Selasa, 11 Desember 2012

PILOT HELIKOPTER DI PERANG VIETNAM


Jihad-Defence-Indonesia - ARC : Tahukah Anda salah satu unit angkatan perang Amerika yang pertama dan terakhir berada di palagan perang Vietnam? Penerbang helikopter adalah jawabannya. Ketika pengiriman awal pasukan darat untuk menghalangi gerakan komunis Vietnam Utara secara besar-besaran meningkat di tahun 1965, para penerbang helikopter justru telah berada di Vietnam Selatan dari tahun 1961. Mereka bahkan menjadi unit perang terakhir yang meninggalkan Vietnam di tahun 1973. Jenis UH-1 Iroquois atau familiar dengan panggilan Huey menjadi ikon perang yang sangat berlarut-larut ini. Berjasa besar dalam arus perpindahan pasukan, perlengkapan, korban, bahkan menjadi yang paling sibuk dalam proses evakuasi dramatis dari kedutaan besar AS ke kapal induk dan pangkalan Negara tetangga di akhir perang.


Bagi para pasukan darat, para penerbang ini tampak serupa. Ketika sudah berada di dalam perut Huey, yang terlihat adalah helm hijau dengan label kuning huruf  timbul nama penerbang, interaksi hanya seperlunya, baju hijau gelap, kacamata hitam, sarung tangan, wajah hanya terlihat area mulut serta dagu itupun masih sedikit tertutup dengan perangkat radio. Personil tambahan yang selalu ada adalah para penembak atau gunner yang doyan mengumbar tembakan pembuka atau tembakan perlindungan yang bisa mengangkat moril prajurit di medan perang. Satu persamaan dengan pasukan darat adalah, mereka sama-sama berusia muda.


“Kami benar-benar percaya untuk usaha terbaik mereka dan kami jarang dibuat kecewa”, Gordon L Rottman, penulis lepas dan veteran perang Vietnam.
“Pilot helikopter berbeda dengan pesawat terbang. Mereka lebih memiliki mata yang tajam, terbuka, ekstrovert, introspektif dan lebih mengantisipasi masalah”, Harry Reasoner, mantan penyiar berita era perang Vietnam.

KRONOLOGI
Maret 1955. Penasihat militer AS pertama mendarat di Vietnam.
11 Desember 1961. Unit penerbang Helikopter pertama dikirim ke Vietnam Selatan.
18 September 1962. Standar sistem penerbangan militer AS diseragamkan.
15 Februari 1963. 11th Air Assault Division dibentuk untuk ujicoba konsep mobilisasi udara.
15 Juni 1965. 11th Air Assault Division dirubah menjadi 1st Cavalry Division (Airmobile).
11 September 1965. 1st Cavalry Division tiba di Vietnam.
25 Mai 1966. 1st Aviation Brigade aktif di Vietnam Selatan untuk mengontrol semua unit selain unit udara.
30 Januari 1968. Viet Cong dan tentara regular Vietnam Selatan (NVA) melancarkan serangan tahun baru Tet. Serangan akbar ini membuat semua divisi termasuk 1st Cavalry Division aktif siang dan malam.
26 April 1971. 1st Cavalry Division ditarik dari Vietnam Selatan.
10 Maret 1972. 101st Airborne Division ditarik dari Vietnam Selatan.
28 Maret 1973. 1st Aviation Brigade ditarik dari Vietnam Selatan.
29 Maret 1973. Penarikan mundur semua pasukan AS di Vietnam selesai. Unit penerbang helikopter yang terakhir menginjakkan kakinya adalah 180th Aviation Company  (Assault Support Helicopter).

PEREKRUTAN dan PELATIHAN

Berbeda dengan anggapan umum warga AS, para pilot heli di era perang Vietnam datang dari para sukarelawan. Semua laki-laki usia 18 mendaftar, mengikuti seleksi, pelatihan, dan penugasan hingga usia 27 tahun. Julukan untuk pemuda-pemuda ini adalah “Rotor Head” atau sama seperti rekan penerbang pesawat yaitu “Flyboy”. Di era sebelum perang Vietnam, sangat sedikit pemuda yang tertarik untuk menjadi penerbang heli apalagi heli tempur. Ketertarikan muncul setelah adanya tayangan serial “Whirlybirds” di tahun 1957. Selain itu, semua pemuda yang tertarik biasanya berangkat dari kegemaran akan mobil, model pesawat, dan miniatur roket. Angkatan bersenjata melihat gejala ini dan mulai menyertakan iklan di majalah-majalah yang ada sangkut pautnya dengan kegemaran di atas.

“Kalian bisa menjadi pilot helikopter di angkatan bersenjata dan mendapat diploma sekolah tinggi”. Kalimat ini efektif apalagi banyak dari pemuda ini yang lulus sekolah atas  hanya untuk kemudian mendapat pekerjaan yang membosankan. Keinginan untuk berpetualang juga menambah kuat tekad mereka.
Semua sukarelawan yang lulus tes kesehatan selanjutnya akan menjalani latihan dasar yang sama seperti tentara darat dapatkan. Tempat pelatihan dasar ini tersebar di hampir setiap Negara bagian. Salah satu yang menjadi tujuan pelatihan adalah di Fort Polk, Los Angeles. Lama pelatihan dasar berkisar delapan minggu dengan materi mulai dari pengenalan kepangkatan, latihan fisik, pengenalan dan penguasaan senapan M14, granat tangan, pertempuran tangan kosong, bertempur dengan bayonet, pertolongan pertama, sanitasi, dan lain-lain.

Heli utama yang digunakan pada pelatihan dasar adalah jenis Bell OH-13G Sioux dan Hiller OH-23D Raven peninggalan era perang Korea. Keduanya merupakan heli two-seat ringan yang biasa digunakan untuk tujuan observasi. Di medan perang Vietnam, kedua heli ini kerap digunakan untuk operasi mata-mata. Untuk menggantikan perannya, pada tahun 1967 diperkenalkan heli Hughes TH-55A Osage atau “Mattel Messerchmitt”.
Sebagai perangkat latihan, digunakan TH-13T yang merupakan bentuk sederhana dari kokpit heli OH-13S. Kemudian perangkat ini pada awal 1967 digantikan dengan yang sama dengan Bell-UH1A Iroquois, UH-1C, dan UH-1D Iroquois. Semua heli latih diberi warna oranye  di sebagian atau keseluruhan badannya.
Panel instrument sederhana dari OH-13G. Ideal untuk latihan dasar karena bentuknya yang tidak rumit dan tidak membingungkan murid penerbang.

Satu unit Hiller OH-23G Raven yang dipergunakan untuk misi pengintaian. Biasanya juga dilengkapi dengan senapan mesin kaliber 30.
Kelas simulator yang mengajarkan pengoperasian TH-55A

Setelah menjalani pelatihan dasar, semua relawan calon penerbang akan melanjutkan ke sekolah penerbangan lanjutan selama delapan minggu dimana sebagian dari mereka menjadi mekanik. Khusus untuk mekanik biasanya lebih lama mendalami pelatihan (umumnya hingga satu tahun). Semua kandidat baik penerbang maupun mekanik yang gagal selama pelatihan lanjutan akan segera diberdayakan sebagai pasukan infantri bahkan langsung diterjunkan ke medan perang.


Karena kebutuhan akan pilot heli yang melonjak di tahun 1968, banyak dari sukarelawan ini menjalani pelatihannya secara cepat dengan tuntutan keberhasilan yang tinggi. Bahkan sebagian kecil dari mereka harus buru-buru ditugaskan sebelum menyelesaikan pelatihan lanjutannya. Namun relawan yang mendaftar tetap tinggi, bahkan tidak sebanding dengan kelas yang tersedia. Sebagian dari mereka menghabiskan beberapa bulan penantiannya dengan pelatihan fisik dan detail pekerjaan.

SEKOLAH PENERBANG UTAMA

Fort Wolter adalah sekolah penerbang utama (Primary Flight Training) angkatan udara AS selama era perang Vietnam. Awalnya Fort Wolter bernama Camp Wolter di tahun 1925 dan merupakan tempat pelatihan tentara pengganti atau cadangan selama perang dunia kedua. Setelah itu Camp Wolter mengalami pembubaran dan aktif kembali dengan beberapa kali penggantian nama dan peruntukan hingga ditetapkan kembali ke angkatan udara dengan nama Fort Wolter di tahun 1973. Memiliki dataran luas dan beberapa daerah berbukit yang cocok untuk area pendidikan penerbang helikopter.
Di sekolah ini bukan hanya personil angkatan bersenjata AS saja yang menuntut ilmu. Tidak lebih 30 negara termasuk Vietnam Selatan mengirimkan orang-orang terbaiknya untuk belajar di Fort Wolter. Marinir AS menggunakan fasilitas ini pada 1968, sedangkan angkatan udara pada 1970. Pada awalnya hanya memiliki 12 helikopter di tahun 1956, namun seiring meningkatnya kebutuhan akhirnya membengkak hingga 1300 unit heli di tahun 1970.
Di tahap awal, calon penerbang mulai belajar untuk Hover ditempat tanpa bergeser sedikitpun ke arah lain. Mereka harus menggunakan stik kemudi dengan satu tangan dan tangan yang lain mengendalikan tongkat pengatur putaran baling-baling secara baik. Kedua kaki memanipulasi pedal kaki untuk mengontrol pergerakan rotor ekor heli. Sebisa mungkin menjaga rotasi mesin dan mempertahankan satu titik mengambang di udara tanpa pergeseran serta perubahan ketinggian. Tidak cukup sampai disitu, mereka juga harus awas dengan arah dan perubahan arah angin yang bisa berubah secara tiba-tiba. Keahlian wajib ini menjadi istilah resmi dengan sebutan “US Army Hoverbug”.   

Keahlian lain yang harus dikuasai adalah latihan Autorotation yang berbahaya dan cukup membuat penerbang pemula stress. Posisi awal heli adalah mengambang di ketinggian 500 kaki di atas dengan putaran mesin rendah mendekati mati tapi tetap membuat rotor masih berputar. Para penerbang mengurangi ketinggian dengan tetap memperhatikan putaran mesin untuk tidak sampai mati. Efeknya heli akan segera turun dengan drastis. Pada ketinggian 15 kaki, penerbang segera menambah sedikit putaran rotor untuk mengimbangi kecepatan jatuh heli. Terakhir, ketika telah mencapai ketinggian 3 kaki baru penerbang harus mendaratkan heli dengan pelan dan stabil.    Tahap ini dilakukan berulang-ulang kali.

Di tahap awal pendidikan, para penerbang benar-benar diajarkan secara konstan untuk menguasai instrument, menghafal diluar kepala semua data penting, selalu menyadari tingkat ketinggian heli, menguasai jalur di daratan, arah angin, dan lain-lain. Sebagai tambahan, mereka juga harus menguasai masalah kegagalan mesin baik saat take off maupun saat hover, masalah kebakaran di mesin, kegagalan putaran rotor, dan lainnya secara berulang-ulang hingga dikuasai.

Selama dua minggu para penerbang mengakumulasi jumlah jam terbang solo. Jika siap terbang solo mereka akan mendapat arah tujuan terbang dan memutari tower bandara sebanyak tiga kali. Penerbang yang menyelesaikan terbang solo-nya akan kembali ke base setelah sebelumnya mampir di Mineral Wells Holliday Inn dimana setiba disana mereka akan dilempar ke kolam renang lengkap dengan pakaian terbangnya.

Selesai tahap pertama, mereka akan mengikuti materi pedidikan yang semakin sulit termasuk terbang malam. Mereka harus bisa terbang solo di malam hari, menangani masalah darurat penerbangan malam, terbang jauh melintasi beberapa negara bagian dimana akan semakin melatih kemampuan navigasi. Selama terbang solo ini mereka akan beberapa kali mengisi ulang bahan bakar di beberapa tempat. Mereka juga akan belajar mendarat di tempat-tempat dengan tingkat kesulitan tinggi seperti daerah perbukitan dan landasan sempit yang tidak sempurna. Semua area latihan akan ditandai dengan warna. Putih=mudah, kuning=sulit, dan merah=sangat sulit dan berbahaya. Semua usaha mereka akan dicatat dan akan selalu di evaluasi. Kapan saja mereka bisa gagal dan dikeluarkan bahkan karena masalah kepribadian.

Membosankan? Dengan tingkat kesulitan dan tenggat waktu belajar yang harus cepat demi memenuhi kebutuhan akan pilot heli di Vietnam, jelas para penerbang akan mengalami kejenuhan dan stres. Namun waktu berlibur tetap mereka dapatkan. Setelah dua bulan belajar tanpa libur, mereka akan mendapat kebebasan untuk melepas penat di akhir pekan. Fasilitas hiburan tersedia beragam di pos mereka. Namun, sebagai umumnya anak muda mereka akan memilih untuk pergi keluar areal pendidikan. Sebagian kecil memiliki mobil, dan selebihnya menggunakan taxi atau bus yang jauh lebih murah. Sepeda motor sangat dilarang. Lokasi favorit adalah didekat Mineral Wells Holiday Inn. Disana mereka akan bertemu dan berpacaran dengan mahasiswi-mahasiswi cantik dari Texas Women’s University yang berada di utara Fort Worth. Biasanya para mahasiswi ini akan berpakaian seperti para penerbang dan berpesta dengan istilah “Flight Suit Parties”. Sumber pasangan lain untuk berkencan adalah para calon pramugari dari American Airlines Stewardess College.

Durasi 20 minggu pendidikan tahap awal bisa cepat selesai dan menuntut kerja keras dan belajar yang keras juga. Yang mengejutkan, pendidikan ini juga memiliki unsur bahaya yang tinggi. Dari 12 orang murid, enam di antaranya mengalami kecelakaan yang bisa berakhir kematian. Sebagian kecil lainnya mengalami luka serius. Perayaan kelulusan hanya dilakukan sederhana pada gedung theater kecil di pos mereka. Setelah mendapakan sertifikat kelulusan, mereka akan dikirim ke Fort Rucker atau Fort Stewart, untuk melanjutkan pendidikan tingkat mahir.

Ilustrasi pakaian terbang warna Sage Green K-2B untuk latihan. Tengah bersiap menerbangkan Hughes TH-SSA Osage. Disebelah kiri (1) adalah murid yang telah menyelesaikan terbang solonya, bisa dilihat dari jenis topi yang dikenakan dengan wing solo tidak resmi. Disebelahnya (2) adalah instruktur yang juga pernah bertugas di Vietnam. Patch 1st Cavalry Division sebagai kesatuan asalnya tampak dikenakan di tas helm berdampingan dengan patch Texas national Guard’s 49th Armored Division’s aviation company. Warna helm yang dikenakan biasanya putih. Namun, pelatih seringkali mengenakan helm hijau yang pernah mereka kenakan saat bertugas di langit Vietnam. Ilustrasi : Steve Noon.

SEKOLAH PENERBANG LANJUTAN (MAHIR)

Fort Ruckers , terkadang diplesetkan penerbang menjadi “Mother Rucker”, bertempat di selatan Alabama, dekat kota Ozark. Dibuka pada tahun 1942 untuk tempat pendidikan pasukan infantri dan ditutup pada tahun 1946. Dibuka kembali tahun 1950 dan menjadi sekolah Army Aviation School di tahun 1954. Berubah nama menjadi Fort Rucker pada Oktober 1955 dan menjadi sekolah tingkat mahir atau lanjutan (Advanced Flight School). Selain Fort Ruckers, para penerbang bisa melanjutkan pendidikan mereka ke Fort Steward di dekat pesisir Georgia. Para Door Gunner juga belajar disana.
Fase pertama berlangsung selama 4 minggu dengan heli TH-13T, TH-55A dan pelatih sipil. Fase kedua adalah kontak, diselenggarakan oleh Contact Training Division di Knox Army Heliport menggunakan keluarga Huey UH-1B, C, dan D. Semua instrukturnya dari militer. Materi meliputi take off dan landing menggunakan beban berat, Autorotation dengan beragam situasi darurat, pendekatan normal, pola lalu-lintas udara, perencanaan terbang lintas negara, faktor pergeseran akibat angin, dan perencanaan konsumsi bahan bakar.

Instruktur memberikan masukan kepada penerbang setelah melakukan latihan tahap awal menggunakan TH-55A. saran yang diberikan biasanya membangun kecuali jika penerbang melakukan penerbangan yang berbahaya.

Fase ketiga adalah taktik, diselenggarakan oleh Department of Tactics di Lowe Army Airfield menggunakan Huey. Pada tahap ini, aroma medan tempur Vietnam sudah mulai terasa. Latihan sudah mulai masuk materi pengiriman pasukan, terbang serendah mungkin hingga mendekati pepohonan, terbang malam dengan kondisi taktis, formasi terbang taktis, rute terbang pengintaian, dan survei radio lapangan. Sebagian kecil materi pelatihan kadang tidak berlaku di medan Vietnam karena peruntukan awalnya adalah buat perang nuklir. Pilot juga belajar materi melarikan diri setelah jatuh dan tertangkap. Semua tempat latihan dibuat semirip mungkin dengan kondisi sebenarnya di Vietnam. Terbang malam yang dilakukan lebih sulit karena hanya mengandalkan cahaya dari daratan untuk bernavigasi.

Di akhir tahap ini banyak kandidat yang gagal melebihi jumlah di Fort Wolter. Setelah menyelesaikan 200 hingga 220 jam terbang, mereka lulus dan berhak mengenakan wing emas “squashed bugs” di seragam mereka, wing perak, dan serifikat. Penerbang mengikuti upacara kelulusan mereka pada malam hari dan esoknya melakukan terbang massal yang sangat ditakuti pengatur lalu-lintas udara. Selanjutnya mereka akan menerima penugasan ke palagan Vietnam. Hingga tahun 1973 telah lulus 40.000 penerbang. Sedangkan puncak kelulusan pada tahun 1967 akibat meningkatnya kebutuhan hingga melahirkan 600 penerbang tiap bulannya. Lagu “Ballad of the Green Berets” karangan Staff Sergeant Barry Sadler’s memiliki versi para penerbang :

Silver wings upon my chest,
I fly my ship above the best.
But I can't wear no Green Beret,
I can make more dough that way.

Bersambung. . .
Sumber  : KLIK DISINI

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar