Sabtu, 02 Februari 2013

KEDUBES AS DI ANKARA DI SERANG BOM BUNUH DIRI

Suasana setelah terjadinya serangan bom bunuh diri di pos pintu masuk Kedubes AS di Ankara, Turki hari Jumat (1/2). Gedung Putih menyatakan serangan itu sebagai aksi terorisme.

Jihad-Defence-Indonesia - Ankara : Sedikitnya dua orang tewas dalam serangan bom bunuh diri terhadap kantor Kedutaan Besar Amerika Serikat di Ankara, Turki, Jumat (1/2). Selain pelaku penyerangan, satu orang lagi yang tewas adalah anggota staf kedubes tersebut.
Menurut keterangan para saksi mata, bom meledak di sekitar pos pemeriksaan keamanan dekat pintu samping kantor kedubes, tempat orang-orang berkumpul untuk mengurus visa.
Tayangan televisi menunjukkan sebuah pintu terlepas dari engselnya, dan bagian dari tembok di sekitar pintu itu runtuh. Namun, bagian dalam kompleks kedubes itu dilaporkan tidak mengalami kerusakan.
Duta Besar AS untuk Turki Francis Ricciardione mengatakan, ledakan terjadi pada pukul 13.15 waktu setempat. Seorang penjaga berkebangsaan Turki menjadi korban tewas, dan satu perempuan warga Turki terluka.
Polisi dan beberapa mobil ambulans langsung berdatangan ke lokasi ledakan. Wartawan Associated Press melihat seorang perempuan yang terluka parah diangkut ke salah satu ambulans.
Polisi mengaku sudah memeriksa seluruh kamera keamanan di sekitar lokasi ledakan, dan telah mengidentifikasi dua orang yang diduga kuat sebagai pelaku bom bunuh diri.
Gubernur Ankara Alaaddin Yuksel mengatakan, penyerang telah berada di dalam kompleks kedubes saat menjalankan aksinya.

Serangan teroris

Konsulat Jenderal Inggris di Istanbul, kota terbesar di Turki, langsung mengeluarkan pernyataan bahwa serangan itu diduga kuat sebagai serangan teroris. Inggris memperingatkan para pengusaha Inggris di Turki untuk meningkatkan kewaspadaan.
Meski demikian, belum diketahui pasti kelompok teroris mana yang melakukan serangan tersebut. Di masa lalu, Turki pernah diserang oleh sejumlah kelompok ekstremis, mulai dari kelompok ultrakanan, ultrakiri, Islam radikal, sampai milisi separatis Kurdi.
Turki adalah salah satu sekutu terdekat AS dan anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Ledakan itu terjadi tak sampai sepekan setelah NATO mulai mengoperasikan sistem pertahanan rudal Patriot di perbatasan Turki dengan Suriah.
Pejabat Minister Counsellor Kedutaan Besar RI di Ankara, Robertus Irawan, Jumat (1/2), memastikan ledakan bom tersebut tidak berdampak pada KBRI, yang berjarak sekitar 5 kilometer dari Kedubes AS.
Irawan menambahkan, pihaknya akan berkoordinasi dengan atase pertahanan soal perlu atau tidaknya meminta tambahan pengamanan di KBRI dari Pemerintah Turki. Selama ini pengamanan KBRI memang disediakan pihak kepolisian Turki, bekerja sama dengan kementerian luar negeri Turki.

GEDUNG PUTIH: SERANGAN ATAS KEDUBES AS DI TURKI AKSI TERORISME

WASHINGTON DC : Sekretaris Pers Gedung Putih Jay Carney mengutuk pengeboman di Ankara, dan langsung menyebutnya sebagai aksi terorisme. Ia mengatakan,"Bom bunuh diri dalam perimeter kedutaan besar, berdasarkan definisi, adalah aksi teror. Ini serangan teroris.”

Para pejabat mengatakan mereka tidak tahu siapa yang menyerang kompleks itu dan apa alasannya.

Lebih lanjut Carney mengatakan pemerintah Amerika bekerja sama erat dengan pihak berwenang Turki untuk menyelidiki insiden tersebut dan membawa para pelaku ke pengadilan. Ia menyampaikan terima kasih kepada pemerintah Turki di Ankara atas bantuannya.

"Turki tetap menjadi salah satu mitra terkuat kami di wilayah itu, sekutu NATO. Kami telah bekerja bahu membahu dengan Turki untuk melawan ancaman teror, dan serangan ini hanya akan memperkuat kerjasama kami,” kata Carney.

Itu serangan kedua dalam lima tahun ini terhadap kantor diplomatik Amerika di Turki. Tahun 2008, tiga orang bersenjata dan tiga polisi tewas di luar konsulat Amerika di Istanbul.

Fraksi Republik yang beroposisi dalam Kongres Amerika telah mengkritik tajam pemerintahan Presiden Obama karena menunggu beberapa minggu untuk menyebut serangan 11 September 2012 terhadap fasilitas diplomatik Amerika di Libya sebagai aksi teror.

Kontroversi itu menyebabkan Duta Besar Amerika untuk PBB, Susan Rice, mencabut pencalonannya untuk menggantikan Hillary Clinton sebagai Menteri Luar Negeri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar