Sabtu, 11 Agustus 2012

"Yunior" di Medan Tempur YONIF LU 50 PPRC KOSTRAD


Brigif Linud 18
Kisah ini merupakan seorang prajurit yang berpangkat terendah dan baru saja masuk satuan, langsung menjalani tugas pertamanya di medan pertempuran dan berhadapan dengan maut.

Ketika pada 2003 pemerintah menerapkan status Daerah Militer Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), pasukan dari Batalyon Infanteri Lintas Udara 502, Brigade infanteri Lintas Udara 18/Divisi Infanteri 2 Kostrad sebagai satuan tugas Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) diterjunkan di lapangan terbang Blang Bintang, Aceh. Selanjutnya pasukan melaksanakan operasi darat lanjutan di daerah Timang Gajah menuju Gunung Salak.

Baru berjalan 47 hari, tepatnya 3 Juli 2003, salah satu tim dari Kompi Cobra 502 yaitu Tim Cobra 1, melakukan "pembersihan" di kaki Gunung Salak, yang sehari sebelumnya telah diberikan tembakan dari helikopter (SUL / Serangan Udara Langsung). Disinilah Prajurit Dua (Prada) Edi Suwito, prajurit paling yunior di Yonif Linud 502/Kostrad, yang merupakan anggota Tim Cobra 1, memperoleh pengalaman hebat pertamanya sebagai tentara.

Prada Edi turut terlibat tembak menembak dengan peluru tajam yang takkan terlupakan seumur hidupnya. Setelah selesai mengikuti pendidikan milter tahun 2002 dan masuk kedalam satuan Yonif Linud 502/Kostrad, langsung bertugas di medan tempur.

Setelah seharian melakukan penyisisran, yang ditemukan hanya bekas  perkemahan gerombolan separatis Gerakan Aceh Merdeka (GAM), yang ditinggalkan dengan terburu-buru. "Mungkin mereka sudah mengetahui kedatangan kami atau menghindari dari peninjauan dan tembakan helikopter," kata putera kelahiran Binjai 22 Desember 1980 itu.

Saat pasukan melakukan "orientasi medan" untuk lokasi makan siang, tiba-tiba terdengar suara tembakan dari arah timur dan terdengar agak jauh. Komandan Tim (Dantim) langsung memerintahkan anak buahnya untuk berlindung sambil menunggu perintah lanjutan, lalu mencoba koordinasi melalui radio dengan rekan tim lainnya yang juga sedang melaksanakan "pembersihan" dan ternyata tim dari Kompi Bayonet 502 sedang terlibat baku tembak dengan GAM.

Dari hasil koordinasi, Tim Cobra 1 lalu melakukan penutupan di sektornya karena menurut Tim Bayonet merupakan arah pelarian musuh. Saat itu pasukan "mengendap" dan salah satu anggota tim kambuh penyakit malarianya. Karena kondisinya sangat mengkhawatirkan, maka diputuskan mengevakuasi Praka Tajudin tersebut. Posisi tim yang sudah masuk jauh ke hutan, merupakan perjuangan yang berat bagi sembilan orang personil tim. Dua orang harus bergantian menandu Praka Tajudin ke lokasi aman.

Ketika sedang beristirahat di suatu kampung terdengar suara tembakan senapan AK-47 dari arah yang cukup dekat, dengan reflek pasukan dan masyarakat tiarap untuk berlindung. Praka Tajudin pun begitu mendengar tembakan langsung loncat dan meminta senjatanya, suara tembakan terdengar sangat dekat sekali sekitar 300 meter.

Tim lalu dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok bertugas mengejar ke arah suara tembakan dan sisanya menunggu barang dan anggota yang sakit. Saat mendeka tsuara tembakan, ternyata ada pasukan dari Kompi Pemburu Yonif 203 yang terlibat kontak tembak.

Pengejaran dan pembersihan terus dilakukan. Dari jejak darah yang ditemukan mengarah ke satu bukit kecil yang dibawahnya terdapat sungai kecil. Kondisi medan sangat tidak menguntungkan bagi pasukan. Akhirnya terlihat seorang anggota gerombolan sembunyi di semak-semak, yang kemudian ditembak mati dan satu pucuk AK-47 didapatkan.

Karena hari sudah sore, pasukan Cobra 1 diputuskan untuk kembali ke posisi awal lalu mengajak warga setempat mengurus jenazah GAM yang meninggal esoknya. Pada kejadian baku tembak lalu, seorang prajurit terserempet peluru dan Praka Tajudin yang sakit kemudian terlihat kondisinya mulai membaik. Ternyata saat kontak tembak tanpa sadar akan sakitnya dia terus melakukan perlawanan dengan membalas tembakan. Situasi yang menegangkan itu membuatnya berkeringat yang justru malah menyembuhkan penyakitnya.

"Katanya tanda penyakit malaria akan sembuh itu kalau keringatan. Sejak itu saya jadi percaya kalau obat paling manjur untuk penyakit malaria adalah suara tembakan saat kontak dengan musuh," seloroh Edi.

Setelah ditunggu-tunggu musuh tidak kembali atau melakukan serangan lagi, pagi dini hari tim bergerak ke bukit tempat kontak tembak kemarin, yang ternyata terdapat rawa yang ditumbuhi pepohonan yang rimbun. Pasukan :mengendap" menunggu musuh lewat, ternyata sampai jam 7 pagi musuh tidak nampak batang hidungnya, maka diputuskan untuk kembali ke Kotis.

Ketika baru bergerak, Praka Muhammad melihat ada jejak kaki manusia dipinggir rawa. Dantim pun maju untuk "mengesan jejak" yang ditemukan dan baru kira-kira semeter bergerak masuk ke dalam rawa terlihat ada kaki manusia. Tiba-tiba terdengar  suara tembakan AK-47. Dantim dan Praka Muhammad langsung terjengkang, sedangkan anggota tim yang berada di belakangnya langsung tiarap mencari perlindungan sambil mencari arah tembakan.

"Saat itu, saya yang berada di dekat Dantim Cobra 1 Lettu Inf Rudianto dan Praka Muhammad, baru sadar kalau di depan saya Dantim sedang memeluk Praka Muhammad yang terkena tembakan didadanya, sedangkan Dantim sendiri kena tembak dikakinya," kenang Edi. Tapi baru beberapa meter, terdengar tembakan dan Dantim jatuh lagi.

"Kali ini saya lihat dada kiri dan tangannya berdarah, saya mencoba untuk menolong tapi tembakan terlalu gencar, sehingga saya hanya bisa membalas tembakan tanpa tahu kedudukan pasti musuh yang berada di dalam rawa. Saya liat Dantim merayap dan membawa senjatanya sedangkan Praka Muhammad nampak tidak bergerak lagi. Saya jadi kaget dan gugup, karena rekan dan Komandan saya tertembak di depan mata saya," katanya. Lalu pasukan dikendalikan Wadantim dan tidak lama kemudian datang bantuan dari pasukan kawan, Tim Kompi Bayonet 502.

Setelah mengamankan Dantim yang terluka cukup parah, lalu dicoba upaya untuk mengambil dan menyelamatkan Praka Muhammad yang posisinya berada di tengah kontak tembak. Namun ketika Praka Muhammad berhasil dibawa ke belakang, baru diketahui ternyata ia telah gugur. Peluru musuh merobek dadanya, tembus ke pinggang.

"Kondisi yang penuh tekanan tersebut bukannya membuat kami takut tapi justru menjadikan kami marah dan ingin membalas. Segala macam cara kami kerahkan untuk memancing musuh keluar dari rawa. Mereka sudah kami kepung sehingga tidak mungkin meninggalkan tempat tersebut. Dicoba dengan menembakan senjata pelontar api dengan harapan pepohonan di rawa akan terbakar, namun tidak berhasil karena daunnya masih hijau tidak bisa terbakar," kata Edi yang saat ini sudah berpangkat Prajurit Satu (Pratu). 

Selepas siang tembakan GAM sudah tidak terdengar lagi. Dengan perhitungan dan keberanian pasukan dari Tim Cobra 1 dan Tim Bayonet di putuskan masuk ke rawa untuk melakukan "pembersihan", dengan cara terlebih dulu merebahkan pohon yang ada di rawa dan memakai kayu untuk mencari kemungkinan musuh yang bersembunyi.

Usaha itu cukup jitu, karena ditemukan seorang musuh tewas terkena tembakan dengan posisi telungkup memeluk sebuah senjata AK-47.  Satu hal yang cukup mengagetkan adalah ternyata di dalam rawa terdapat selokan yang cukup dalam dan dijadikan jalan pelarian oleh musuh dengan cara berenang menyelam.

"Meskipun kami berhasil menembak mati dua anggota gerombolan GAM dan mendapatkan dua pucuk senjata AK-47 di Alue Le Mudik, Aceh Utara, tapi saya anggap tidak seimbang dengan korban yang telah jatuh di pihak kami, yaitu seorang rekan perjuangan yang sekaligus senior saya gugur dan Komandan saya harus di evakuasi Ke RSPAD Gatot Subroto, karena luka-lukanya," kata Edi menutup kisahnya.

"Karena dia dinilai sebagai prajurit yang baik, disiplin dan potensial. Pratu Edi Suwito sekarang dijadikan Provost di Yonif Linud 502/18/2/Kostrad, Jabung, Malang," kata Komandan Yonif Linud 502/Kostrad Letkol Inf Arif Cahyono

.
[sumber Defender, 2007]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar