Jumat, 20 September 2013

PROYEKSI KAPAL SELAM KOREA SEATAN DAN RUSIA

Kapal Selam Changbogo tipe U209
Kapal Selam Changbogo tipe U209

Jihad-Defence-Indonesia Jakarta : Prospek pengembangan Angkatan Laut Indonesia 

semakin menjanjikan, setelah Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana Marsetio

dijadwalkan mengunjungi Korea Selatan dalam waktu dekat, untuk menyaksikan 

pemotongan baja yang menandai dimulainya pembuatan kapal selam pesanan TNI-AL.


Duta Besar (Dubes) Korea Selatan, Kim Young-Sun mengatakan tiga kapal selam tipe U-209

 telah dipesan oleh Indonesia dan akan dikirim tahun 2015 hingga tahun 2016. Dua akan 

dibangun di galangan kapal Daewoo di Busan, Korea Selatan, sementara yang ketiga akan

 dibangun di fasilitas galangan kapal milik negara PT  PAL Indonesia di Surabaya. Rencana

 keberangkatan KASAL ke Korea Selatan, disampaikan Duta Besar Korea Selatan untuk

 Indonesia Kim Young-Sun, dalam acara 40 tahun sejarah hubungan diplomatik kedua

 negara, yang bertempat di Jakarta.


Pernyataan dari Dubes Korea Selatan ini, sekaligus menepis dugaan, bahwa kapal selam

 yang dibeli Indonesia adalah kapal bekas. Dengan adanya pemotongan baja pertama, berarti

 Indonesia akan memiliki kapal selam baru jenis U-209, buatan Korea Selatan. Pernyataan 

Dubes Korea Selatan juga menunjukkan, mereka serius membangun kapal selam ketiga di 

Surabaya, Indonesia. Jika hal ini terwujud, akan menjadi sebuah terobosan besar. Indonesia 

mampu membuat kapal selam sendiri !.


Di sisi lain TNI-AL juga bergerak untuk menindaklanjuti rencana hibah 10 kapal selam dari 

Rusia. Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan, tim peninjau TNI-AL 

berangkat ke Rusia, untuk melihat kapal selam hibah tersebut. 

Diduga kapal selam yang ditawarkan Rusia adalah jenis Kilo yang masih operasional namun 

direfurbish dan disesuaikan dengan kondisi iklim laut di Indonesia. Kasusnya mungkin mirip 

dengan hibah 30 pesawat tempur F-16 eks Amerika Serikat. Keberadaan kapal selam Kilo 

ini akan mendatangkan kekuatan strategis bagi Angkatan Laut Indonesia. 

Negara lain perlu berpikir ulangi, jika mencoba mengganggu Indonesia. Bahkan keberadan 

10 kapal selam kilo (jika jadi dibeli) akan menjadi tekanan tersendiri bagi pasukan Amerika 

Serikat yang berpangkalan di Australia.  Kapal selam kilo memberi pesan kepada Amerika 

Serikat dan Australia, bahwa keamanan kawasan Indonesia, tidak diserahkan begitu saja 

kepada mereka. 

Di sisi lain kapal selam ini akan memperkuat posisi Indonesia di Perairan Natuna,  yang 

bersinggungan langsung dengan laut China Selatan, atas ancaman armada laut China yang 

semakin agresif.


Kekuatan bawah laut Indonesia akan mengalami peningkatan yang signifikan. Namun jika

 dibandingkan dengan negara-negara besar lainnya, seperti India, Australia, China, dan 

Korea Selatan, maka peningkatan kekuatan laut Indonesia, bisa disebut sedang mengejar

 ketertinggalan.
Kapal Selam Kilo Class Proyek 877 EKM, Angkatan Laut Iran
Kapal Selam Kilo Class Proyek 877 EKM, Angkatan Laut Iran

TNI AL mencoba melompat jauh dengan pengadaan hibah 10 kapal selam (diduga) Kilo. Ada 

baiknya juga memiliki kapal permukaan yang memiliki nilai strategis setara dengan Kilo, 

yakni kapal permukaan jenis destroyer. Kapal ini bertugas melindungi kapal-kapal

 permukaan Indonesia, sekaligus menjadi penggentar. Negara yang dihadapi Indonesia saat 

berpatroli di wilayah utara adalah China, sementara di wilayah Selatan adalah Australia. 

Untuk itu diperlukan destoyer sebagai alutsista strategis, didukung oleh frigate, korvet dan 

kapal cepat rudal.  Jika pada tahun 1960-an Indonesia telah memiliki kapal penjelajah 

Cruiser dari Uni Soviet, sangat wajar di MEF tahap 2 (2015-2019), Indonesia memiliki 

destoyer.


Kembali ke persoalan kerjasama militer Indonesia dan Korea Selatan. Kabar lain yang 

menggembirakan adalah kedua negara saat ini mempersiapkan diri untuk bekerja sama 

dalam pembuatan pesawat tempur KFX / IFX generasi mendatang, yang dirancang dan 

dibangun bersama-sama. Pada tahun 2010, Indonesia setuju untuk menanggung 20 persen 

dari biaya proyek KF-X dengan imbalan sekitar 50 pesawat untuk TNI AU,  setelah proyek 

itu diselesaikan.


Kim Young-Sun berharap keputusan final dari kerjasama tersebut dapat dicapai sebelum 

berakhirnya tahun 2013. “Yang penting adalah, kedua pihak saling menyukai dan saling 

mempercayai”, ujar Duta Besar Korea Selatan.


Kepercayaan antara Indonesia dan Korea Selatan terus meningkat, tidak hanya ditandai 

perkembangan volume perdagangan dan investasi dari kedua negara, tetapi juga skala

 investasi yang terlibat. Kim Young Sun mengatakan investasi Korea di Posko – Krakatau 

dalam produksi baja mencapai angka 7 miliar USD. Sementara Pabrik Ban 

Hankook berinvestasi senilai 1,2 miliar USD di Bekasi, Jawa Barat. Sekarang ada sekitar 

2.000 perusahaan Korea berinvestasi di Indonesia dan ada sekitar 50.000 masyarakat 

Korea Selata di Indonesia.


Kim mengatakan kedua negara harus mendapatkan pemahaman yang lebih baik satu sama 

lain, dan terus membangu saling kepercayaan.

Sumber : KLIK DISINI

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar