Senin, 07 Mei 2012

Indonesia Kaji Industri Pertahanan Elektronika Mencari Google Artikel Baru Cina

Peralatan pengangkutan Elektronika PADA Kapal Cepat rudal TNI (Foto: Audrey) 


. Beijing (ANTARA News) - Indonesia hingga tangguhan Masih mengkaji Kerja Sama SISTEM Industri pertahanan Elektronika Yang ditawarkan Cina yakni Pertahanan Electonics Kompleks Indonesia (deci)  


"Hingga tangguhan Masih Terus dikaji Dan dibahas di Kementerian Pertahanan Dan Industri pertahanan pendidikan nasional terkait di masa mendatang, "Kata Atase Pertahanan Kedutaan Besar RI untuk Cina Dan Mongolia, Suryamargono ketika dikonfirmasi di Beijing, Selasa. 


Ia mengatakan tawaran Kerja Sama ITU meliputi berbagai lingkungan kegiatan ANTARA Lain Dan perancangan pengembangan fabrikasi SISTEM unit, modul Serta perakitan Peralatan pengangkutan Elektronika saling melengkapi radar, peperangan elekronika Dan Lainnya. 


"Kerja Sama ITU Akan dilakukan dalam Tiga Tahapan, namun inisial * Semua Masih dikaji dalam berbagai Aspek," Kata Suryamargono menegaskan. 


Berdasar Laporan Perubahan Yang diterima ANTARA Industri Elektronika MEDIA NUSANTARA Saja berperan Besar * Bagi Industri pertahanan secara keseluruhan , namun juga pertumbuhan Ekonomi secara Umum. 


Produksi Elektronika global yang mencapai Rp13 ribu triliun, Dari jumlah ITU Asia Pasifik merupakan kontributor terbesarnya yakni sekitar 37 persen. Namun, Dari 37 persen khususnya Indonesia Baru tersebut memberikan kontribusi sekitar Satu persen. 


Kerja Sama Industri pertahanan Elektronika ITU ditawarkan salat Satu Porlasi Industri pertahanan China yakni China Electronics teknologi Group Corporation (CETC). 


Kerja Sama serupa telah dilakukan Cina Canada produksi CETC Mencari Google Artikel Pakistan dalam Program Nasional Kompleks Elektronik Paksitan (NECOP).  


terkait di masa mendatang Indonesia, CETC sebelumnya telah memiliki Kerja Sama Mencari Google Artikel kementerian Pertahanan Dan TNI terutama TNI Angkatan Laut dalam Program Kapal Cepat rudal (KCR). 


( Antara )

Jumat, 04 Mei 2012

Menteri Pertahanan Meninjau Pulau Nipah


Menteri Pertahanan Meninjau Pulau Nipah

(Foto: Setkab)

4 Mei 2012, Batam: Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengunjungi pulau terluar Pulau Nipah, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau, Jumat. Menteri berangkat dari Markas Lanal Batam menggunakan helikopter ke Pulau Nipah.

Sebelumnya, bersama Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C Sutardjo mengunjungi Karimun. Petugas protokoler Pemerintah Provinsi Kepri Toni mengatakan menteri meninjau Pos Angkatan Laut di pulau yang nyaris tenggelam itu.

"Rencananya, Presiden ke Pulau Nipah waktu kunjungan ke Batam kemarin. Tapi karena tidak jadi, maka menteri yang datang," katanya.

Pulau Nipah merupakan satu pulau terdepan Indonesia yang nyaris tenggelam karena penggalian pasir darat. Pemerintah menganggarkan miliaran rupiah untuk mereklamasi pulau terdepan itu dan membangun Pos AL. Prajurit Angkatan Laut dari Lantamal IV Tanjungpinang, Lanal Batam serta marinir juga ditempatkan di Pulau Nipah untuk menjaga daerah perbatasan.

Sebelumnya, dalam kunjungan di Batam, Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan Pulau Nipah akan menjadi kawasan pertahanan dan pengembangan perekonomian kelautan.

"Saat ini kami tengah membangun infrastruktur pertahanan di sana. Setelah selesai Kementerian Kelautan dan Perikanan akan membangun sarana pendukung perekonomian kelautan," kata Sjafrie.

Menurut dia, pembangunan Pulau Nipah yang menjadi batas Indonesia dengan Singapura akan menjadi contoh pembangunan pulau-pulau terluar di Indonesia lainnya.

"TNI juga tengah membangun sarana komunikasi di sana. Agar semua informasi terkait pertahanan bisa lebih cepat diterima," kata dia. Sjafrie mengatakan Pulau Nipah akan menjadi bagian kecil dari pengamanan maritim di Indonesia.

Sebagai kawasan komersial, pulau yang nyaris tenggelam itu, juga akan dijadikan terminal bahan bakar minyak. Dengan adanya terminal bahan bakar, maka akan memudahkan kapal-kapal asing yang lalu lalang di Selat Malaka mengisi bahan bakar.

