Sabtu, 09 Juni 2012

PERNYATAAN SUKMAWATI SOEKARNOPUTRI









































"Tiada maaf bagi Soeharto," kata Sukmawati Soekarnoputri, salah seorang anak almarhum Ir Soekarno, Proklamator dan Presiden ke-1 RI. Ia menyatakan itu dalam wawancara khusus dengan Trans TV menjelang pemakaman Pak Harto, Senin (28/1/2008) pagi.

Meski begitu, Sukma membantah jika disebut dirinya punya dendam terhadap Pak Harto, jenderal yang menumbangkan almarhum ayahnya dari kursi kepresidenanan.
"Biarlah Tuhan yang memberikan keadilan," kata Sukma. "Tapi," lanjutnya, "jangan paksa kami memberikan maaf kepada Soeharto."
Sukma mengingatkan, tidak adil kalau Pak Harto dibukakan pintu maaf sementara yang bersangkutan tidak pernah meminta maaf kepada rakyat Indonesia. Padahal, katanya, orang yang menjadi korban Pak Harto sewaktu berkuasa masih banyak yang hidup. Tanyailah mereka.

Di mata anggota keluarga Bung Karno, almarhum Pak Harto tidak pantas disebut sebagai pahlawan. Seperti diutarakan Sukma, Pak Harto lebih pantas disebut sebagai pengkhianat.
Sukma mengaku, tidak semua anggota keluarga Bung Karno memiliki pandangan yang sama terhadap Pak Harto. Tapi, bagi Sukma pribadi, Pak Harto tetap tidak pantas diberi gelar sebagai pahlawan.
Salah satu alasan yang disebut Sukma, Pak Harto semasa memimpin Indonesia justru 'membunuh' rakyatnya.



Diah Mutiara Sukmawati Sukarnoputri 
(lahir di Jakarta, 26 Oktober 1951)
Sukma, agaknya, masih menyimpan memori pahit tentang perlakuan yang diterima ayahnya. Terutama saat-saat Bung Karno, ayahnya menderita sakit, menjelang ajal.
Menurut Sukma, salah satu yang membedakannya adalah fasilitas yang diberikan negara atau pemerintah. Saat Bung Karno sakit dan dirawat di rumah, bukan hanya fasilitas medis yang tidak memadai, tim medis dan dokter yang merawatnya pun tidak bisa disebut sebagai dokter ahli.
Salah seorang yang ditugaskan merawat Bung Karno, menurut Sukma, berstatus dokter hewan!
Bandingkan dengan tim dokter yang merawat Pak Harto. Tim medis yang merawatnya, seperti terungkap dalam wawancara Metro TV pada tayangan Minggu (27/1/2008) malam, berjumlah 40 orang dengan status Tim Dokter Kepresidenan.

Pemakaman Pak Harto dengan upacara kebesaran, Senin (28/1/2008) siang, dipimpin langsung Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono.
Saat pemakaman Bung Karno, Pak Harto selaku Presiden RI ketika itu tidak hadir. Perbedaan perlakuan itu mengusik ingatan Sukma.Masih lekat pula dalam ingatan Sukma, pada prosesi pemakaman ayahnya ketika itu hanya Menhankam Pangab Jenderal Maraden Panggabean yang hadir."Lihat pula makam Soeharto di Giribangun. Huh, betapa mewahnya. Bandingkan dengan makam Bung Karno di Blitar," ujar Sukma.

Masih soal pemakaman, Sukma bersikeras, Pak Harto secara sengaja telah melawan keinginan Bung Karno terkait tempat di mana seharusnya sang ayah dimamakamkan.
"Pesan Bung Karno, beliau ingin dimakamkan di Bogor, Jawa Barat. Dan, kami keluarga sudah menyampaikannya kepada Soeharto. Tapi, tetap tidak dikabulkan," kata Sukma.Sukma kemudian membandingkan Pak Harto yang dimakamkan berdampingan dengan istrinya, almarhumah Ny.Tien Soeharto. Sementara ibunda Sukma, Fatmawati, dimakamkan di Karet Bivak, Jakarta.Bung Karno memang punya beberapa istri dan tinggal Ratna Sari Dewi Soekarno yang masih hidup. Fatmawati, Hartini, Bu Inggit, Haryati, tercatat sebagai wanita-wanita yang diakui Bung Karno sebagai istrinya."Bapak memang punya beberapa istri. Tapi, apakah sulit menguburkan Bapak, lalu di sampingnya juga dikuburkan para istrinya?" cetus Sukma.

Tidak dendam
Lestari, mantan anggota Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) menegaskan, sebagai manusia ia sudah memaafkan perlakuan rezim Pak Harto kepadanya.
"Mendendam tidak akan menyelesaikan persoalan. Tapi, siapapun rezim yang berkuasa, harus menegakkan keadilan," kata Lestari dalam acara Soeharto, Akhir Perjalanan yang ditayangkan Trans TV, Senin (28/1/2008).
Secara tersirat, Lestari menuntut nama baik Gerwani dipulihkan untuk menjaga asas keadilan. Pemulihan itu hanya mungkin terjadi bila ada kepastian hukum. Dan, kepastian hukum itulah yang belum pernah ada.Gerwani adalah organisasi massa Partai Komunis Indonesia (PKI). Gerwani disebut-sebut ormas PKI tersadis. Dalam sejarah dan film yang dibuat di era Orde Baru, Gerwani antara lain dituduh memotong kemaluan para jenderal sebelum dikubur di Lubang Buaya, Jakarta Timur.Lubang Buaya menjadi salah satu situs tempat ritual peringatan Kesaktian Pancasila setiap 1 Oktober.
Dalam acara televisi itu, Lestari membantah tudingan ke Gerwani. PKI sendiri dituduh sebagai dalang pembunuhan sejumlah jenderal pada 30 September 1965, selain ingin merebut kekuasaan.
Sejak Pak Harto menjadi Pejabat Presiden pada 11 Maret 1966, PKI dinyatakan sebagai organisasi politik terlarang. Anggota Gerwani seperti Lestari termasuk salah satu korban rezim Pak Harto.

Sumber : http://soekarnonkri.blogspot.com/2012/03/pernyataan-sukmawati-soekarnoputri.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar