Sabtu, 09 Juni 2012

SKENARIO TUMBANGNYA SOEKARNO


Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) akan tetap menjadi sebuah misteri. Sebab, Pak Harto sebagai orang terakhir yang tahu soal itu sudah mangkat. Tak ada lagi pihak yang bisa memastikan kebenaran dokumen Supersemar, termasuk isinya.

Supersemar, tulis sejarah Orde Baru, diberikan Presiden Soekarno kepada tiga jenderal: Soeharto, Andi M. Jusuf, Basuki Rachmat, dan Amir Machmoed. Ketiga jenderal ini datang menemui Bung Karno di Istana Bogor, beberapa bulan setelah peristiwa G.30.S/PKI. Inti isi Supersemar, Bung Karno menyerahkan kekuasaan pemerintahan RI kepada Jenderal Soeharto.
Supersemar kemudian menjadi 'produk hukum' yang sah, bahkan mengantarkan Pak Harto sebagai salah satu presiden terlama di dunia, 32 tahun (1966-1998).
Basuki Rachmat dan Amir Machmoed, dua-duanya pernah menjadi Menteri Dalam Negeri (Mendagri) dalam Kabinet Soeharto. Andi M.Jusuf, selain Menteri Perindustrian, juga Panglima Angkatan Bersenjata (Pangab) dan Ketua Bepeka (Badan Pemeriksa Keuangan). Basuki Rachmat wafat lebih dulu, disusul Amir Machmoed, dan Andi M.Jusuf.
Ahli sejarah Anwar Gonggong yang pernah mempersoalkan keabsahan Supersemar, Senin (28/1/2008) pagi kepada salah satu stasiun televisi mengatakan, "Yang tahu apa isi Supersemar itu hanya Pak Harto."Mungkin juga maksudnya apakah Supersemar itu memang ada atau tidak, hanya Pak Harto yang tahu. Sebab, setelah Pak Harto lengser, pernah juga disebut dokumen itu 'hilang'.
SUPERSEMAR YANG DIRAGUKAN KEABSAHAN NYA
Bung Karno dibunuh?


Sekalipun Bung Karno telah wafat lebih dari 30 tahun, kematiannya tetap memunculkan kontroversi.Dewi Soekarno, wanita keturunan Jepang dan istri termuda Bung Karno, secara eksplisit, menyebut suaminya meninggal secara tidak normal (diracun). 
Dan, secara implisit, ia menuding Pak Harto sebagai pembunuh melalui kaki tangannya.Mengapa Bung Karno dibunuh?...

Setelah Pak Harto menjadi Presiden/Mandataris MPRS (Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara), kekuasaannya memerlukan legitimasi. Jalurnya melalui Pemilu 1971.Tapi, Pemilu 1971 itu menjadi inkonstitusional selama Indonesia memiliki dua presiden: de jure (Bung Karno) dan de facto (Pak Harto). Jadi, salah satunya harus disingkirkan. Bung Karno meninggal atau tersingkir secara permanen pada 1970.Tudingan Dewi dimuat tabloid Detak yang dikelola Eros Djarot di akhir 1980-an. Eros dikenal sebagai salah seorang pendukung Bung Karno.Belakangan, Eros mengkritik cara media-media di Indonesia memberitakan kematian Pak Harto. Kesan Eros, beberapa media berusaha menutupi sisi gelap masa lalu Pak Harto. Senin (28/1) siang, saat dikonfirmasi kembali tentang wawancara Dewi itu, Eros membenarkannya.Dalam wawancara itu, Dewi antara lain menyebut Nichlany dan dokter Mahar Mardjono. Nichlany yang sebelum tutup usia menjabat Dirjen Imigrasi, menurut Dewi, menjemput Bung Karno dari rumah tempat ia ditahan di Wisma Yaso (sekarang Museum ABRI) di Jl Gatot Subroto, Jakarta. Ia ditemani dokter Mahar yang sebelum berpulang menjabat Rektor Universitas Indonesia.Bung Karno saat dijemput Nichlany dan Mahar, kata Dewi, sempat berteriak-teriak. "Saya tidak sakit! Saya tidak mau dibawa ke rumah sakit!" kata Dewi menirukan teriakan Bung Karno.Tentang tudingan Bung Karno diracun, Dewi menyimpulkan setelah melihat jenasah suaminya. Dewi yang saat Bung Karno meninggal menetap di Paris, terbang ke Jakarta ditemani seorang wartawan Jepang.Sebelum ke Jakarta, Dewi meminta masukan dari para dokter (ahli) di Paris tentang bagaimana cara mengindentifikasi mayat yang meninggal secara normal dan abnormal. Dewi yakin Bung Karno dibunuh dengan racun.

Buku The Indonesian Tragedy tercatat sebagai salah satu penerbitan asing yang membuka borok-borok Pak Harto. Akibatnya, buku karya wartawan Brian May itu selama 30 tahun dilarang beredar di Indonesia.Apa yang diungkapkan wartawan Amerika yang pernah menjadi koresponden AFP (Agence France Press) di Jakarta itu cukup kontroversial. Setidaknya sebagai pembanding terhadap fakta sejarah tentang peristiwa kejatuhan Bung Karno.
Jika buku-buku sejarah yang ditulis di era Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Brigjen Nugroho Notosusanto mengedepankan peran-peran positif Pak Harto, wartawan Barat itu seperti membalikkannya.
Tentang keterlibatan Bung Karno, May membantahnya. Menurutnya, saat PKI melakukan kudeta (gagal) pada 1965, Bung Karno sudah berstatus presiden seumur hidup. Jadi, untuk apa Bung Karno mendukung gerakan yang akan menumbangkan kekuasaannya?
Tuduhan bahwa Bung Karno terlibat G.30.S/PKI muncul gara-gara Bung Karno tidak mengutuk peristiwa yang telah menyebabkan tewasnya tujuh jenderal Angkatan Darat (AD). Bung Karno dikutip mengatakan, ".... peristiwa itu ibarat riak-riak kecil dalam gelombang revoulsi..."
Menurut May, pernyataan Bung Karno perlu dibaca dalam konteks statusnya sebagai pemimpin yang pernah mengalami suka duka dan perjuangan panjang. Bung Karno pernah lolos dari berbagai usaha pembunuhan.
Bung Karno lolos dari sergapan Zulkifli Lubis dalam peristiwa Cikinikifli Lubis dan dari tembakan pesawat Mustang oleh penerbang Maukar dari AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia). Lalu, ancaman Letkol AH Nasution yang menggelar pasukan dan panser di depan Istana Merdeka.
Lubis, Maukar, dan Nasution, semuanya dimaafkan Bung Karno. Mengapa?...
Karena Bung Karno seorang pemimpin yang pemaaf. Kesimpulannya, Bung Karno tidak punya salah hanya karena tidak mau mengutuk G 30 S/PKI.

Letkol Untung yang disebut sebagai otak pelaku kudeta pun dibedahnya. Dikatakan, perwira pertama TNI AD itu adalah anak angkat Soeharto. Sebagai bukti, saat Letkol Untung menikah di Yogyakarta, yang menjadi saksi adalah Jenderal Soeharto sendiri.
May lantas bertanya jika Untung benar-benar tokoh di balik pemberontakan, mengapa ia langsung dieksekusi oleh rezim Pak Harto?... Mengapa tidak dibiarkan hidup untuk keperluan interogasi?...
The Indonesian Tragedy tidak percaya dengan tudingan bahwa PKI ingin berkuasa melalui kudeta. Situasi dan kondisi Indonesia pada 1965 untuk menjadi negara komunis disamakannya dengan buah di pohon yang sudah siap dipetik.
Di samping kehidupan ekonomi masyarakat sangat memprihatinkan, keadaan yang krusial cocok dengan kampanye PKI. Kekuatan PKI di parlemen dan kabinet sudah demikian kokoh.
Tokoh-tokoh PKI seperti DN Aidit, Nyoto, dan Nyono yang dikategorikannya sebagai kader komunis pintar, lebih suka merebut kekuasaan melalui konstitusi ketimbang kudeta.
PKI merupakan kekuatan terbesar di parlemen setelah PNI (Partai Nasional Indonesia). Di kabinet Bung Karno, sejumlah politisinya juga menjadi menteri. PKI juga memiliki angkatan ke-5 yang dipersenjatai, yang terdiri atas Pemuda Rakyat dan Gerwani.
PKI jelas ingin memperbaiki citranya sebagai tukang kudeta. Sebab, pada 1948, Muso selaku pimpinan PKI waktu itu, melakukan kudeta (gagal) terhadap Bung Karno.
Sejalan dengan buku The Indonesian Tragedy, Oei Tjoe Tat sebagai salah seorang anggota Kabinet Soekarno juga menulis memoarnya. Oei menjadi tahanan politik selama Pak Harto berkuasa.
Tak lama setelah keluar dari penjara, dalam salah satu bab bukunya, Oei terang-terangan menuding Jenderal Soeharto sebagai otak dari peristiwa G 30 S/PKI. Dari semua jenderal yang dibunuh, hanya Jenderal Ahmad Yani (Menteri Panglima Angkatan Darat) yang punya posisi penting. Jenderal lainnya, yang juga diberi gelar Pahlawan Revolusi, tidak punya posisi penting.
"Kalau PKI mau bunuh jenderal, yang paling pantas mereka bunuh justru Pangkostrad Jenderal Soeharto," tulis Oei. Tak lama setelah bukunya terbit, Oei Tjoe Tat meningggal dunia.

Sumber :
http://soekarnonkri.blogspot.com/2012/03/skenario-tumbangnya-soekarno.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar