbitan buku yang memuat hubungan harmonis kedua negara yang ditulis Yussie Avianto Pareanom, penulis buku Ekspedisi Kapal Borobudur “Jalur Kayu Manis”.
Berbagai kegiatan itu, Wardiyanto, dapat menjadi pupuk yang makin menyuburkan Kimilsungia, bunga persahabatan Indonesia-Korea Utara. (*)
Sumber: ANTARA