Sumber: ANTARA Kepri

Aljazair Beli Empat Fregat Baru dari Jerman


Aljazair Beli Empat Fregat Baru dari Jerman

Meko D 200 Afsel (Foto: DefenceTalk.com)
(MDN), PRETORIA — Angkatan Laut Aljazair dikabarkan telah menandatangani kontrak pembelian kapal-kapal perang tipe fregat kelas MEKO A-200 dari pabrikan Thyssen Krupp Marine Systems (TKMS) asal Jerman. Melihat nilai kontraknya, Aljazair diduga membeli sedikitnya empat kapal fregat dengan sistem tempur lengkap.
 
Menurut koresponden majalah pertahanan Jane's Defence Weekly (JDW), Helmoed-Römer Heitman, di Pretoria, Afrika Selatan (Afsel), nilai kontrak kapal perang tersebut mencapai 2.176 juta euro (Rp 26,3 triliun). Pihak TKMS belum mengonfirmasi kabar tersebut, tetapi menurut sumber-sumber JDW, kontrak dengan pihak AL Aljazair sudah ditandatangani akhir Maret lalu.

Dengan nilai kontrak sebesar itu, diperkirakan Aljazair berniat membeli sedikitnya empat unit fregat MEKO A-200 beserta seluruh sistem persenjataan, ditambah enam helikopter AgustaWestland Super Lynx untuk diletakkan di kapal (setiap kapal mampu membawa dua heli Super Lynx) serta seluruh sistem pendukung dan pelatihan.

Kontrak tersebut juga meliputi pembangunan galangan kapal di Aljazair untuk membuat dua dari empat fregat yang dipesan. Kapal-kapal pesanan Aljazair ini akan berukuran lebih besar daripada fregat kelas Valour (MEKO A-200 SAN), yang lebih dulu dimiliki AL Afsel.

Ukuran kapal yang lebih besar diduga berkaitan dengan keinginan Aljazair untuk memasukkan persenjataan dan sensor yang lebih komprehensif daripada kapal-kapal milik Afsel.

Kapal dengan desain modern yang diklaim bisa mengecoh radar ini akan dilengkapi rudal-rudal antikapal Saab Bofors Dynamics RBS 15 Mk3, rudal permukaan-ke-udara Umkhonto IR produksi Denel Dynamics Afrika Selatan yang ditembakkan secara vertikal, meriam utama Oto Melara, dan senjata penangkis serangan udara jarak dekat Rheinmetall 27 mm.

Beberapa helikopter Super Lynx yang turut dipesan akan dipersenjatai dengan rudal udara-ke-permukaan berpemandu laser Denel Dynamics Mokopa dan torpedo ringan MU90. Salah satu sumber mengatakan, kapal-kapal tersebut akan menggunakan sensor utama EADS TRS-3D, yang menggunakan radar multimoda untuk melacak sasaran di permukaan laut dan udara.

Sistem manajemen tempurnya dikabarkan akan dipasok oleh Atlas Elektronik. 

Sumber: Kompas
Meko D 200 Afsel (Foto: DefenceTalk.com)
(MDN), PRETORIA — Angkatan Laut Aljazair dikabarkan telah menandatangani kontrak pembelian kapal-kapal perang tipe fregat kelas MEKO A-200 dari pabrikan Thyssen Krupp Marine Systems (TKMS) asal Jerman. Melihat nilai kontraknya, Aljazair diduga membeli sedikitnya empat kapal fregat dengan sistem tempur lengkap.
 
Menurut koresponden majalah pertahanan Jane's Defence Weekly (JDW), Helmoed-Römer Heitman, di Pretoria, Afrika Selatan (Afsel), nilai kontrak kapal perang tersebut mencapai 2.176 juta euro (Rp 26,3 triliun). Pihak TKMS belum mengonfirmasi kabar tersebut, tetapi menurut sumber-sumber JDW, kontrak dengan pihak AL Aljazair sudah ditandatangani akhir Maret lalu.

Dengan nilai kontrak sebesar itu, diperkirakan Aljazair berniat membeli sedikitnya empat unit fregat MEKO A-200 beserta seluruh sistem persenjataan, ditambah enam helikopter AgustaWestland Super Lynx untuk diletakkan di kapal (setiap kapal mampu membawa dua heli Super Lynx) serta seluruh sistem pendukung dan pelatihan.

Kontrak tersebut juga meliputi pembangunan galangan kapal di Aljazair untuk membuat dua dari empat fregat yang dipesan. Kapal-kapal pesanan Aljazair ini akan berukuran lebih besar daripada fregat kelas Valour (MEKO A-200 SAN), yang lebih dulu dimiliki AL Afsel.

Ukuran kapal yang lebih besar diduga berkaitan dengan keinginan Aljazair untuk memasukkan persenjataan dan sensor yang lebih komprehensif daripada kapal-kapal milik Afsel.

Kapal dengan desain modern yang diklaim bisa mengecoh radar ini akan dilengkapi rudal-rudal antikapal Saab Bofors Dynamics RBS 15 Mk3, rudal permukaan-ke-udara Umkhonto IR produksi Denel Dynamics Afrika Selatan yang ditembakkan secara vertikal, meriam utama Oto Melara, dan senjata penangkis serangan udara jarak dekat Rheinmetall 27 mm.

Beberapa helikopter Super Lynx yang turut dipesan akan dipersenjatai dengan rudal udara-ke-permukaan berpemandu laser Denel Dynamics Mokopa dan torpedo ringan MU90. Salah satu sumber mengatakan, kapal-kapal tersebut akan menggunakan sensor utama EADS TRS-3D, yang menggunakan radar multimoda untuk melacak sasaran di permukaan laut dan udara.

Sistem manajemen tempurnya dikabarkan akan dipasok oleh Atlas Elektronik. 

Sumber: Kompas

Rusia Modernisasi Bomber Tu-22 M3


Rusia Modernisasi Bomber Tu-22 M3

TU-22 M3
(MDN), MOSKWA - Sambil menunggu proses pengembangan pesawat pengebom (bomber) generasi kelima, PAK DA, Armada Penerbangan Jarak Jauh Angkatan Udara Rusia akan memodernisasi armada bomber andalannya dari era Perang Dingin, Tupolev Tu-22M3.

Juru bicara AU Rusia Kolonel Vladimir Dirk mengatakan di Moskwa, Selasa (31/1/2012), sedikitnya 30 pesawat pengebom jarak jauh Tu-22M3 akan dimodernisasi menjadi versi M3M sampai tahun 2020.
 
Modifikasi meliputi berbagai sektor, mulai dari sistem komunikasi, avionik, kokpit, hingga kemampuan membawa muatan senjata yang lebih besar dan lebih bervariasi.

Tu-22M3 (oleh NATO dijuluki Backfire-C) adalah pesawat pengebom supersonik jarak jauh dengan sayap variabel (variable swing wing) yang berdaya jelajah hingga 6.800 kilometer dan mampu membawa muatan persenjataan seberat 24.000 kilogram.

Berbagai jenis senjata penghancur yang bisa digotong pesawat ini, antara lain, adalah bom konvensional, bom nuklir, dan peluru kendali berhulu ledak konvensional ataupun nuklir.

Pesawat yang dikembangkan pada puncak era Perang Dingin dekade 1970-an ini digunakan terutama untuk berpatroli di bagian selatan Rusia, termasuk di kawasan perbatasan dengan Asia Tengah dan Laut Hitam.

Hingga tahun 2008, AU Rusia masih mengoperasikan sedikitnya 141 pesawat Tu-22M3.

Komandan Penerbangan Jarak Jauh AU Rusia Mayor Jenderal Anatoly Zhikarev sebelumnya menyatakan, armada udara strategis Rusia akan menjalani program modernisasi besar-besaran sambil menunggu bomber generasi kelima Rusia, PAK DA, selesai dikembangkan oleh biro desain pesawat Tupolev. 

Sumber: Kompas

Sabtu, 14 April 2012

Kopassus Ikut Berpartisipasi Dalam Team Ekspedisi Khatulistiwa

Kopassus Ikut Berpartisipasi Dalam Team Ekspedisi Khatulistiwa

JAKARTA - Pengiriman tim Ekspedisi Khatulistiwa ke Kalimantan bertujuan untuk melatih naluri tempur prajurit TNI AD, TNI AL, dan TNI AU di perbatasan, gunung dan pegunungan serta medan "Ralasuntai"(rawa, laut sungai dan pantai).

"Hutan di Kalimantan memiliki medan yang lebih sulit dibandingkan hutan di Sumatera dan Jawa. Oleh karenanya, kami kirim tim ekspedisi di Kalimantan untuk melatih naluri tempur prajurit. Jadi, kita bukan `show of force` untuk menekan Malaysia di perbatasan," kata Komandan Grup III Komando Pasukan Khusus Kolonel (Inf) Izhak Pangemanan usai lomba menembak antarwartawan di Markas Kopassus, Cijantung, Jakarta, Sabtu (14/4).

Jumlah personel yang terlibat dalam tim ekspedisi itu sekitar 977 orang, yang terdiri dari prajurit TNI, peneliti, pecinta alam, kelompok masyarakat, instansi pemerintah dan lainnya. Untuk prajurit Kopassus sendiri, dikerahkan sekitar 200 personel.

Kegiatan yang bertajuk "Lestarikan Alam Indonesia" ini akan berlangsung hingga 17 Juli 2012.

Pasukan bergabung dengan akademisi dan segenap elemen masyarakat bertujuan juga untuk mendata kekayaan alam, potensi bencana, dan potensi konflik di Kalimantan, ujarnya.

Hasil dari pendataan itu dilakukan untuk memberikan masukan kepada pimpinan TNI dalam mengambil kebijakan pembangunan di pedalaman Kalimantan. 

"Kami melibatkan ahli geologi, flora dan fauna untuk melakukan pendataan tentang potensi bencana dan kekayaan alam yang ada," ujar Izhak. 

Team Ekspedisi di bagi menjadi empat koordinatorat wilayah, yang kemudian dibagi lagi menjadi delapan subkoordinatorat wilayah.

Tim koordinatorat wilayah barat meliputi provinsi Kalimantan Barat, Koordinatorat wilayah tengah adalah provinsi Kalimantan Tengah dan koordinatorat wilayah selatan adalah provinsi Kalimantan Selatan.

Sementara koordinatorat wilayah timur adalah provinsi Kalimantan Timur. Sedangkan delapan subkoordinatorat meliputi wilayah Sambas, Sanggau, Kapuas Hulu/Putussibau, Murung Raya/Muara Tewe, Nunukan, Malinau, Kutai Barat, Hulu Sungai Tengah/Barabai. 

Komandan koordinatorat wilayah untuk Ekspedisi Khatulistiwa ini, masing-masing dipegang oleh Danrem. Sedangkan untuk komandan subkoordinatorat wilayah dipegang oleh Dandim.

Sumber : ANTARANEWS.COM

Jumat, 13 April 2012

UU Diperlukan Dalam Pembentukan Industri Pertahanan Nasional Yang Kuat

JAKARTA-(IDB) : Pembahasan mengenai Rancangan Undang- Undang (RUU) Industri Pertahanan sudah dimulai sebagai langkah lanjut prioritas Program Legislasi Nasional 2012. Hal ini juga sejalan dengan proses transformasi militer Indonesia yang bertujuan untuk membangun militer yang profesional.

Artikel ini melihat aspek-aspek apa saja yang harus diperhatikan dalam upaya membentuk industri pertahanan Indonesia yang ideal. Secara historik dan empirik, beberapa negara telah mengembangkan industri pertahanannya dan berbagai pengalaman tersebut tentu dapat diambil sebagai rujukan bagi Indonesia untuk mengembangkan model pembangunan industri pertahanannya sendiri. Setidaknya terdapat tiga aspek utama yang harus diperhatikan apabila Indonesia secara sungguh-sungguh berniat untuk membangun industri pertahanannya.


Aspek pertama adalah aspek institusional. Hampir semua negara berkembang memutuskan untuk membangun industri pertahanannya atas dasar motivasi politik dan strategik. Brasil misalnya pada awalnya mengembangkan industri pertahanan sebagai legitimasi kepemimpinan militer yang kemudian tetap diteruskan oleh pemimpin sipilnya untuk mempertahankan warisan dukungan rakyat.

Turki sebagai contoh lain mengembangkan industri pertahanannya setelah mengalami embargo setelah Perang Siprus sehingga untuk memenuhi kebutuhan alutsistanya harus mengembangkan industri pertahanan domestik. Dengan asumsi dasar bahwa industri pertahanan dikembangkan untuk tujuan politik dan strategik, sebagai konsekuensi logisnya, pemerintah berkewajiban melindungi industri ini sepenuhnya.

Karena itu, aspek institusional mensyaratkan komitmen pemerintah terutama dalam melakukan proteksi terhadap industri strategis ini. Komitmen dan proteksi ini seharusnya diimplementasikan dalam pembuatan cetak biru pengembangan industri pertahanan sehingga perubahan pada level pembuat kebijakan tidak dapat secara otomatis meniadakan proses pembangunan yang tengah berlangsung.

Aspek kedua adalah aspek kerangka industrial. Secara teoretik, Joseph Schumpeter memberikan dua mekanisme sebagai agen perubahan dalam konteks inovasi. Pertama, industri kecil dengan inovasi entrepreneur dan industri besar dengan inovasi manajerial. Secara empirik, berbagai negara melakukan audit dan konsolidasi industri pertahanan untuk memastikan kinerja yang efektif dan efisien.

Amerika Serikat misalnya mengonsolidasikan lebih dari ratusan perusahaan dalam industri pertahanannya dan melakukan konsolidasi terutama untuk mempertahankan performa efektivitas dan efisiensi industri pertahanan. Selain itu, aspek kerangka industrial juga mengharuskan Indonesia untuk memilih dari kemungkinan tiga pilihan model yang sering muncul dalam perkembangan industri pertahanan.

Model pertama adalah model autarki. Model ini misalnya diadaptasi oleh Turki dan Korea Selatan,yang walaupun kontradiksi dan masih menjadi dengan nilai impor senjata terbesar di dunia, keduanya berusaha membangun industri pertahanannya untuk kemandirian domestik. Model ini mensyaratkan kuatnya negara ataupun konglomerasi nasional untuk bisa mendukung proses kemandirian industri pertahanannya.

Industri pertahanan Turki didukung dengan peran negara yang sangat besar, sementara Korea Selatan didukung konglomerasi besar seperti Samsung dan Daewoo untuk menyokong kemandirian industri pertahanannya. Pilihan model kedua adalah industri ceruk (niche) yang dikembangkan misalnya oleh Israel. Industri ini mengkhususkan pada pengembangan teknologi maupun instrumen pertahanan yang belum ditawarkan dalam industri yang sudah berkembang.

Industri ceruk dalam konteks pertahanan sangat menggantungkan diri kepada keuntungan komparatif yang dimiliki sebuah negara misalnya keunggulan komparatif dalam teknologi misalnya kemampuan reverse technology seperti yang dimiliki Israel dan China. Pilihan model ketiga adalah menjadi bagian penyokong dalam rantai industri pertahanan global.

Selama bertahun tahun Singapura telah menjadi bagian dalam industri pertahanan global walaupun Singapura tidak dikenal sebagai salah satu produsen senjata ataupun platform tertentu.Ketiga model ini tetap membutuhkan kejelasan kerangka industri yang harus dibangun untuk menyokong industri yang strategis ini. Israel misalnya membentuk institut khusus yang membawahi ekspor dan kerja sama internasional untuk memfasilitasi kesempatan dagang dan kerja sama untuk mendukung industri pertahanannya.

Aspek ketiga yang harus diperhatikan adalah aspek legal. Aspek legal ini mengharuskan Indonesia untuk mempertimbangkan aturan-aturan yang ada di tingkat regional dan internasional karena Indonesia adalah bagian dari komunitas global dan regional.Di tingkat internasional selama ini hanya ada rezim pendaftaran senjata konvensional yang mendasarkan keikutsertaan mendaftarkan senjata dengan basis sukarela, namun tidak ada aturan jual beli senjata yang secara signifikan membatasi Indonesia untuk menjual senjata di tingkat internasional.

Di tingkat regional Indonesia terlibat dalam pembentukan komunitas ASEAN yang secara normatif berniat menghilangkan penggunaan kekerasan dalam penyelesaian konflik. Tapi,lagilagi, tidak ada aturan khusus yang secara spesifik membatasi Indonesia untuk mengembangkan industri pertahanannya. Selain aspek legal di tingkat internasional, Indonesia juga harus memperhatikan regulasi- regulasi di tingkat nasional.

Secara khusus, Indonesia harus melakukan harmonisasi baik untuk regulasi industri, ekspor-impor, maupun perlindungan terhadap kekayaan intelektual yang dibutuhkan untuk menyokong tumbuhnya industri pertahanan nasional.

Berdasarkan penjelasan di atas,revitalisasi industri pertahanan nasional yang sudah diinisiasi pemerintah tampaknya tidak boleh hanya dianggap sebagai proyek nasional semata. Tumbuh kembangnya industri pertahanan sebuah negara membutuhkan komitmen yang kuat serta kepemimpinan yang konsisten dan berkesinambungan.

Sumber : Sindo

USS Zumwalt Kapal Perusak Amerika Terbaru Beroperasi Dua Tahun Lagi

BATH-(IDB) : Meski ditentang oleh sebagian petinggi Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) karena biaya pembuatannya terlalu tinggi, program pembuatan kapal perang masa depan USS Zumwalt jalan terus. Kapal yang penuh dengan teknologi canggih terbaru itu akan diluncurkan tahun depan dan diserahkan kepada US Navy pada 2014.

Saat ini, pembuatan Zumwalt terus berlangsung di galangan kapal Bath Iron Works di dekat kota Bath, Negara Bagian Maine, AS. Kepala Staf US Navy Laksamana Jonathan Greenert mengatakan, dengan segala kemampuannya, Zumwalt adalah kapal perang masa depan AS.

"Dengan kemampuan stealth, sistem sonar yang luar biasa, kemampuan menyerang, dan kebutuhan tenaga manusia yang lebih sedikit, ini adalah masa depan kita," tutur Greenert saat mengunjungi Bath Iron Works, pekan lalu.

Zumwalt adalah jenis kapal perusak berpeluru kendali kelas terbaru (DDG-1000) yang akan menjadi kapal perusak terbesar dan tercanggih yang pernah dioperasikan US Navy. Kapal itu memiliki desain lambung tumblehome yang unik, yakni mengerucut ke atas.

Meski berukuran lebih besar daripada kapal-kapal perusak US Navy saat ini, Zumwalt akan dioperasikan oleh lebih sedikit awak kapal karena hampir semua sistemnya sudah otomatis.

Kapal yang dibuat dengan material komposit itu akan dilengkapi sistem pendorong elektrik, sonar terbaru, rudal, dan meriam-meriam berkemampuan tinggi yang menembakkan proyektil berpendorong roket dan berpemandu. Pada masa depan, kapal ini akan dilengkapi meriam elektromagnetik, yakni meriam yang tak lagi menggunakan ledakan mesiu untuk mendorong proyektil, melainkan medan elektromagnetik.

Untuk membangun kapal berukuran panjang 182 meter itu, galangan kapal milik General Dynamics tersebut menghabiskan dana 40 juta dollar AS (Rp 366,4 miliar) untuk membangun bangunan galangan baru setinggi 32 meter guna merakit bagian-bagian lambung kapal yang berukuran raksasa.

Dengan segala ukuran dan teknologi yang ia punyai, biaya membuat kapal terbaru ini, menurut angka resmi US Navy, mencapai 3,8 miliar dollar AS (Rp 34,8 triliun) per unit. Namun, Winslow Wheeler, Direktur Straus Military Reform Project di Pusat Informasi Pertahanan, di Washington DC mengatakan, ongkos sebenarnya bisa mencapai 7 miliar dollar AS (Rp 64,12 triliun) per unit.

Dengan biaya semahal itu, jumlah pesanan US Navy terus mengecil, dari awalnya 32 kapal menjadi 24 unit, kemudian 7 unit, dan akhirnya diputuskan untuk membuat 3 unit saja.

Greenert mengatakan, kapal baru ini sangat cocok dengan perubahan strategi militer global AS untuk memusatkan perhatian di kawasan Asia Pasifik. Menurut US Navy, kapal tersebut efektif digunakan untuk menangkal serangan musuh baik di lautan lepas maupun di perairan dekat pantai.
Meski demikian, beberapa kritik menyebutkan, kapal tersebut terlalu memaksakan diri memasukkan begitu banyak teknologi canggih. Desain kapal itu juga disebut kurang tangguh dalam mempertahankan diri dari serangan rudal. Para pengamat pertahanan memperingatkan, kapal itu rentan terkena serangan dalam operasi dekat pantai. Bentuk lambungnya juga dikhawatirkan kurang stabil dalam kondisi tertentu. 

Sumber : Kompas

DPR Turun Langsung Untuk Cek Pabrikan Leopard Di Jerman

JAKARTA-(IDB) : Sejumlah agenda sudah disiapkan Komisi I DPR yang akan melakukan kunjungan kerja ke empat negara yakni Afrika Selatan, Jerman, Polandia dan Republik Ceko.

Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq mengatakan, kunjungan kerja komisi pertahanan itu juga mengkhususkan untuk mengecek langsung pembuatan Tank Leopard.


“Plus kunjungan ke industri pertahanan Jerman, khususnya yang spesifik adalah KMW salah satu pabrikan produksi dari Tank Leopard yang rencananya Kemhan RI akan melakukan pengadaan alternatif dari Jerman dan Belanda," kata Mahfudz, kepada wartawan, Kamis (12/4), di Jakarta.


Dijelaskan Mahfudz, tim yang ke Jerman agendanya utamanya adalah bertemu Kedutaan Besar RI (KBRI) disana, untuk rapat dengar pendapat terkait kinerja, persoalan-persoalan yang dihadapi, dan dinamika hubungan bilateral.


Sedangkan tim kedua, lanjut dia, akan bertemu dengan pejabat Kementerian Ekonomi disana berkaitan dengan kerjasama di bidang pertahanan. “Dilanjutkan bertemu dengan Kementerian Pertahanan dan juga secara khusus diskusi dengan atase pertahanan dan intelijen disana," katanya.


Wakil Sekjen PKS itu menambahkan, untuk tim gelegasi Komisi I yang akan ke Afrika Selatan, agendanya RDP dengan KBRI. “Afsel itu salah satu dari 14 negara mitra strategis Indonesia,” ujarnya.


Kemudian, bertemu dengan parlemen di komisi pertahanan dengan komisi luar negeri dan mengunjungi dua industri pertahanan yang sudah ada MOU dengan Indonesia dan kerjasama produksi dengan neger ini.

Sumber : JPNN

Kamis, 12 April 2012

Roket Korea Utara Jatuh di Laut


Seoul Korea Utara akhirnya meluncurkan roket jarak jauhnya meski mendapat kecaman. Namun peluncuran itu tidak berjalan mulus. Roket tersebut jatuh di tengah laut.

Informasi yang dikutip dari Reuters, Jumat (13/4/2012), Menteri Pertahanan Jepang, Naoki Tanaka, memastikan roket tersebut memang sempat berada di udara selama satu menit. Tidak lama berselang, roket itu pun jatuh di laut.

"Tidak berdampak pada wilayah Jepang," kata Tanaka.

Sementara itu, pejabat-pejabat militer Amerika Serikat juga percaya kalau Korut sudah gagal dengan peluncuran roketnya. Korut meluncurkan roketnya dari stasiun peluncuran satelit Sohae di bagian utara negara itu, yang berdekatan dengan perbatasan Korea Utara dengan China. Demikian informasi yang diambil dari ABCnews.

Roket itu diluncurkan pada pukul 07:39 waktu setempat. Padahal wacana Korut ini sempat mendapat reaksi negatif dari dunia.
 

Kemhan & TNI AU Bantah Pembelian Eurofighter Typhoon

Kemhan & TNI AU Bantah Pembelian Eurofighter Typhoon

 
Eurofighter Typhoon

JAKARTA - Kementrian Pertahanan (Kemhan) dan TNI AU membantah kabar yang menyebutkan adanya rencana ataupun pembelian jet tempur Eurofighter Typhoon buatan Inggris. Hingga saat ini, pembelian pesawat tersebut tidak masuk dalam rencana belanja alutsista TNI.

“Belum ada. Kami tidak ada rencana membelinya,” kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemhan Brigjen TNI Hartind Asrin di Jakarta, Kamis (12/4). Hal senada diungkapkan oleh Kepala Dinas Penerangan TNI AU (Kadispenau) Marsma Azman Yunus.

Menurutnya, pembelian 24 unit Typhoon hanyalah isu yang tak bertanggung jawab. “Nggak benar isu itu,” kata Azman. Isu pembelian pesawat senilai 2 miliar pound sterling atau senilai Rp29,2 triliun itu muncul sejak tahun 2011 lalu.

Isu tersebut mencuat sejak setahun silam saat Dubes Inggris di Jakarta Mark Canning kembali membuka peluang kerja sama militer dengan Indonesia. Menurutnya Inggris sebelumnya telah dipercaya Indonesia untuk memenuhi kebutuhan peralatan pertahanan penting ke Indonesia, contohnya pesawat Hawk," katanya. Soal Eurofighter Typhoon, ia menyatakan berusaha menjual apa pun ia bisa.

Kini isu itu kembali menguat bersamaan dengan kedatangan PM Inggris Davic Cameron, siang tadi.

Sumber : JURNAS.COM

Menhan : Pengoperasian UAV Di Perbatasan Akan Lebih Diefektifkan

JAKARTA-(IDB)  : Wahana udara tanpa awak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV) akan semakin diefektifkan pemakaiannya, terutama di kawasan perbatasan negara. Penetapan pada wahana ini menjadi salah satu strategi pertahanan negara oleh pemerintah.

"Salah satunya dengan semakin mengefektifkan UAV itu. Akan juga dipergunakan di perbatasan," kata Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, di Jakarta, Selasa. Dia menjadi salah satu pembicara kunci seminar Air Power Club of Indonesia sebagai rangkaian HUT ke-66 TNI-AU.

UAV merupakan wahana udara yang bisa dijadikan arsenal di garis depan untuk mengumpulkan data intelijen primer. Pemakaian UAV ini bisa dikombinasikan dengan sistem transmisi data seketika dan sistem komando persenjataan yang terintegrasi dengan arsenal lain.

Banyak negara telah memakai UAV ini, mulai dari Amerika Serikat sampai negara-negara di Afrika. Salah satu negara produsen UAV ternama dunia adalah Israel yang membuat wahana dan sistem pengendali UAV Heron.

Menurut Kepala Staf TNI-AU, Marsekal TNI Imam Sufaat, UAV yang akan diakusisi dalam arsenal matra udara TNI itu adalah yang terbaik di kelas harganya. "Mengoperasikannya jelas tidak seperti menerbangkan pesawat radio kontrol," katanya.

Saat disinggung mengombinasikannya dengan kesenjataan konvensional ataupun inkonvensional, dia mengakui bahwa, "Kita belum mampu. Namun nanti pasti dikembangkan."

Dalam daftar kesenjataan yang akan dimiliki TNI-AU, UAV telah masuk di dalamnya. Direncanakan, UAV itu akan tiba di Tanah Air dalam waktu tidak lama lagi, dan akan ditempatkan di Pangkalan Udara TNI-AU Supadio, Pontianak.

Salah satu area yang bisa dianggap pas untuk dijadikan pangkalan UAV TNI-AU itu adalah Lapangan Terbang Haliwen, di Atambua, NTT. Lapangan udara perintis namun bisa didarati C-130 Hercules atau Fokker F-50 itu hanya berjarak 30 menit penerbangan dari Dili, ibukota negara Timor Timur. 

Sumber : Antara

Tahun 2014 33 Radar Akan Beroperasi Penuh Kawal NKRI


JAKARTA-(IDB) : Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, menyatakan, komposisi dan sebaran radar di seluruh wilayah Indonesia akan diperlengkap. Untuk saat ini, radar sipil dan miiter bersifat saling melengkapi.

"Radar primernya dari militer kita dan radar sekundernya sipil, selama ini bekerja bersama dengan radar-radar TNI," katanya, di Jakarta, Selasa.

Dia menjadi pembicara kunci dalam seminar Air Power Club of Indonesia, di Klub Persada. Seminar bertemakan "Peran, Komando, dan Kendali Angkatan Udara dalam Perang Modern dan Inkonvensional", itu terkait dengan HUT ke-66 TNI-AU.

Hadir Kepala Staf TNI-AU, Marsekal TNI Imam Sufaat, dan segenap jajaran pimpinan matra udara TNI itu. Pula hadir sejumlah atase pertahanan negara sahabat dan kalangan sipil pemerhati gatra dirgantara nasional.

Lingkupan radar di seluruh Indonesia merupakan satu keharusan jika negara ini tidak ingin wilayah udaranya diganggu pihak luar.

Dari 33 lokasi penempatan radar dalam jajaran Komando Pertahanan Udara Nasional TNI, baru 20 lokasi yang dipasangi radar. Komando di dalam tubuh Markas Besar TNI itu sendiri terbagi dalam empat Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional, mulai dari Medan, Jakarta, Makassar, dan Biak.

$0A
Direncanakan ke-33 radar itu akan beroperasi semuanya pada 2014 mengikuti postur pertahanan nasional dalam tataran kesiagaan minimum esensial. 

Sumber : Antara 

MALAYSIA SIAGAKAN MBT DIPERBATASAN KALIMANTAN


BALIKPAPAN-(IDB) :Komando Daerah Militer VI Mulawarman menuturkan, di perbatasan Indonesia-Malaysia, sudah berjajar tank-tank jenis PT–91 buatan Polandia yang beratnya hingga 50 ton. Tank-tank milik Malaysia ini memang dipersiapkan untuk pengamanan perbatasan di sepanjang Kalimantan. “Tank-tank Malaysia sudah siap di perbatasan Kalimantan,” kata Panglima Kodam Mulawarman Mayor Jenderal Subekti, Selasa, 10 April 2012.

Bukan hanya itu. Malaysia, kata Subekti, juga membangun infrastruktur jalan penghubung di wilayahnya sendiri untuk memudahkan pergerakan pasukan dari satu tempat ke tempat lainnya.

Dengan situasi seperti itu, Subekti memaklumi jika saat ini pemerintah melakukan pengadaan tank Leopard buatan Jerman yang bobotnya hingga 62 ton. Batalyon tank Leopard itu nantinya akan ditempatkan di perbatasan, baik di Bulungan, Sangata, serta Malinau. Secara total, batalyon tank Bulungan akan memiliki sebanyak 44 Leopard. Keseluruhan pengadaan perlengkapan dan sarana batalyon bisa dituntaskan pada Oktober 2013 mendatang.

Subekti mengatakan batalyon tank Leopard itu diperlukan untuk menjaga kedaulatan serta kewibawaan Indonesia di mata negara tetangga. Dia menilai tank tempur Kodam Mulawarman jenis AMX–13 dan panser Sarasin, Saladin, dan Perret, sudah ketinggalan zaman. “Bila dibandingkan tank Malaysia, seperti mainan saja tank TNI. Dalam kategori strategi militer, tank TNI sudah dianggap tidak ada, saking tuanya,” katanya.

Subekti memastikan keberadaan batalyon Leopard akan mampu meningkatkan kewibawaan Indonesia di mata negara-negara tetangga. Alat tempur darat tersebut mampu menyaingi persenjataan tank tempur Malaysia.

Selain batalyon Leopard, pengamanan perbatasan juga diperkuat oleh pembentukan skuadron helikopter tempur yang berpusat di Berau. Skuadron ini nantinya dilengkapi oleh 16 pesawat helikopter serang buatan PT Dirgantara Indonesia, Agusta 129 Mangusta dari Italia, dan Super Cobra buatan Amerika Serikat.

Super Cobra adalah helikopter buatan Bell, hasil pengembangan dari Huey Cobra yang berjaya di perang Vietnam. Senjatanya adalah senapan mesin gatling 20 mm, roket Hydra, rudal Sidewinder untuk pertempuran udara, dan rudal penghancur tank Hellfire.

TNI, kata Subekti, menginginkan Super Cobra sebagai pilihan utama, di samping juga heli serbaguna Agusta Westland buatan Italia. Bahkan, kalau dapat izin, ia juga menginginkan heli Apache buatan Amerika Serikat karena dianggap sangat cocok untuk pengamanan perbatasan.

Untuk pengamanan perbatasan di darat, akan dilakukan oleh tiga batalyon gabungan infanteri dan artileri yang memiliki persenjataan anti-tank yang dapat membidik tank dari jarak 6 kilometer serta multiple launch rocket system (MLRS) Astros II buatan Brasil. Kata Subekti, seluruh persenjataan dan personel baru ini akan tersedia secara bertahap mulai tahun 2012 ini.

Menurut Subekti, ketersediaan alat utama sistem senjata dan personel di perbatasan itu akan sangat berdampak pada perimbangan kekuatan Indonesia dengan negara tetangga, terutama dengan negara yang berbatasan langsung di Kalimantan. “Saat ini kita memang tidak memiliki musuh yang eksplisit, yang nyata. Tapi setiap hari kita dilecehkan di perbatasan dengan adanya patok yang digeser-geser,” ujarnya. 

Sumber : Tempo

PENGAMAT MILITER : MATRA UDARA DAN LAUT HARUS JADI PRIORITAS PENGUATAN PERTAHANAN


JAKARTA-(IDB) :Penguatan pertahanan dinilai sudah saatnya bergeser pada kemampuan matra udara dan matra laut,bukan lagi di darat. Ini untuk merespons perubahan dalam percaturan geopolitik global dan ancaman yang sekarang berkembang.

Pengamat militer dari LIPI Jaleswari Pramodhawardani mengungkapkan, sekarang ini ancaman sudah berubah,misalnya dalam kasus illegal fishing dan people smugling. ”Kita harus merespons perubahan perubahan yang terjadi dalam percaturan geopolitik. Saat ini penguatan TNI AL dan AU itu penting,” katanya di sela-sela seminar tentang kekuatan udara di Jakarta,kemarin.

Walaupun sering dibicarakan trimatra terpadu, lanjut dia,seharusnya saat ini yang diperkuat adalah TNI Angkatan Udara dan Angkatan Laut. ”Kalau dulu, yang dikedepankan adalah TNI AD karena ancaman ada di darat, saat ini ancamannya sudah berubah,” sebutnya. Memperkuat AU danAL memang akan berdampak pada banyaknya anggaran yang harus dikeluarkanan ketimbang AD.Pasalnya,AU dan AL lebih banyak menggunakan senjata yang diawaki, sehingga dari teknologi lebih mengemuka.

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menyebut,pertahanan di perbatasan akan diperkuat. ”Nanti rencana kita untuk mengaktifkan UAV (pesawat intai tanpa awak) yang salah satunya milik AU,walaupun nantinya angkatan lain juga punya,”katanya. Adanya penambahan sekitar 50 pesawat hingga 2014 juga menegaskan penguatan kekuatan TNI AU. Belum lagi dengan penambahan radar untuk pemantauan yang saat ini masih harus mengintegrasikan dengan radar sipil demi mengcover seluruh wilayah NKRI.

Sementara itu,Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Imam Sufaat menuturkan, UAV yang akan dibeli itu sebenarnya UAV yang paling bagus yang bisa beli, sehingga pembelian ini juga bisa dimanfaatkan para ahli untuk dipelajari dan kemudian membuat yang lebih canggih.

”Mudah- mudahan ahli-ahli kita bisa mengembangkan setelah kita punya UAV,”katanya. UAV ini rencananya dibeli dari Filipina dan merupakan produk dari Israel. Alat utama sistem senjata (alutsista) tersebut akan menempati satu skuadron tersendiri di Pontianak.

Sumber : Sindo