Minggu, 16 Maret 2014

AKANKAH KRISIS CRIMEA MEMICU PERANG DUNIA III...?


Jihad-Defence-Indonesia - CRIMEA : 
Ketegangan yang terus meningkat di Ukraina, lebih 

khusus lagi di Semenanjung Crimea menjelang referendum yang akan digelar Minggu 

(16/3/2014) terus meningkat. Berbagai manuver politik dan militer kedua Barat dan Rusia
terus terjadi dan semakin memanaskan situasi.
 

Serentetan negosiasi untuk mengakhiri ketegangan politik yang dilakukan Amerika Serikat 

(AS), Uni Eropa dan Rusia selalu berujung kegagalan. Puncaknya saat Rusia menggunakan 

hak veto-nya untuk menggagalkan rencana resolusi Dewan Keamanan (DK) Perserikatan 

Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengecam referendum Crimea.
 

Di sisi lain, kedua pihak terus menyusun kekuatan militernya. NATO mengirimkan sejumlah 

pesawat tempur dan pesawat pengintai AWACS ke negara-negara Baltik. Sementara AS 

menggelar latihan militer di darat dengan Polandia dan di Laut Hitam bersama Bulgaria dan 

Romania.
 

Sebelumnya, Rusia bahkan menggelar latihan militer besar-besaran di wilayah barat negeri 

itu yang berbatasan dengan Ukraina. Selain itu, Rusia juga mengirim belasan jet tempur 

Sukhoi Su-27 ke Belarus yang bertetangga dengan Ukraina.  Bahkan dikabarkan puluhan 

prajurit Rusia kini sudah menduduki sebuah desa di wilayah Ukraina.
 

Pertanyaannya, apakah ketegangan politik dan militer ini akan berujung pada sebuah 

perang baru? Atau pertanyaan lebih ekstrem adalah apakah wilayah sekecil Crimea bisa 

memicu Perang Dunia III?
 

Crimea dari segi wilayah yang hanya 26.100 kilometer persegi dan penduduk hanya dua 

juta jiwa memang hanyalah wilayah kecil di pojok barat daya Ukraina. Namun, jika kita 

menengok sejarah dunia dalam 100 tahun terakhir, dua perang dunia yang berpusat di 

Eropa, dipicu dari sebuah negara atau wilayah yang kecil.
 

Kita tengok Perang Dunia I (1914-1918). Perang yang banyak disebut “perang yang akan 

mengakhiri semua perang” itu merupakan sebuah konflik bersenjata paling masif pertama di

 dunia.  Secara total melibatkan 14 negara dan mengakibatkan 40 juta orang tewas.
 

Perang ini dimulai dengan pembunuhan Archduke Franz Ferdinand dari Kekaisaran Austro-

Hongaria  pada 28 Juni 1914 di Sarajevo, Bosnia-Herzegovina.  Pembunuh sang pewaris 

tahta Austro-Hongaria itu adalah Gavrillo Princip seorang pemuda Serbia-Bosnia.
 

Gavrillo Princip, yang gagal bunuh diri usai membunuh Franz Ferdinand, akhirnya

 ditangkap dan diadili. Di pengadilan dia mengaku menjadi bagian gerakan Pan-Slavia yang 

bercita-cita mendirikan negara untuk etnis Slavia. Di wilayah Austro-Hongaria banyak 

tinggal warga beretnis Slavia, sehingga dengan pembunuhan ini memicu gerakan anti-Slavia 

yang kemudian menjadi gerakan anti-Serbia.
 

Sementara itu, pembunuhan Franz Ferdinand itu membuat Austria-Hongaria gusar dan 

memberi ultimatum selama 48 jam kepada Kerajaan Serbia untuk memberi izin para 

penyidik Austria-Hongaria  menyelidiki pembunuhan itu.  
 

Meski Kerajaan Serbia memenuhi semua tuntutan Austro-Hongaria soal penyidikan

 pembunuhan Franz Ferdinand, namun tetap saja tidak memuaskan pihak Austro-Hongaria 

tidak puas. Sebab,  hubungan politik Austria-Hongaria dan Serbia sudah memburuk ketika 

pada 6 Oktober 1908, Austria-Hongaria menganeksasi Bosnia-Herzegovina. 

Meski saat itu perang bisa dicegah setelah Pakta Berlin ditandatangani yang isinya 

mengakui Bosnia-Herzegovina sebagai bagian dari Austria-Hongaria, namun kekaisaran itu 

tetap "gatal" ingin menyerbu Serbia.  
 

Sehingga, pembunuhan Franz Ferdinand ini akhirnya bisa menjadi pembenar  dan alasan 

bagi Austro-Hongaria untuk mengirimkan pasukannya untuk menyerbu Serbia pada 28 Juli 

1914. Invasi ke Serbia ini kemudian membuat Rusia, Inggris, dan Perancis menyatakan

perang terhadap Austria-Hongaria yang saat itu sudah bersekutu dengan Jerman.
 

Sejarah mencatat, tepat satu bulan setelah pembunuhan Franz Ferdinand, Perang Dunia  I 

akhirnya pecah dan baru berakhir empat tahun kemudian setelah mengakibatkan 40 juta 

orang, militer dan sipil, tewas.
 

Begitulah, Serbia dan Bosnia-Herzegovina yang nota bene adalah negara kecil “sukses” 

menyeret negara-negara besar melakoni sebuah perang besar. Situasi yang mungkin sama 

dengan Crimea saat ini, sebuah wilayah kecil, berpenduduk kecil, namun sarat kepentingan 

negara-negara besar.

Sumber : KLIK DISINI

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar