Rabu, 27 Februari 2013

PESAWAT TEMPUR F-16 TNI-AU JAJAL RADAR SAUMLAKI TIMIKA


falcon-sub


Jihad-Defence-Indonesia - JAKARTA : Satu flight pesawat tempur F-16 dari Skadron Udara 3 Lanud Iswahjudi, melaksanakan terbang jelajah ke Wilayah Timur Indonesia, dengan misi pengamanan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) dan menjajal kemampuan Radar (Radio Detecting And Ranging), Satrad (Satuan Radar) 245 Saumlaki dan Timika, Selasa (14/2/12).
Selain menjajal kemampuan Satrad 245 Saumlaki, yang beberapa waktu lalu diresmikan Kasau marsekal TNI Imam Sufaat, S.I.P., falcon flight yang dipimpin langsung oleh Komandan Skadron Udara 3 Lanud Iswahjudi, Letkol Pnb Ali sudibyo, juga mengadakan latihan Tangkis Petir, Hanud Cakra serta Hanud Kilat.
Pada kesempatan tersebut Komandan Lanud Iswahjudi, Marsekal Pertama TNI M.Syaugi, S.Sos., melepas keberangkatan pesawat tempur yang masih menjadi andalan TNI Angkatan Udara, untuk melaksanakanakan terbang jelajah ke wilayah timur Indonesia.



Terbang jelajah selama 14 hari tersebut, meliputi Lanud Balikpapan Kaltim, Lanud Samratulangi Manado, Lanud Biak Papua, Lanud Patimura Ambon dan Lanud Rembiga NTB, dengan melibatkan 8 penerbang tempur F-16/Fighting Falcon, 46 teknisi (Ground Crew), serta Tim Brigan dari Satpon Lanud Iswahjudi dengan di dukung pesawat C-130 Hercules.
Sumber : KLIK DISINI

PLA NAVY DAPATKAN FREGAT SILUMAN BARU


Fregat siluman Angkatan Laut China (beegeagle.wordpress.com)


Jihad-Defence-Indonesia -  Beijing : Angkatan Laut China menerima kapal fregat siluman terbarunya yang diharapkan bisa memperkuat pertahanan laut China di tengah sengketa teritorial yang dihadapi negara itu, demikian Xinhua seperti dikutip AFP.

Kapal perang yang disebut Xinhua merupakan "kapal fregat siluman tipe 056" ini dikirimkan ke AL China Senin sore lalu lewat satu seremoni di Shanghai.

Laksamana Wu Shengli menegaskan pentingnya meningkatkan perangkat dan kemampuan AL China di tengah beberapa sengketa maritim. Pernyataan ini menjadi headline Harian PLA yang disiarkan Tentara Pembebasan Rakyat.

Wu yang juga anggota Komisi Militer Pusat dari Partai Komunis ini menyerukan terus ditingkatkannya kemampuan tempur AL China, seperti diinginkan pemimpin China Xi Jinping.


Januari lalu, militer China diperintahkan untuk meningkatkan kemampuan tempurnya pada 2013 dan fokus pada tujuan perang serta memenangkan pertempuran.

Kapal baru ini disebut-sebut menyimbolkan mulainya transformasi kekuatan pertahanan laut China dan diharapkan lebih banyak lagi diproduksi, dengan tugas utama untuk pengawalan dan operasi antikapal selam.

China bersengketa dengan Jepang di Laut China Timur, selain juga dengan sejumlah negara Asia Tenggara di Laut China Selatan.

Sumber : KLIK DISINI

ROKET HAMAS HANTAM ISRAEL SELATAN


Roket Palestina Hantam Israel Selatan
Sebuah rocket ditembakkan kelompok Hamas ke wilayah Israel. Akhir-akhir ini situasi di Israel dan Palestina tak kondusif. Pertandingan Liga Europa antara Hamoel Kyriat lawan Athletic Bilbao pun ditunda.


Jihad-Defence-Indonesia - JERUSALEM : Sebuah roket ditembakkan dari Jalur Gaza, Selasa (26/2/2013) pagi, dan menghantam kawasan di luar kota Ashkelon, Israel selatan. Ini adalah serangan roket pertama sejak gencatan senjata pada November 2012.

"Serangan roket menghantam dekat Ashkelon dan mengakibatkan kerusakan di jalan raya. Tak ada korban manusia dalam serangan ini," kata juru bicara kepolisian Micky Rosenfeld.

Serangan roket ini adalah yang pertama sejak berakhirnya operasi militer Israel di Jalur Gaza, November 2012. Saat itu, lebih dari 1.000 roket ditembakkan dari Jalur Gaza ke Israel.

Setelah operasi militer delapan hari yang menewaskan 177 warga Palestina—yang sebagian besar adalah warga sipil—dan enam warga Israel, kedua negara akhirnya sepakat untuk melakukan gencatan senjata pada 21 November 2012.

Serangan roket ini terjadi di tengah memanasnya hubungan Israel-Palestina menyusul kematian seorang tahanan Palestina di penjara Israel pada akhir pekan lalu. Palestina menuduh Israel menyiksa tahanan itu hingga tewas.

Akibatnya, ribuan orang yang mendatangi pemakaman Arafat Jaradat (30)—tahanan yang tewas di Israel—menyerukan aksi membalas kekejaman Israel. 

Sumber : KLIK DISINI

TEWASNYA 8 ANGGOTA TNI DI PAPUA, BABAK AWAL SKENARIO BALKANISASI NUSANTARA


 Tewasnya 8 TNI di Papua dan Skenario Balkanisasi Nusantara

Penulis : Hendrajit
Direktur Eksekutif Global Future Institute (GFI)


Jihad-Defence-Indonesia - Jakarta : Kejadian tewasnya 8 anggota TNI meski ini menyakitkan bagi TNI dan seluruh anak bangsa, namun kita harus berkepala dingin menangani ini. Ini hanya babakan awal dari yang pernah saya tulis di buku Tangan Tangan Amerika (Operasi Siluman AS di Pelbagai Belahan Dunia) terbitan 2010, bahwa dalam skema yang dirancang Pentagon melalui rekomendasi studi Rand Corporation, Indonesia harus dibagi 7 wilayah, yang mana salah satu prioritas jangka pendek adalah memerdekakan Papua. Ini adalah bagian dari BALKANISASI NUSANTARA.

Maka, kejadian tewasnya 8 anggota TNI, jangan dibaca semata sebagai konsekwesnsi Perang antara TNI dan OPM, tapi lebih dari itu, untuk membenturkan antara TNI dan warga sipil Papua, yang nantinya seakan semua warga sipil Papua adalah OPM.

Skema dan kebijakan strategis pemerintahan Obama pasca Bush ini harus dicermati secara seksama. Dengan jargon demokrasi dan penegakan HAM sebagai isu sentral, maka masalah masa depan Aceh dan Papua bisa menjadi duri dalam daging bagi hubungan Indonesia-Amerika ke depan.

Apalagi sebuah badan riset dan pengembangan strategis di Amerika bernama Rand Corporation, yang dikenal sering melayani secara akademis kepentingan Departemen Pertahanan Amerika (Pentagon) dan atas dukungan dana dari Pentagon, internasionalisasi Aceh ternyata masih merupakan isu sentral dan agenda mereka hingga sekarang. Bahkan dalam scenario building yang mereka gambarkan, wilayah Indonesia harus dipecah menjadi delapan bagian.

Sekadar informasi, rekomendasi Rand Corporation ihwal memecah Indonesia jadi 8 bagian tersebut dikeluarkan pada tahun 1998. Artinya, pada masa ketika Presiden Clinton masih menjabat sebagai presiden. Berarti rekomendasi Rand Corporation atas sepengetahuan dan sepersetujuan Presiden Clinton dan Pentagon.

Dengan demikian, menjadi cukup beralasan bahwa rekomendasi Rand Corporation tersebut akan dijadikan opsi oleh Obama. Karena rekomendasi Rand Corporation dikeluarkan ketika suami Hillary masih berkuasa.

Apa yang diinginkan oleh Pentagon dari skenario Rand Corporation Clinton..? itu Artinya, skenario ”Balkanisasi Nusantara” menjadi opsi yang logis untuk diterapkan oleh Departemen Luar Negeri Amerika di era Obama dan Hillary Clinton.

Dalam skenario Balkanisasi ini, akan ada beberapa negara yang terpisah dari NKRI. Yang sudah terpisah Yaitu Timor Timur yang terjadi pada 1999 masa pemerinthana Habibie. Lalu Aceh, sepertinya sedang dalam proses dan berpotensi untuk pecah melalui “sandiwara” MoU Helsinki dan kemungkinan (telah) menangnya Partai Lokal di Aceh pada Pemilu 2009 tahun ini. Kemudian Ambon, Irian Jaya, Kalimantan Timur, Riau, Bali. Dan sisanya tetap Indonesia.

Anggap saja skenario ini memang sudah ditetapkan oleh pemerintahan Obama, maka besar kemungkinan skenario ini akan dijalankan Amerika tidak dengan menggunakan aksi militer.

Dalam skema ini, Diplomasi Publik Menlu Clinton akan menjadi elemen yang paling efektif untuk menjalankan skenario Balkanisasi Nusantara tersebut.

Dengan kata lain, mengakomodasi dan menginternasionalisasi masalah Aceh atau Irian Jaya, akan dipandang oleh Amerika sebagai bagian dari gerakan demokrasi dan penegakan HAM.

Dalam kaitan ini pula, Uni Eropa memang sejauh ini memang sudah menjadi pemain sentral di Aceh pasca MoU Helsinki. Misalnya saja Pieter Feith, Juha Christensen sementara dari persekutuan Inggris, Australia dan Amerika, mengandalkan pemain sentralnya pada Dr Damien Kingsbury dan Anthoni Zinni.

Mereka semua ini dirancang sebagai agen-agen lapangan yang tujuannya adalah memainkan peran sebagai mediator ketika skenario jalan buntu terjadi antara pihak pemerintah Indonesia dan gerakan separatis. Ketika itulah mereka-mereka ini menjadi aktor-aktor utama dari skenario internasionalisasi Aceh, Irian Jaya, dan daerah-daerah lainnya yang berpotensi untuk memisahkan diri dari NKRI.

Motivasi para penentu kebijakan luar negeri Amerika memang bisa dimengerti. Karena dengan lepasnya daerah-daerah tersebut, Amerika bisa mengakses langsung kepada para elite daerah tanpa harus berurusan dengan pemerintahan di Jakarta seperti sekarang ini.

Dorongan untuk memperoleh daerah pengaruh nampaknya memang bukan monopoli kepresidenan Bush. Obama pun pada hakekatnya bertujuan sama meski dengan metode yang berbeda.

Baik Bush maupun Obama agaknya menyadari bahwa konstalasi negara-negara di kawasan Amerika Latin yang notabene merupakan daerah halaman belakang mereka, ternyata semakin sulit untuk dikontrol. Dan bahkan berpotensi menjadi negara musuh Amerika.

Perkembangan terkini adalah menangnya calon presiden El Salvador yang berhaluan sosialis Mauricio Funes. Ekuador yang sekarang dipimpin oleh Presiden Rafael Correa seorang sosialis yang mengagendakan perlunya revolusi dalam ekonomi, pendidikan dan kesehatan.

Brazil sejak masa kepresidenan Luis Inacio Lula memprioritaskan pengamanan energi, Evo Morales dari Bolivia yang menekankan programnya pada nasionalisasi industri gas, pertambangan dan kehutanan. Serta pengembalian tanah rakyat kepada petani miskin, perlindungan warga Indian, dan sebagainya.

Beberapa presiden Amerika Latin yang berhaluan kiri-tengah adalah Presiden Chilie Michele Bachelet dan Presiden Peru Alan Garcia. Dan di atas itu semua, Hugo Chavez dari Venezuela yang belakangan perseteruannya dengam Amerika semakin menajam justru ketika Amerika dipimpin Obama yang lebih moderat dari Bush.

Perkembangan beruntun di Amerika Latin tersebut tentu saja mencemaskan Amerika, meski sebagai negara kecil tidak perlu dikhawatirkan secara kemiliteran. Namun ketika negara-negara tersebut tidak lagi kooperatif baik secara politik maupun ekonomi, jelas hal ini sangatlah mengganggu.

Apalagi ketika hal itu kemudian memicu kedekatan negara-negara latin tersebut kepada Cina, Rusia, Korea Utara, Iran dan lain sebagainya.

Skenario Kosovo untuk Papua Merdeka

Ini bukan rumor ini bukan gosip. Sebuah sumber di lingkungan Departemen Luar Negeri mengungkap adanya usaha intensif dari beberapa anggota kongres dari Partai Demokrat Amerika kepada Organisasi Papua Merdeka (OPM) untuk membantu proses ke arah kemerdekaan Papua secara bertahap.

Menarik juga informasi ini jika benar. Karena dengan tampilnya Presiden Barrack Obama di tahta kepresidenan Gedung Putih, praktis politik luar negeri Amerika amat diwarnai oleh haluan Partai Demokrat yang memang sangat mengedepankan soal hak-hak asasi manusia. Karena itu tidak heran jika Obama dan beberapa politisi Demokrat yang punya agenda memerdekakan Papua lepas dari Indonesia, sepertinya memang akan diberi angin.

Beberapa fakta lapangan mendukung informasi sumber kami di Departemen Luar Negeri tersebut. Betapa tidak. Dalam dua bulan terakhir ini, US House of Representatives, telah mengagendakan agar DPR Amerika tersebut mengeluarkan rancangan FOREIGN RELATION AUTHORIZATION ACT (FRAA) yahg secara spesifik memuat referensi khusus mengenai Papua.

Undang-Undang Foreign Relation Authorization Act (FRAA) Pintu Masuk Menuju Papua Merdeka


Kalau RUU FRAA ini lolos di kongres Amerika, maka Amerika akan menindaklanjuti UU FRAA ini melalui serangkaian operasi politik dan diplomasi yang target akhirnya adalah meyakinkan pihak Indonesia untuk melepaskan, atau setidaknya mengkondisikan adanya otonomi khusus bagi Papua, untuk selanjutnya memberi kesempatan kepada warga Papua untuk menentukan nasibnya sendiri.

Skenario semacam ini jelasnya sangat berbahaya dari segi keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dan sialnya kita juga lemah di fron diplomasi maupun fron intelijen. Padahal, skema di balik dukungan Obama dan Demokrat melalui UU FRAA, justru diplomasi dan intelijen menjadi strategi dan sarana yang dimainkan Washington untuk menggolkan kemerdekaan Papua.

Karena itu, kita harus mewaspadai beberapa kasus kerusuhan yang meletus di Papua, bahkan ketika pemilihan presiden 8 Juli 2009 lalu sedang berlangsung.

Mari kita kilas balik barang sejenak. 13 Mei 2009, terjadi provokasi paling dramatis, ketika beberapa elemen OPM menguasai lapangan terbang perintis Kapeso, Memberamo, yang dipimpin oleh disertir tentara, Decky Embiri. Meski demikian, berkat kesigapan aparat TNI, pada 20 Juni 2009 berhasil dipukul mundur.

Namun provokasi OPM nampaknya tidak sampai di situ saja. 24 Juni 2009, OPM menyerang konvoi kendaraan polisi menuju Pos Polisi Tingginambut. Konvoi diserang di kampung Kanoba, Puncak Senyum, Distrik Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya. Anehnya, kejadian ini hanya 50 meter dari pos milik TNI.

Dalam kejadian di Tingginambut ini, seorang anggota Brimob Polda Papua tewas tertembak. Singkat cerita, inilah sekelumit kisah bagaimana sepanjang tahun 2009 ini OPM telah melakukan penyerangan di kawasan Tingginambut hingga tujuh kali serangan.

Jika kita cermati melalui manuver politik politisi Demokrat menggolkan RUU FRAA di Washington dengan kejadian kerusuhan berantai di Papua, bisa dipastikan kedua kejadian tersebut berkaitan satu sama lain.

Dalam teori operasi intelijen, serentetan kerusuhan yang dipicu oleh OPM dengan memprovokasi TNI dan Polri, maka tujuannya tiada lain untuk menciptakan suasana chaos dan meningkatnya polarisasi terbuka antara TNI-Polri dan OPM yang dicitrakan sebagai pejuang kemerdekaan.

Skenario semacam ini sebenarnya bukan jurus baru bagi Amerika mengingat hal ini sudah dilakukan mantan Presiden Bill Clinton ketika mendukung gerakan Kosovo merdeka lepas dari Serbia, dan bahkan juga mendukung terbentuknya Kosovo Liberation Army (KLA).

Seperti halnya ketika Clinton mendukung KLA, Obama sekarang nampaknya hendak mencitrakan OPM sebagai entitas politik yang masih eksis di Papua dengan adanya serangkaian kerusuhan yang dipicu oleh OPM sepanjang 2009 ini.

Lucunya, beberapa elemen LSM asing di Papua, akan menyorot setiap serangan balasan TNI dan Polri terhadap ulah OPM memicu kerusuhan, sebagai tindakan melanggar HAM.

Tapi sebenarnya ini skenario kuno yang mana aparat intelijen kita seperti BIN maupun BAIS seharusnya sudah tahu hal akan dimainkan Amerika ketika Obama yang kebetulan sama-sama dari partai Demokrat, tampil terpilih sebagai Presiden Amerika.

Isu-isu HAM, memang menjadi ”jualan politik” Amerika mendukung kemerdekaan Papua. Karena melalui sarana itu pula Washington akan memiliki dalih untuk mengintervensi penyelesaian internal konflik di Papua.

Di sinilah sisi rawan UU FRAA jika nantinya lolos di kongres. Sebab dalam salah satu klausulnya, mengharuskan Departemen Luar Negeri Amerika melaporkan kepada kongres Amerika terkait pelanggaran-pelanggaran HAM di Papua.

Bisa jadi inilah salah satu kesepakatan diam-diam antara Obama dan LSM-LSM pro OPM ketika pri alumni Fakultas Hukum Universitas Harvard ini masih menjadi calon presiden. Jika memang benar, Obama berada dalam tekanan kuat untuk mendukung agenda ini lolos di kongres.

Pelanggaran HAM memang harus diakui menjadi isu sentral yang diangkat beberapa LSM pro OPM. Misalnya saja West Papua People’s Representative and OPM. Kelompok ini selain mengembangkan website wpik.org, menurut berbagai sumber juga mendapat dana dari sejumlah perusahaan asing.

Meski OPM belum sekuat GAM Aceh dalam menancapkan pengaruh-pengaruhnya di kalangan elit dan kelompok-kelompok basis di Papua, namun lobi-lobi OPM dengan dukungan beberapa LSM asing memang tidak sekali-kali untuk diremehkan.

20 Juli 2005 lalu misalnya, berhasil meloloskan sebuah draft RUU yang salah satu klausulnya, mempertanyakan kembali keabsahan Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat) dalam mendukung kemerdekaan Papua. Sekaligus juga mengkritik pelaksanaan otonomi khusus di Papua.

RUU yang kelak dikenal dengan HR (House of Representatives) 2601 itu, akhirnya sempat beredar dua versi informasi. Yang pertama mengatakan telah dicabut karena mengagendakan Papua sekarang ini sudah tidak relevan lagi sehingga tidak akan menjadi hukum. Adapun versi kedua justru masih beranggapan RUU yang membahas penelitian ulang atas proses masuknya Papua ke Indonesia sampai sekarang belum dibatalkan.

Sebaiknya kita di Indonesia lebih mempercayai versi kedua ini. Mengingat versi ini justru disampaikan oleh Ketua Sub-komisi Asia-Pasifik dalam komisi Hubungan Luar Negeri Kongres Amerika.

Dan yang harus lebih diwaspadai lagi, HR2601 tersebut lingkupnya juga bisa mencakup semua kasus dan isu serupa yang terjadi di dunia. Meskipun bisa-bisa saja yang menyatakan secara eksplisit kasus Papua Barat sudah dihapuskan. Namun secara substansial, kasus Papua tetap saja dalam pantauan dan penelitian para anggota kongres Partai Demokrat.

Beberapa Sosok Asing di balik Gerakan Pro Papua Merdeka

Salah satu sosok yang harus dicermati adalah Eni Faleomavaega, Ketua Black Caucuses Amerika yang mengkampanyekan Irian Jaya sebagai koloni VOC bukan koloni Belanda di Kongres Amerika. Kabarnya, perwakilan Partai Demokrat dari American Samoa ini memimpin sekitar 38 anggota Black Caucuses yang mengklaim bahwa cepat atau lambat Papua akan merdeka.

Pengaruh tokoh satu ini ternyata tidak bisa dianggap enteng. Pada 2002, tak kurang dari Departemen Luar Negeri AS terpaksa mengeluarkan menerbitkan Buku Putih Deplu tentang Papua pada 2002. Disebutkan bahwa Irian Jaya masuk Indonesia pada 1826. Sementara Pepera merupakan pengesahan atau legalitas masuknya Irian Jaya ke NKRI pada 1969.

Bayangkan saja, Departemen Luar Negeri AS sampai harus meladeni seorang anggota parlemen seperti Eni Faleomavaega. Dan ternyata manuver Eni tidak sebatas di Amerika saja. Melalui LSM yang dia bentuk, Robert Kennedy Memorial Human Right Center, Eni dan 9 orang temannya dari Partai Demokrat, melakukan tekanan terhadap Perdana Menteri John Howard, agar memberi perlindungan terhadap 43 warga Papua yang mencari suaka di di Australia. Alasannya, mereka ini telah menjadi korban pelanggaran HAM TNI.

Di Australia, Bob Brown, politisi Partai Hijau Australia, juga santer mendukung gerakan pro Papua Merdeka, dengan mendesak pemerintahan Howard ketika itu untuk mendukung proses kemerdekaan Papua. Tentu saja usul gila-gilaan itu ditampik Howard, namun sebagai kompensasi, pemerintah Australia memberikan visa sementara kepada 42 pencari suaka asal Papua.

Tentu saja hubungan diplomatik Australia-RI jadi memanas, apalagi berkembang isu ketika itu bahwa ke-43 warga Papua cari suaka ke Australia itu sebenarnya merupakan “agen-agen binaan” Australia yang memang akan ditarik mundur kembali ke Australia. Artinya, permintaan suaka itu hanya alasan saja agar mereka tidak lagi bertugas menjalankan operasi intelijen di Papua. Mungkin kedoknya sebagai jaringan intelijen asing di Papua, sudah terbongkar kedoknya oleh pihak intelijen Indonesia.

Dan isyarat ini secara gamblang dinyatakan oleh Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Widodo AS. Menurut Widodo, pemberian visa sementara kepada warga Papua oleh Australia, telah membenarkan adanya spekulasi adanya elemen-elemen di Australia yang membantu usaha kemerdekaan Papua.

Menurut penulis, dan kami-kami di Global Future Institute, pernyataan Widodo sebenarnya sebuah sindiran atau serangan halus terhadap gerakan asing pro Papua merdeka. Bahwa yang sebenarnya bukan sekadar adanya elemen-elemen di Australia yang membantu kemerdekaan Papua, tapi memang ada suatu operasi intelijen dengan target utama adanya Papua Merdeka terpisah dari NKRI.

Selain Amerika dan Australia, manuver Papua Merdeka di Inggris kiranya juga harus dicermati secara intensif. 15 Oktober 2008, telah diluncurkan apa yang dinamakan International Parliaments for West Papua (IPWP) di House of Commons, atau DPR-nya Kerajaan Inggris.

Misi IPWP tiada lain kecuali mengangkat masalah Papua di fora internasional. Meski tidak mewakili negara ataupun parlemen suatu negara, namun sepak-terjang IPWP tidak bisa diabaikan begitu saja. Sebab IPWP bisa menjadi kekuatan penekan agar digelar referendum di Papua, penarikan pasukan TNI dari Papua, penempatan pasukan perdamaian di Papua di bawah pengawasan PBB.

Jelaslah sudah ini sebuah agenda berdasarkan skema Kosovo merdeka. Apalagi ketika IPWP juga mendesak Sekjen PBB meninjau kembali peranan PBB dalam pelaksanaan penentuan pendapat rakyat (pepera) 1969, sekaligus mengirim peninjau khusus PBB untuk memantau situasi HAM di Papua.

Agar kita sebagai elemen bangsa yang tidak ingin kehilangan provinsi yang kedua kali setelah Timor Timur, ada baiknya kita mencermati skenario Kosovo merdeka.

Kosovo terpisah dari negara bagian Serbia pada 17 Februari 2008. Dengan didahului adanya tuduhan pelanggaran HAM di provinsi Kosovo. Papua Barat dianggap mempunyai kesamaan latarbelakang dengan Kosovo. Yaitu, Indonesia dan Serbia dipandang punya track record buruk pelanggaran HAM terhadap rakyatnya. Sehingga mereka mengembangkan isu bahwa Kosovo perlu mendapat dukungan internasional. Inilah yang kemudian PBB mengeluarkan resolusi Dewan Keamanan PBB 244 .

Seperti halnya juga dengan Kosovo yang memiliki nilai strategis dalam geopolitik di mata Amerika dan Inggris, untuk menghadapi pesaing globalnya, Rusia. Begitu pula di Papua, ketika perusahaan tambang Amerika Freeport dan perusahaan LNG Inggris, merupakan dua aset ekonomi mereka untuk mengeruk habis kekayaan alam di bumi Papua. Sekaligus untuk strategi pembendungan AS terhadap pengaruh Cina di Asia Pasifik, khususnya Asia Tenggara.

Balkanisasi Nusantara

1.Indonesia ada rencana hendak dibelah dengan memakai model Polinesia (negara pulau) di Lautan Pasifik. Sehingga mulai beredar pengguliran Isu Negara Timor Raya di Provinsi Nusa Tenggara Timur mulai santer terdengar.

2. Indonesia akan dibelah jadi tiga negara dengan berdasar pada klasifikasi provinsi ekonomi kuat dengan rincian sebagai berikut:
A. Aceh, Riau dan United Borneao(Kalimantan).
B. Pusat wisata dan seni dunia semacam Bali, Flores, Maluku dan Manado,
C. Jawa, Sunda dan Daerah Khusus Jakarta.

MODUS OPERANDI

Dengan melihat perkembangan terkini berdasarkan prakarsa dua anggota Kongres AS untuk menggolkan seruan resolusi agar Baluchistan diberi hak sejarah menentukan nasib sendiri dan negara sendiri, lepas dari Pakistan, maka Global Future Institute merasa perlu mengingatkan kemungkinan langkah langkah dua tahap yang akan ditempuh Amerika Serikat dan Sekutu-sekutu Eropanya:

1. Melakukan Internasionalisasi Isu Provinsi yang bermaksud ingin merdeka dan lepas dari negara induknya. Keberhasilan prakarsa dua anggota Kongres AS menggolkan resolusi Baluchistan, bisa jadi preseden bagi langkah serupa terhadap Papua.

2. Seiring dengan keberhasilan gerakan meng-internasionalisasi provinsi yang diproyeksikan akan jadi merdeka, maka REFERENDUM kemudian dijadikan pola dan modus operandi memerdekakan sebuah provinsi dan lepas dari negara induk.

Demikian, semoga menjadi perhatian dan kewaspadaan semua elemen bangsa, dan pemegang otoritas pemerintahan.
Sumber : KLIK DISINI

KERJA INTELIJEN DI PAPAU HARUS DIPERKUAT



Jihad-Defence-Indonesia - JAKARTA : Anggota Komisi I DPR yang membidangi pertahanan, Tjahjo Kumolo menilai tewasnya delapan anggota TNI di Papua karena ditembak kelompok tak dikenal, tak terlepas dari kelemahan intelijen. Menurutnya, dibutuhkan kemampuan deteksi dini yang baik untuk mencegah aksi-aksi kekerasan di Papua.

"Banyak satuan-satuan intelijen yang tidak terorganisir dengan baik. Sekarang munculnya gerombolan tanpa bentuk itu adalah kelemahan aparat kita," ujar Tjahjo di DPR, Jakarta, Selasa (26/2).

Lebih lanjut Tjahjo menegaskan, tanpa deteksi dini yang baik maka aksi-aksi kekerasan di Papua oleh kelompok tak dikenal akan terus berlanjut. Namun yang lebih disayangkan, selama ini kasus kekerasan di Papua tak pernah diusut tuntas.

Menurutnya, sulitnya medan harusnya tidak dijadikan alasan sulitnya mengungkap kasus kekerasan di Papua. "Yang utama pengejaran harus tuntas dan intelijen harus diperkuat. Pengusutan tuntas dan aparat diganti setiap tiga bulan agar bisa Siaga 1 terus," cetusnya.

Seperti diketahui, delapan anggota TNI dan empat warga sipil tewas akibat tindakan penyerangan dan penembakan kelompok sipil bersenjata di Papua. Korban yang tewas adalah Pratu Wahyu Bowo di Distrik Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya, dan tujuh lainnya adalah Sertu Ramadhan, Sertu M. Udin, Sertu Frans, Sertu Edi, Praka Jojon, Praka Wemprik dan Pratu Mustofa.

Tujuh anggota TNI ini ditembak di Kampung Tanggulinik, Distrik Sinak, Kabupaten Puncak Jaya. Satu korban mengalami luka tembak pada lengan kiri yaitu Lettu Inf Reza di Distrik Tingginambut.

Penyerangan kelompok bersenjata ini dilakukan ketika 10 angggota Koramil Sinak, Kodim 1714/Puncak Jaya sedang menuju ke Bandara Sinak untuk mengambil radio kiriman dari Nabire.
Sumber : KLIK DISINI

PENANGKAPAN PENYERANG TNI TERKENDALA MEDAN



Jihad-Defence-Indonesia - Jakarta  :  Kabareskrim Mabes Polri Komjen Pol Sutarman mengaku telah mengetahui kelompok sipil bersenjata yang melakukan penyerangan terhadap TNI di Papua pada Kamis (21/2/2013).
"Kami sudah tahu senjatanya dan kelompok yang melakukan penyerangan terhadap pos TNI di Puncak Jaya, Papua beberapa waktu lalu," kata Sutarman di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Selasa (26/2/2013).
Meski demikian, lanjut Sutarman, pihaknya hingga kini mengakui belum berhasil menangkap para pelakunya. "Perlu satu pertimbangan yang matang. Di mana medannya (lokasi) itu, kalau di kota pasti ditangkap," tegasnya.
Menurutnya, jika tetap memaksakan kehendak, untuk secepatnya melakukan penangkapan terhadap kelompok bersenjata yang diduga merupakan kelompok pimpinan Tabuni, maka bisa mengakibatkan korban jiwa. "Pertimbangan kami tidak mau ada korban jiwa yang jatuh lagi," ungkap Sutarman.
Sebelumnya terjadi penyerangan oleh kelompok sipil bersenjata terhadap anggota TNI di Puncak dan Puncak Jaya, Kamis (21/2/2013) . Dalam penyerangan tersebut delapan anggota TNI tewas dan empat warga spil tewas terkena tembakan.
Sumber : KLIK DISINI

KEMENTERIAN PERTAHANAN RI AKTIFKAN DESK ANCAMAN CBRNE

Jihad-Defence-Indonesia - Jakarta :  Seiring dengan ancaman keamanan yang bersifat asimetris dan sedang berkembang di dunia, Kementerian Pertahanan (Kemhan) akan mengaktifkan Desk atau tim kerja untuk menghadapi ancaman Kimia, Biologi, Nuklir dan Bahan Peledak atau disebut Desk of Chemical, Biological, Radiologycal, Nuclear and Explosives (CBRN-E).

Pengaktifan Desk Ancaman CBRN-E tersebut di ungkapkan pada acara coffee morning Staf Ahli Menhan Bidang Keamanan (Sahli Kam) Mayjen TNI Hartind Asrin dengan para pakar ancaman CBRN-E dari perwakilan Kementerian dan Lembaga yang akan terkait, Selasa (26/2) di Kantor Kemhan.

Pada kesempatan pertemuan itu Sahli Kam Kemhan mengatakan, Pemerintah dan masyarakat saat ini belum mewaspadai adanya ancaman CBRN-E sebagai senjata non militer yg dapat melemahkan keamanan nasional. Sehingga untuk menghadapi ancaman asimetris warefare bersifat non militer tersebut, pemerintah belum memiliki kebijakan tentang penanganan ancaman CBRN-E yang terintegratif dan komprehensif beserta Legal Aspeknya.

Disamping itu terdapat kendala lain seperti belum adanya suatu badan nasional sebagai Leading Sector dalam kewaspadaan menghadapi ancaman-ancaman CBRN-E yang sedang berkembang di dunia.

Lebih lanjut Mayjen TNI Hartind Asrin mengungkapkan, pada dasarnya Desk CBRN-E di Kemhan sudah terbentuk pada bulan Juni 2012 berdasarkan Keputusan Menteri Pertahanan Nomor : KEP/434/M/VI/2012 tanggal 4 Juni 2012. Namun struktur organisasinya baru terbentuk Tahun 2013 ini, yang mana tim pengarahnya diketuai oleh Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro dan Tim Kerjanya diketuai oleh Staf Ahli Menhan Bidang Kemanan, Mayjen TNI Hartind Asrin.

Ditambahkannya, meski tim kerja internal Kemhan sudah terbentuk namun untuk menyempurnakannya Desk CBRN-E ini masih memerlukan pakar-pakar dari Kementerian dan Lembaga terkait yang berkecimpung di bidang Kimia, Biologi, Nuklir dan Bahan Peledak.

Di jelaskan juga oleh Sahli Kam Kemhan, saat ini didalam upaya penanganan ancaman pertahanan CBRN-E adalah mensinergikan kementerian dan lembaga yang berwenang terhadap upaya penanganan CBRN-E melalui strategi efektif, responsive dan berkelanjutan.

Pada kesempatan tersebut Sahli Kam Kemhan menjelaskan tentang Road Map penanganan CBRN-E, yang mana salah satunya adalah Kemhan masih mengidentifikasi dan menginventarisir kapasitas tugas dan tanggung jawab serta kewenangan dari setiap stake holder yang akan terkait di bidang CBRN-E. Selain itu pengumpulan data mengenai analisis jenis dan jumlah ancaman CBRN-E yang berpotensi akan terjadi masih dilakukan secara internal Kemhan, sehingga masih dirasakan perlu berkoordinasi dengan para stake holder terkait.

Oleh karena itu diharapkan pada forum pertemuan saat ini dapat dirumuskan suatu inisiatif pembentukan bukan hanya sebatas Desk atau tim kerja melainkan suatu badan ancaman CBREN-E yang bersifat nasional serta penetapan stake holder yang akan menjadi instansi leading sektornya.

“Setelah terdapat suatu badan atau tim kerja gabungan nasional ancaman CBRN-E maka Kemhan melalui Ditjen Strategi Pertahanan Kemhan akan merumuskan suatu Strategi Pertahanan Negara yang khusus menghadapai ancaman CBRN-E dan kita sarankan ke Menteri Pertahanan dan diteruskan kepada Presiden” ungkap Mayjen TNI Hartind Asrin.

Sumber : KLIK DISINI

EMPAT KRI JAJARAN KOMANDO ARMADA BARAT SIAP BEROPERASI KEMBALI

KRI Imam Bonjol 383
Kepala Dinas Material Angkatan Laut (Kadismatal) Laksamana Pertama (Laksma) TNI Ir. Bambang Nariyono, M.M., menyerahkan empat Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) usai melaksanakan perbaikan dan pemeliharaan menyeluruh tingkat depo (Hardepo) kepada Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat (Pangarmabar) Laksamana Muda (Laksda) TNI Arief Rudianto, S.E., yang diwakili Asisten Logistik (Aslog) Pangarmabar Kolonel Laut (T) Dani Achdani, S.T., M.A.P., di Geladak KRI Teluk Sabang-544 yang sedang sandar di Dermaga TNI Angkatan Laut Pondok Dayung, Jakarta Utara, Selasa (26/2).

Keempat KRI jajaran Koarmabar yang telah melaksanakan perbaikan selama kurang lebih satu tahun tersebut siap bertugas kembali guna mendukung operasi laut di wilayah Koarmabar, yaitu KRI Imam Bonjol-383, KRI Sutanto-377, KRI Teluk Gilimanuk-531 dan KRI Teluk Sabang-544.

Kadismatal Laksma TNI Ir. Bambang Nariyono, M.M., dalam sambutannya mengatakan, kegiatan Hardepo merupakan salah satu tugas pokok yang diemban Dismatal selaku Badan Pelaksana Pusat (Balakpus) yang bertanggung jawab pada kesiapan platform KRI, dimana sesuai hierarki dalam sistem pemeliharaan terencana TNI Angkatan Laut, maka pemeliharaan tingkat depo adalah kewenangan dari Otorita Pemeliharaan Kapal (OPK) tingkat Mabesal.

Meskipun kewenangan pemeliharaan berada di OPK Mabesal, selama tahap penyiapan dan pengawasan, Dismatal akan selalu melibatkan Komando Utama (Kotama) terkait, sehingga hasil akhir yang dicapai merupakan hasil kerjasama antara Dismatal dengan Kotama termasuk Satharmat yang merupakan kepanjangan tangan dari Dismatal. Selesainya kegiatan Hardepo tersebut, merupakan hasil rangkaian yang erat antara Dismatal, pihak kapal dan satuan dengan pihak pelaksana kegiatan.

Pada kesempatan tersebut, Kadismatal menghimbau kepada seluruh pihak yang terkait pemeliharaan kapal terutama prajurit pengawak untuk senantiasa meningkatkan kewaspadaan pada segala macam bentuk bahaya yang mungkin terjadi di kapal. Penggunaan materiil atau peralatan yang tidak selayaknya digunakan di kapal semaksimal mungkin harus dihindari, karena beberapa penyebab kebakaran berasal dari peralatan domestik yang bukan standar di kapal.

Dengan diserahkannya keempat KRI tersebut, bukan berarti tugas pemeliharaan menjadi selesai. Serah terima KRI tersebut perlu dipandang sebagai tongkat estafet pemeliharaan kapal, dimana pemeliharaan merupakan kegiatan yang berkesinambungan sesuai dengan tingkatan dalam sistem pemeliharaan terencana.

Oleh karena itu, Kadismatal mengharapkan kepada Komandan KRI beserta seluruh anak buah agar pertahankan kondisi teknis yang telah dicapai melalui kegiatan Hardepo atau repowering; laksanakan drill-drill pos tempur sebelum kembali menjalankan operasi; laksanakan pengawasan secara ketat terhadap operasional dan kondisi seluruh pesawat atau peralatan dengan melaksanakan tertib pengisian jurnal.

Kadismatal selaku pembina teknis platform KRI menegaskan, keberhasilan kegiatan Hardepo yang diselenggarakan merupakan jerih payah dari apa yang sudah direncanakan, diawasi dan laksanakan bersama. Untuk itu harapkan dengan selesainya Hardepo tersebut dapat memelihara dan meningkatkan kondisi teknis terutama platform, sehingga keempat KRI tersebut mampu memikul beban tanggung jawab sebagai wahana para prajurit matra laut dalam menjaga kedaulatan negara di laut sampai beberapa tahun ke depan selama daur hidupnya, tambah Kadismatal.

Turut hadir pada kegiatan tersebut Komandan Satuan Kapal Eskorta Koarmabar (Dansatkorarmabar) Kolonel Laut (P) Denih Hendrata, Kadismatbekarmabar Kolonel Laut (T) Kasih Prihantoro, S.E., M.M., serta para Pejabat Teras Koarmabar.

Sumber : KLIK DISINI

PENEMBAKAN ANGGOTA TNI DI PAPUA ATAS INFORMASI MATA-MATA


Jihad-Defence-Indonesia - Jakarta : Kasus penembakan yang menewaskan dua anggota TNI di Tingginambut, Papua, diduga dibantu oleh seorang mata-mata. Wani Tabuni, diduga sebagai mata-mata yang menyampaikan informasi kepada Gerakan Pengacau Keamanan (GPK).

Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, Laksamana Muda Iskandar Sitompul mengatakan, sebelum terjadi penembakan terhadap Pratu Wahyu Prabowo dan Lettu Reza Gita, Wani Tabuni sempat bertemu keduanya di Distrik Tingginambut.

"Sebelum penembakan, Wani Tabuni sempat bertemu keduanya di distrik Tinggi Nambut. Namun setelah dia pergi tidak lama kemudian terjadilah penembakan," ujarnya di Mebes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa (26/2).

Iskandar juga menduga Wani Tabuni adalah agen dari GPK. "Yang kami tahu, TNI memang melakukan kerjasama sama warga Papua di sana. Nah si Wani Tabuni ini kami mengira dia juga merupakan agen dari GPK, sehingga mengetahui kondisi di sana," paparnya.

Iskandar mengatakan usai kejadian penembakan tersebut, keberadaan Wandi Tabuni saat ini sangat sulit dicari. Pasalnya saat kejadian dia telah menghilang, lari dari hutan ke hutan.

"Kami masih melakukan pencarian kepada yang bersangkutan, kemungkinan kita bisa mengetahui semuanya dari dia," jelas Iskandar.

Iskandar juga belum dapat memastikan apakah penembakan di Tingginambut, Papua, ini masih berkaitan dengan penembakan yang ada di Sinak, Kabupaten Puncak, Kamis (21/2), yang menyebabkan gugurnya tujuh orang personel TNI pada saat itu.

"Kami masih melakukan penyelidikan, sudah dibentuk juga tim dari Kodin untuk mengusut kasus ini," ungkapnya.

Sebelumnya, delapan personel TNI dan empat warga sipil tewas akibat ditembak kelompok sipil bersenjata di dua lokasi berbeda yakni di Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya dan di Sinak, Kabupaten Puncak, Kamis (21/2).

Delapan personel TNI yang tewas di Sinak yakni Sertu Ramadhan, Sertu M Udin, Sertu Frans, Pratu Mustofa, Pratu Edi, Praka Jojo Wiharjo dan Praka Wempi. Sedangkan yang tewas di Tingginambut adalah Pratu Wahyu Wibowo.

Sementara, empat warga sipil yang tewas adalah Yohanis, Uli, Markus dan satu orang lagi belum diketahui. Pagi tadi saat hendak mengevakuasi jenazah personel TNI di Sinak, helikopter TNI jenis MI 17 ditembaki orang tak dikenal sekitar pukul 08.26 WIT. Akibatnya, tiga awak heli terluka.

Lettu Amang mengalami luka tembak di jari kelingking sebelah kiri, Mayor Asep terkena rekoset hingga menyebabkan memar di paha bagian kanan, sementara Kapten Tata mengalami memar di lengan kanan akibat serpihan.

Sumber : KLIK DISINI

BOM PERDANA SUPER TUCANO TNI-AU



Jihad-Defence-Indonesia - Lumajang : Sejak kedatangan empat pesawat tempur taktis EMB-314 Super Tucano di Skadron Udara 21 Wing 2 Lanud Abd Saleh tanggal  17 September 2012 lalu, hari ini Selasa (26/2) dilakukan uji coba pengeboman perdana dengan menggunakan bom jenis mk-82 Innert/praktis yang bertempat di Air Weapon Ring (AWR) Pandan Wangi Lumajang Jawa Timur.
Uji coba tersebut dilakukan dalam rangka Latihan Air to Ground Skadron Udara 21 Wing 2 Lanud Abd Saleh dan bertujuan untuk melatih kemampuan seorang pilot pesawat tempur dalam menghancurkan sasaran yang dituju.
Skadron Udara 21 mengadakan latihan Pengeboman air-to-ground (udara- ke-darat) bagi penerbang tempur selama tujuh hari, di mulai hari Senin tanggal 25 Februari 2013 hingga tanggal 4 Maret 2013, di Air Weapon Ring (AWR) Pandan Wangi Lumajang.
Latihan ini rencananya akan dilaksanakan secara berkala dengan melibatkan seluruh penerbang Pesawat Super Tucano, karena untuk menjadi penerbang tempur yang handal dan profesional tidak hanya mampu menerbangkan pesawat saja, akan tetapi harus dapat menghancurkan sasaran yang merupakan syarat mutlak harus dikuasai oleh seorang fighter.
Uji coba pengeboman ini dilakukan bersamaan dengan latihan Garuda Perkasa yang merupakan latihan rutin tahunan Lanud Abd Saleh. Kali ini diasumsikan AWR Pandan Wangi Lumajang sebagai daerah kedudukan musuh yang harus dihancurkan. Oleh karenanya para fighter Super Tucano penuh semangat dalam melaksanakan latihan pengeboman ini dan berusaha untuk tepat mencapai sasaran yang harus dihancurkan.
Sumber : KLIK DISINI

GUBERNUR PAPUA: TERJADI KEBOHONGAN DI PAPUA

 Gubernur Papua, Lukas Enembe - antarafoto
Gubernur Papua, Lukas Enembe
Jihad-Defence-Indonesia - Papua : Otonomi khusus yang berlaku di Papua sejak 2001 tidak berjalan sesuai harapan masyarakat asli di sana. Masih banyak penyimpangan bahkan pelanggaran HAM. Akibatnya tidak ada perkembangan, masyarakat asli tak pernah menikmati hasil tanah kelahirannya.

Demikian disampaikan Gubernur Papua, Lukas Enembe dalam acara Diskusi Publik "Pemekaran Wilayah Papua" (Masalah dan solusinya) di Hotel Saripan Fasific, Jakarta Pusat, Selasa (26/2/2013).

Lukas menjelaskan, otonomi khusus saja di Papua tidaklah cukup, padahal Bumi Cenderawasih memberikan kontribusi besar kepada negara ini.

"Bukan hanya memberikan otonomi khusus, tapi juga penanganan khusus, pemerintah bisa bangun jembatan Suramadu triliunan, tapi kapan Papua?, kita minta proteksi," tegas Lukas.

Dikatakan, sejarah politik di Papua masih bermasalah. Bahkan disayangkan Papua masih menjadi daerah minoritas di negeri sendiri. "Kabupaten yang sudah dimekarkan tidak menjadi pertumbuhan ekonomi, ini tidak terjadi sama sekali, itu sama saja kebohongan," tambahnya.

Diskusi publik mengenai Papua ini disaat kondisi di daerah tersebut yang terus bergejolak. Rangkaian peristiwa terus terjadi. Bahkan, beberapa hari lalu, delapan anggota TNI meninggal karena ditembak kelompok separatis.

Penyelesaian Papua tak cukup dengan Otonomi Khusus  (Otsus) 


Penyelesaian berbagai persoalan Papua tidak cukup hanya melalui kebijakan Otonomi Khusus (Otsus) karena persoalannya sudah begitu kompleks, kata Gubenur Terpilih Papua Lukas Enembe.


"Penyelesaian masalah Papua harus diselesaikan lebih dari sebuah upaya penerapan kebijakan otonomi khusus. Selama Papua masih dijadikan lahan untuk mencari keuntungan, otomatis masalah yang muncul di tanah Papua tidak akan terselesaikan," kata Lukas dalam Diskusi Publik "Pemekaran Wilayah Papua (Masalah dan Solusi)" di Jakarta, Selasa.

Menurut dia, hingga kini persoalan Papua masih belum terpecahkan karena pelaksanaan kebijakan di daerah tidak sejalan dengan kebijakan pusat dan cenderung keluar dari keinginan masyarakat Papua.

Oleh karena itu, pemerintah harus dapat mengawal kebijakan pembangunan hingga ke tingkat daerah agar pembangunan berkesinambungan dapat terus berjalan.

"Persoalan Papua sudah demikian kompleks dan banyak dibahas oleh penentu kebijakan. Namun, tetap jauh dari harapan dan keinginan rakyat Papua," tutur dia.

Ia menjelaskan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah mengeluarkan kebijakan yang luar biasa dalam menyelesaikan persoalan Papua, dengan menggelontorkan sekitar Rp 20 triliun untuk otonomi.

"Ini anggaran yang cukup besar, namun anggaran tersebut justru kerap dijadikan lahan bagi pihak-pihak tertentu yang tidak membangun Papua dengan hati," kata Lukas.

Di tempat yang sama, Staf Khusus Presiden Bidang Pembangunan Daerah dan Otonomi Daerah Velix Wanggai menuturkan, pemerintah sangat intens membangun komunikasi dengan tokoh-tokoh masyarakat Papua guna memberikan masukan pemecahan masalah Papua.

"Roh untuk menjalankan otonomi khusus dibutuhkan untuk menyeimbangkan perbaikan serta pembangunan sosial ekonomi di Papua. Pemerintah terus intensifkan komunikasi dengan masyarakat Papua untuk mencari solusi dari warisan masalah yang timbul," kata Velix.

Anggaran Otsus selalu ditingkatkan sesuai dengan instrumen perubahan kebijakan masyarakat Papua. Semua dilakukan demi percepatan pengembangan ekonomi ke arah yang lebih baik bagi masyarakat Papua.
 

Pemekaran wilayah akan rumitkan persoalan Papua
 

Gubernur Papua terpilih Lukas Enembe menilai pemekaran wilayah di Papua tidak membawa solusi dalam penyelesaian permasalahan Papua, bahkan akan menambah kerumitan persoalan di bumi cenderawasih tersebut.

"Ada beberapa kabupaten yang sudah dimekarkan sebelumnya, tetap tidak bisa melakukan pengembangan pembangunannya," kata Lukas dalam Diskusi Publik "Pemekaran Wilayah Papua (Masalah dan Solusinya)", di Jakarta, Selasa.

Hadir sebagai pemateri Staf Khusus Presiden Bidang Pembangunan dan Otonomi Daerah Velix Wanggai, pakar militer Universitas Pertahanan Salim Said, anggota DPR dari Papua Paskalis Kossay dan Direktur Padma Indonesia Gabriel G Sola, dengan moderator Pemred Perum LKBN ANTARA Akhmad Kusaeni.

Menurut dia, apabila Papua dipaksakan untuk dimekarkan maka akan terjadi persoalan lantaran sumber daya manusianya belum siap.

Ia mencontohkan, untuk memenuhi kebutuhan pemerintah kabupaten saja belum siap, apalagi jika sampai terbentuk provinsi baru. Sehingga, tidak sedikit pegawai negeri sipil (PNS) golongan II dipaksa menjadi kepala dinas.

"Akibatnya, tidak ada pertumbuhan ekonomi dan investasi, serta layanan publik tidak berjalan. Kalau datangkan orang luar Papua untuk mengisi pos jabatan di daerah pemekaran, nanti malah menimbulkan persoalan baru," paparnya.

Ia pun mendukung moratorium pemekaran provinsi maupun kabupaten/kota di Papua. Saat ini ada sebanyak 29 kabupaten/kota di Papua, dan di Papua Barat ada 13 kabupaten/kota.

Pemekaran wilayah di Papua, tambah dia, tidak membuat kondisi membaik. Oleh karena itu, dirinya mengusulkan agar pemerintah pusat memberinya kesempatan untuk menata kabupaten/kota lebih dulu, bukan dengan membuat provinsi baru.

Salah satu ancaman pemekaran, menurut Lukas, adalah terhapusnya beberapa suku pedalaman yang tercerai-berai karena berpisah tempat tinggal. Dari 250 suku di Papua, sedikitnya 10 suku terancam punah karena penduduknya tinggal 300 orang.

Di tempat yang sama, Staf Khusus Presiden Bidang Pembangunan Daerah dan Otonomi Daerah Velix Wanggai mengatakan pemerintah mengharapkan dengan adanya pemekaran wilayah di Papua dapat memudahkan masyarakat setempat untuk memperoleh pelayanan dari pemerintah daerah.

"Bagi Presiden SBY ada sisi positif dan negatif dari upaya pemekaran wilayah Papua. Apakah kabupaten yang sudah muncul (29 kabupaten) di Papua telah memberikan kontribusi bagi percepatan pertumbuhan ekonomi secara umum. Jika tidak, kebijakan pemekaran tentu akan dipertimbangkan," katanya.

Sumber : KLIK DISINI , KLIK DISINI